Pengguna jejaring sosial Facebook bagaikan jamur di musim hujan. Berbagai kalangan, tua muda memanfaatkan facebook dengan berbagai kepentingan. Bahkan ada yang menjadikan facebook sebagai media kampaye politik.
Mark Zuckerberg, si jenius dari Harvard University sepertinya boleh berbangga dengan karya situs pertemanan garapannya. Sejak dilaunching tahun 2004, tepatnya 4 Februari, jejaring sosial pertemanan miliknya ini mampu membuat para penggunanya kesemsem. Di bulan April 2009, tiga bulan setelah perayaan hari jadinya yang kelima, tercatat situs jejaring ciptaannya itu berhasil menggaet 200 juta anggota di seluruh dunia.
Di Indonesia, walau masih terbilang baru, situs social network ini sangat diminati. Menurut situs statistik Alexa.com, facebook merupakan situs nomor 12 yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Bahkan facebook berada satu peringkat di atas detik.com, dan satu peringkat di bawah wikipedia.
Melonjaknya minat pengguna facebook, salah satunya dikarenakan fitur dari aplikasi ini sangat mudah dioperasikan oleh penggunanya. Facebook memiliki fitur-fitur tambahan yang menarik seperti layanan chatting, fasilitas groups, fans, bahkan game online.
Bila dilihat tampilan, facebook memiliki tampilan yang lebih formil dibandingan situs jejaring pertemanan lainnya seperti friendster. Selain itu, dibandingkan dengan friendster, facebook relatif bersih dari iklan yang menempel. Agaknya tidak heran bila facebook dijadikan pilihan bagi yang ingin merajut jaringan pertemanan.
Facebook dijadikan Media Kampaye
Fenomena facebook sebagai situs jejaring sosial yang handal dalam penjaringan pertemanan membuat para politisi memanfaatkannya sebagai media kampaye. Entah terinspirasi dengan suksesnya Obama menjadi presiden Amerika Serikat, pemanfaatan teknologi atau dunia maya lewat facebook menjadi pilihan jitu oleh para sebagian para politisi. Tentu saja dengan niat untuk menyuarakan gagasan dan menggalang dukungan bagi partai yang diusungnya.
Di Indonesia, para politisi partai, baik nasional maupun daerah banyak yang memanfaatkan facebook sebagai media kampayenya. Bahkan, menurut sumber the global review, beberapa politisi muda partai menyiapkan tim khusus dalam mengelola facebook mereka. ”Ada karena alasan kesibukan sampai tidak familiarnya dengan teknologi, para politisi itu menggunakan tim khusus,” kata sumber The Global Review.
Fenomena lainnya, facebook juga dijadikan ajang black campaign oleh segelintir orang dalam dukung mendukung calon presiden Republik Indonesia mendatang. Penulis melalui jaringannya di facebook, Senin (6/4/2009) mendapati grup akun yang beridentitas ”Say No to Prabowo” dan “Say No to Megawati”. Kedua grup akun ini tidak mencantumkan profilnya pembuatnya. Bahkan, akun anti Prabowo, profil partainya diplesetkan menjadi Partai GERANHA (Gerakan Anteknya Harto).
Efektif atau tidaknya facebook dijadikan media kampaye oleh para politisi partai tentu sulit dibuktikan. Pasalnya, mungkin pengguna situs facebook terbatas kalangan tertentu saja. Namun setidaknya, situs jejaring sosial ini meniadi media gratis dibandingkan media lainnya seperti brosur, spanduk dan baliho yang membuat kesemrawutan di jalan-jalan umum.
Selain itu pilihan memanfaatkan facebook, karena interaksi komunikasi yang terjadi terjalin dua arah dengan audiennya. Layaknya kampaye, melalui faceboook selain dapat menyampaikan gagasan politiknya, juga dapat memperoleh masukan dan kritikan dari audiennya.
Agaknya menjelang pemilihan presiden mendatang, facebook masih menjadi primadona sebagai media penggalangan dukungan calon presiden mendatang. Kita tunggu saja!
rusman
Telah terpublikasi di www.theglobal-review.com
Selasa, 28 April 2009
Rabu, 18 Februari 2009
Malam di Belantara Kamojang
Ketika suara alam terdengar dimalam ini
Kelesuhan dan kejenuhanpun hilang tak berbekas
Jiwa dan raga melayang menikmati suasana malam yang hening
Kucoba membagi rasa pada bukit dan tebing
Yang ada hanya angin sepoi-sepoi
Terasa kenikmatan yang mengoda
Kesegaran anginpun menepisku dari khayalan
Malam yang sunyi memberiku kedamaian
Ku mau semuanya ini berlanjut pada hari esok
Biarkan harapan yang tak tercapai di hari lalu musnah tak berbekas
Kelesuhan dan kejenuhan hari lalu adalah air mata kehidupan
Yang menepis dari kesadaran jiwa yang kosong
Kamojang, 8 maret 1996
Kelesuhan dan kejenuhanpun hilang tak berbekas
Jiwa dan raga melayang menikmati suasana malam yang hening
Kucoba membagi rasa pada bukit dan tebing
Yang ada hanya angin sepoi-sepoi
Terasa kenikmatan yang mengoda
Kesegaran anginpun menepisku dari khayalan
Malam yang sunyi memberiku kedamaian
Ku mau semuanya ini berlanjut pada hari esok
Biarkan harapan yang tak tercapai di hari lalu musnah tak berbekas
Kelesuhan dan kejenuhan hari lalu adalah air mata kehidupan
Yang menepis dari kesadaran jiwa yang kosong
Kamojang, 8 maret 1996
Kesadaran dari Sebuah Mimpi
Wahai makhluk dalam gelap siapa kamu?
Kenapa aku kau bawa dalam lorong gelap
Sesaat kuturuti maumu
Jiwaku berontak..
Ragaku terima nafsumu
Namun rohku tak mengikuti
Kubertanya pada cahaya
Cahaya berikan damainya
Gelappun lenyap tak berbekas
Berubah menjadi suara tak berdering
Aku takut menatap dan mendengar
Tiba-tiba suara kedamaian menyapa ragaku
Akupun terjaga terseok-seok
Kemana gelap itu
Dan siapa pula makhluk dalam gelap itu
Berucap tidak mengeluspun tidak
Pergi dan berlalu begitu saja
Juli di tahun 1995
Kenapa aku kau bawa dalam lorong gelap
Sesaat kuturuti maumu
Jiwaku berontak..
Ragaku terima nafsumu
Namun rohku tak mengikuti
Kubertanya pada cahaya
Cahaya berikan damainya
Gelappun lenyap tak berbekas
Berubah menjadi suara tak berdering
Aku takut menatap dan mendengar
Tiba-tiba suara kedamaian menyapa ragaku
Akupun terjaga terseok-seok
Kemana gelap itu
Dan siapa pula makhluk dalam gelap itu
Berucap tidak mengeluspun tidak
Pergi dan berlalu begitu saja
Juli di tahun 1995
Selasa, 17 Februari 2009
Menulis Meringankan Stress
Menulis ternyata bisa meringankan stress. "Ketika Anda menuangkan perasaan Anda ke dalam kata-kata, Anda mengaktifkan bagian yang sama dalam otak yang berhubungan dengan kontrol diri," ujar Matthew Lieberman dari Universitas California, AS.
Lieberman dan timnya mengamati aktivitas otak subjek penelitian saat diperlihatkan gambar-gambar yang membangkitkan emosi dengan menggunakan alat pencitraan resonasi magnetik fungsional (FMRI). Partisipan studi diminta menyentuh tombol yang sesuai dengan kata yang mewakili perasaan itu.
Ketika partisipan menuliskan perasaan mereka, penelitia mencatat adanya peningkatan aktifitas otak di daerah ventrolateral prefrontal cortex, bagian otak yang berfungsi mengurangi perasaan negatif. Di saat yang sama, terjadi penurunan aktifitas di amygdala, mesin otak yang bertanggung jawab dalam memproses perasaan mengenai hubungan dan emosi seperti ketakutan, amarah dan agresivitas.
***
disadur dari Media Indonesia, Selasa, 17 Februari 2009
Lieberman dan timnya mengamati aktivitas otak subjek penelitian saat diperlihatkan gambar-gambar yang membangkitkan emosi dengan menggunakan alat pencitraan resonasi magnetik fungsional (FMRI). Partisipan studi diminta menyentuh tombol yang sesuai dengan kata yang mewakili perasaan itu.
Ketika partisipan menuliskan perasaan mereka, penelitia mencatat adanya peningkatan aktifitas otak di daerah ventrolateral prefrontal cortex, bagian otak yang berfungsi mengurangi perasaan negatif. Di saat yang sama, terjadi penurunan aktifitas di amygdala, mesin otak yang bertanggung jawab dalam memproses perasaan mengenai hubungan dan emosi seperti ketakutan, amarah dan agresivitas.
***
disadur dari Media Indonesia, Selasa, 17 Februari 2009
Senin, 02 Februari 2009
Sistem Persuratan Elektronik Mempermudah Kinerja Sekwan
Kegiatan administrasi perkantoran termasuk didalamnya pengelolaan surat menyurat secara manual telah berlangsung lama. Sistem pengelolaan surat menyurat secara manual ini masih banyak digunakan baik oleh institusi pemerintahan maupun swasta. Bagi institusi besar seperti Sekretariat Dewan, migrasi dari pengelolaaan secara manual ke sistem persuratan secara eleketronik agaknya menjadi pilihan yang bijak.
Dalam rutinitas kegiatannya, terkadang sekretariat dewan kerap mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakan didalam pengelolaan surat menyurat. Misalnya saja, karena pengelolaan kearsipan surat yang tidak baik, kerapkali kesulitan mendapatkan arsip surat yang telah “berumur”. Tentu saja untuk mendapatkan arsip surat tersebut membutuhkan waktu dalam mencarinya. Ini berarti efektifitas dan efisiensi dalam pencarian surat yang dibutuhkan menjadi catatan tersendiri bagi sekretaris dewan.
Pengalaman tersebut dapat dimaklumi. Pasalnya, Sekretariat Dewan atau Sekwan merupakan instansi besar dan paling komplek, baik dari sisi banyaknya kegiatan administrasi, besarnya volume data, besarnya tanggung jawab yang diemban serta aktifitasnya yang cukup dinamis. Guna menunjang kegiatannya, Sekwan perlu memanfaatkan teknologi komputer untuk memperlancar dan mempercepat aktifitas, memudahkan pengawasan, efisiensi tempat dan keamanan data.
Bila kegiatan administrasi perkantoran di Sekwan tidak terkomputerisasi dan tidak terintegrasi, maka banyak kendala yang dialami, diantaranya: 1) pekerjaan menjadi lambat, 2) banyak informasi yang hilang atau tidak tersimpan, 3) terjadi agenda kegiatan yang bersamaan atau overlapping 4) Satu pekerjaan dikerjakan oleh banyak pegawai atau sebaliknya, 5) besarnya jumlah organisasi yang dibutuhkan, serta 6) banyak dokumen yang harus dicetak.
--------
Konsultan IT K-NU Technology
tulisan telah dipublikasi di majalah Mimbar ASDEKSI*, Vol. 1, No. 5, November 2008- Januari 2009
*ASDEKSI (Assosiasi Sekretaris DPRD Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia)
Dalam rutinitas kegiatannya, terkadang sekretariat dewan kerap mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakan didalam pengelolaan surat menyurat. Misalnya saja, karena pengelolaan kearsipan surat yang tidak baik, kerapkali kesulitan mendapatkan arsip surat yang telah “berumur”. Tentu saja untuk mendapatkan arsip surat tersebut membutuhkan waktu dalam mencarinya. Ini berarti efektifitas dan efisiensi dalam pencarian surat yang dibutuhkan menjadi catatan tersendiri bagi sekretaris dewan.
Pengalaman tersebut dapat dimaklumi. Pasalnya, Sekretariat Dewan atau Sekwan merupakan instansi besar dan paling komplek, baik dari sisi banyaknya kegiatan administrasi, besarnya volume data, besarnya tanggung jawab yang diemban serta aktifitasnya yang cukup dinamis. Guna menunjang kegiatannya, Sekwan perlu memanfaatkan teknologi komputer untuk memperlancar dan mempercepat aktifitas, memudahkan pengawasan, efisiensi tempat dan keamanan data.
Bila kegiatan administrasi perkantoran di Sekwan tidak terkomputerisasi dan tidak terintegrasi, maka banyak kendala yang dialami, diantaranya: 1) pekerjaan menjadi lambat, 2) banyak informasi yang hilang atau tidak tersimpan, 3) terjadi agenda kegiatan yang bersamaan atau overlapping 4) Satu pekerjaan dikerjakan oleh banyak pegawai atau sebaliknya, 5) besarnya jumlah organisasi yang dibutuhkan, serta 6) banyak dokumen yang harus dicetak.
--------
Konsultan IT K-NU Technology
tulisan telah dipublikasi di majalah Mimbar ASDEKSI*, Vol. 1, No. 5, November 2008- Januari 2009
*ASDEKSI (Assosiasi Sekretaris DPRD Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia)
Selasa, 13 Januari 2009
Kegiatan Etnobotani disekitar TNGH 2
Back to natural
Selain memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Masyarakat juga memanfaatkan tumbuhan sebagai barang konsumsi lainnya. Contoh kecil adalah di dusun Ciptarasa terdapat pengerajin alat-lat rumah tangga. Kebanyakan alat-alat rumah tersebut terbuat dari bambu (awi) dan rotan (hoe) atau campuran dari keduanya. Hihid (kipas dari bambu), nyiru (alat untuk membersihkan beras dari gabah) , ayakan (saringan) maupun asepan (tempat menanak nasi). Semua itu terbuat dari daging bagian dalam dari bambu. Sementara bagian luar dari bambu yang lebih kuat dan tahan lama dipakai untuk membuat boboko (tempat mencuci beras). Sebagai pelilit atau pengikat anyaman tersebut dipakai rotan omas. Biasanya, satu buah baboko bisa dipakai selama 3-5 tahun. Tempat sampah (bureleng), tolok dibuat dari awi tali (Gigontochloa apus Kurz), kampak (baliung) dibuat dari ki payung.
Alat-alat rumah tangga tersebut sampai saat ini masih dipakai oleh masyarakat disekitar Halimun. “Lobah, dikampung mah rata-rata pake (Banyak, disini rata-rata masih menggunakan),” kata Mugni (19) salah satu warga desa.
Pemanfaatan tumbuhan bambu dan rotan tersebut relatif dalam jumlah sedikit. Di Halimun Selatan dijumpai 18 jenis dan 18 jenis tersebut hidup secara liar di hutan (leuweung). 12 jenis diantaranya dijumpai tumbuh liar di talun, pekarangan atau ladang. Sedangkan untuk daerah Timur dijumpai 10 jenis keseluruhannya hidup liar dihutan. 6 jenis tumbuh liar diladang dan pekarangan. Dan 5 jenis sudah ditanam masyarakat sebagai sumber bahan industri kerajinan.
Pewarnaan juga menggunakan tumbuh-tumbuhan berupa getah batang manyel (jenis tumbuhan merambat). Getahnya berwarna kuning yang menjadi hitam jika dioleskan kebatang bambu. Sejak tahun 1980-an, pohon manyel sulit ditemukan sehingga digunakan zat pewarna yang berasal dari asap lampu minyak. Caranya, asap lampu minyak di tempung pada tempurung kelapa, dan warna hitam yang berkumpul pada tempurung itu dioleskan ke batang bambu dengan menggunakan jantung pisang sebagai kuas. Getah jantung pisang itu memberi pengaruh terhadap daya tahan warna. Sebuah pemanfaatan yang alami.
Peralatan rumah tangga lainnya adalah sapu halus. Sapu ini terbuat dari mulai awis atau kaso beurit (Thysanoloena maxima). Kursi dan meja terbuat dari rotan sampay dan rotan rokrok. Sayangnya, pemanfaatan rotan untuk kursi dan meja sedikit sekali. Jenis rotan selang (Daemnorops oblonggus) dan hoe pelah (Daemnorops ruber), digunakan untuk membuat tas kaneron, bubu (jaring menangkap ikan), dan kempis (tempat untuk ikan sehabis memancing). Tas kaneron yang terbuat dari hoe pelah berwarna kemerahan.
Tumbuhan-tumbuhan yang ada juga dipakai sebagai sumber pangan oleh masyarakat di sekitar TNGH. Sekitar 56 jenis ditemukan didaerah bagian timur, 72 jenis ditemukan di bagian selatan. Kebanyakan kini tumbuhan yang tumbuh liar di hutan sudah ada yang dibudidayakan. Di dusun Ciptarasa, Halimun Selatan 65 jenis digunakan sebagai sumber pangan yang sudah dibudidayakan. Sementara, di Halimun Timur 47 jenis tumbuhan yang dibudidayakan. Tumbuhan liar yang digunakan sebagai sumber pangan, dibagian Timur ditemukan 10 jenis dan diselatan di temukan 9 jenis. Jenis tumbuhan pangan ini terbagi dalam beberapa pemanfaatan yaitu sebagai sumber makanan pokok, sayuran, buah-buahan, bumbu dan minuman.
Untuk papan atau bangunan, masyarakat disekitar halimun, terutama di Halimun Selatan masih menggunakan tumbuhan dari hutan. Contohnya, orang Kesepuhan mempunyai tiga macam bangunan yaitu rumah tempat tinggal, leuit, dan satu rumah adat yang disebut imah gede. Semua bahan untuk bangunan itu didapat dari tumbuhan yang ada disekitar mereka.
Jenis kayu yang digunakan untuk membangun rumah adalah kayu manglid (untuk tiang dan pangheraut), kayu maja (untuk lembaran), kayu jenjeng (untuk galar), kayu hurumerang (untuk papan), kayu duren (untuk pananggeuy), ki bima (untuk tataban), puspa, ki bonteng, panglar. Jenis bambu yang digunakan dalam pembangunan rumah adala awi gede/ awi gombong (untuk palupuh), awi tali (untuk rurung, ereng dan usuk), awi manyan (untuk sarang dan bilik). Daun kiray digunakan sebagai atap rumah/hateup. Kayu rasamala biarpun kuat tapi dilarang dipakai untuk bahan bangunan.
rusman
Selain memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Masyarakat juga memanfaatkan tumbuhan sebagai barang konsumsi lainnya. Contoh kecil adalah di dusun Ciptarasa terdapat pengerajin alat-lat rumah tangga. Kebanyakan alat-alat rumah tersebut terbuat dari bambu (awi) dan rotan (hoe) atau campuran dari keduanya. Hihid (kipas dari bambu), nyiru (alat untuk membersihkan beras dari gabah) , ayakan (saringan) maupun asepan (tempat menanak nasi). Semua itu terbuat dari daging bagian dalam dari bambu. Sementara bagian luar dari bambu yang lebih kuat dan tahan lama dipakai untuk membuat boboko (tempat mencuci beras). Sebagai pelilit atau pengikat anyaman tersebut dipakai rotan omas. Biasanya, satu buah baboko bisa dipakai selama 3-5 tahun. Tempat sampah (bureleng), tolok dibuat dari awi tali (Gigontochloa apus Kurz), kampak (baliung) dibuat dari ki payung.
Alat-alat rumah tangga tersebut sampai saat ini masih dipakai oleh masyarakat disekitar Halimun. “Lobah, dikampung mah rata-rata pake (Banyak, disini rata-rata masih menggunakan),” kata Mugni (19) salah satu warga desa.
Pemanfaatan tumbuhan bambu dan rotan tersebut relatif dalam jumlah sedikit. Di Halimun Selatan dijumpai 18 jenis dan 18 jenis tersebut hidup secara liar di hutan (leuweung). 12 jenis diantaranya dijumpai tumbuh liar di talun, pekarangan atau ladang. Sedangkan untuk daerah Timur dijumpai 10 jenis keseluruhannya hidup liar dihutan. 6 jenis tumbuh liar diladang dan pekarangan. Dan 5 jenis sudah ditanam masyarakat sebagai sumber bahan industri kerajinan.
Pewarnaan juga menggunakan tumbuh-tumbuhan berupa getah batang manyel (jenis tumbuhan merambat). Getahnya berwarna kuning yang menjadi hitam jika dioleskan kebatang bambu. Sejak tahun 1980-an, pohon manyel sulit ditemukan sehingga digunakan zat pewarna yang berasal dari asap lampu minyak. Caranya, asap lampu minyak di tempung pada tempurung kelapa, dan warna hitam yang berkumpul pada tempurung itu dioleskan ke batang bambu dengan menggunakan jantung pisang sebagai kuas. Getah jantung pisang itu memberi pengaruh terhadap daya tahan warna. Sebuah pemanfaatan yang alami.
Peralatan rumah tangga lainnya adalah sapu halus. Sapu ini terbuat dari mulai awis atau kaso beurit (Thysanoloena maxima). Kursi dan meja terbuat dari rotan sampay dan rotan rokrok. Sayangnya, pemanfaatan rotan untuk kursi dan meja sedikit sekali. Jenis rotan selang (Daemnorops oblonggus) dan hoe pelah (Daemnorops ruber), digunakan untuk membuat tas kaneron, bubu (jaring menangkap ikan), dan kempis (tempat untuk ikan sehabis memancing). Tas kaneron yang terbuat dari hoe pelah berwarna kemerahan.
Tumbuhan-tumbuhan yang ada juga dipakai sebagai sumber pangan oleh masyarakat di sekitar TNGH. Sekitar 56 jenis ditemukan didaerah bagian timur, 72 jenis ditemukan di bagian selatan. Kebanyakan kini tumbuhan yang tumbuh liar di hutan sudah ada yang dibudidayakan. Di dusun Ciptarasa, Halimun Selatan 65 jenis digunakan sebagai sumber pangan yang sudah dibudidayakan. Sementara, di Halimun Timur 47 jenis tumbuhan yang dibudidayakan. Tumbuhan liar yang digunakan sebagai sumber pangan, dibagian Timur ditemukan 10 jenis dan diselatan di temukan 9 jenis. Jenis tumbuhan pangan ini terbagi dalam beberapa pemanfaatan yaitu sebagai sumber makanan pokok, sayuran, buah-buahan, bumbu dan minuman.
Untuk papan atau bangunan, masyarakat disekitar halimun, terutama di Halimun Selatan masih menggunakan tumbuhan dari hutan. Contohnya, orang Kesepuhan mempunyai tiga macam bangunan yaitu rumah tempat tinggal, leuit, dan satu rumah adat yang disebut imah gede. Semua bahan untuk bangunan itu didapat dari tumbuhan yang ada disekitar mereka.
Jenis kayu yang digunakan untuk membangun rumah adalah kayu manglid (untuk tiang dan pangheraut), kayu maja (untuk lembaran), kayu jenjeng (untuk galar), kayu hurumerang (untuk papan), kayu duren (untuk pananggeuy), ki bima (untuk tataban), puspa, ki bonteng, panglar. Jenis bambu yang digunakan dalam pembangunan rumah adala awi gede/ awi gombong (untuk palupuh), awi tali (untuk rurung, ereng dan usuk), awi manyan (untuk sarang dan bilik). Daun kiray digunakan sebagai atap rumah/hateup. Kayu rasamala biarpun kuat tapi dilarang dipakai untuk bahan bangunan.
rusman
Kegiatan Etnobotani disekitar TNGH 1
Etnobotani adalah sebuah kegiatan pemanfaatan tumbuhan-tumbuhan sebagai salah satu penunjang kehidupan masyarakat dalam suatu komunitas. Masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) sejak turun temurun telah mengenal pemanfaatan tumbuhan untuk kehidupan sehari-hari. Tumbuhan-tumbuhan di sekitar TNGH dijadikan sebagai obat, makanan, dan barang-barang konsumsi lainnya. Sebuah tradisi yang patut di pertahankan.
Siapa bilang bahwa masyarakat kita tidak kreatif dan siapa sangka kekayaan yang terdapat hutan belantara tidak bisa dimanfaatkan? Lihatlah apa dilakukan oleh masyarakat di disekitar kawasan TNGH. Dibelantara hutan yang lebat itu, masyarakatnya masih suka memanfaatkan tumbuhan disekitar untuk dijadikan obat, makanan dan barang-barang konsumsi lainnya.
Berawal dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah LSM disekitar tahun 1993. LSM itu bernama Biological Science Club (BScC). BScC telah melakukan inventarisasi jenis tumbuhan yang ada di kawasan TNGH. Dari hasil inventarisasinya itu di jumpai 366 jenis tumbuhan yang terdiri dari 244 marga dan 90 suku. Jenis tumbuhan sejumlah itu dapat dijumpai, baik di hutan-hutan maupun di sekitar pemukiman penduduk. Menariknya, keragamanan jenis tumbuhan itu menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat setempat sebagai barang yang berguna.
Pertama, misalnya soal obat-obatan. Cara pengobatan tradisional masih melekat dimasyarakat sekitar Gunung Halimun. Terutama bagi masyarakat sunda kasepuhan di Halimun Selatan. Walaupun tenaga-tenaga medis telah masuk ke desa melalui program kesehatan dan posyandu. Namun, penggunaan obat tradisional masih tetap berjalan. Obat-obatan yang mereka hasilkan dari tumbuhan kebanyakan berupa jamu-jamuan. Biasanya jamu-jamuan itu disediakan oleh dukun bersalin, yang bahasa sundanya disebut paraji bagi ibu-ibu bersalin.
Jamu-jamuan kerap dikenal sebagai jajamuan. Jajamuan itu dibuat dari tumbuhan suku Zingiberaceae yang diramu menjadi dodol jahe. Dodol jahe merupakan jenis obat tradisional yang sering dipakai oleh masyarakat untuk pemulihan kondisi kesehatan serta bermacam-macam jenis penyakit. Didalam obat tradisional ini terkandung puluhan jenis tumbuhan yang terdiri dari polong-polongan, padi-padian, biji-bijian, rimpang-rimpangan dan akar. Bagi masyarakat sunda kasepuhan jajamuan merupakan obat untuk penyakit dalam seperti kecapaian, paru-paru, panas dingin, dan sakit pinggang. Memang belum ada penelitian tentang khasiat obat tradisional tersebut. Namun, bila pemakaian obat tradisional ini masih melekat, berarti khasiat dari obat tersebut memang ampuh.
Menurut para orang tua untuk membuat obat tradisional semacam ini, digunakan sekitar 40 jenis tumbuhan. Diantaranya, akar keras tulang, tal angin (Usnea sp), buah dan daun bengang (Nessia altissuna), daun Ki tando, arey ki koneng, daun kumis kucing, daun senggugu, daun dan akar sembung, akar kalising, koneng tinggang, koneng ageng, cikur, jahe, lempuyang, kapol, podotan landak, kulit kina, kulit kilimo, akar tangkur gunung, kingkilaban, pisitan dan lain-lain.
Khusus bagi masyarakat Sunda Kesepuhan, pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pengobatan merupakan hal yang sangat berarti. Masyarakat percaya bahwa keuntungan penggunaan obat tradisional ini disamping dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, juga obat tradisional ini tidak menimbulkan efek samping bagi sipemakai.
Tumbuhan sebagai obat-obatan tradisional merupakan tumbuhan yang diakui dan dipercaya masyarakat. Masyarakat tradisional dan modern pun hingga kini masih banyak yang menggunakan obat tradisional yang bersumber dari alam (back to Nature). Dan sebagian dari tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan obat potensial yang diduga mengandung senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai obat.
Sebagian masyarakat di Halimun sudah mengenal pengobatan kimiawi dari dokter yang mereka dapatkan di warung-warung. Namun, karena kondisi pemukiman masih jauh dari pusat pengobatan dan sarana transpotasi yang cukup sulit. Hal ini membuat masyarakat tetap mempertahankan sistem pengobatan tradisionil ini. Selain itu, masyarakat sangat percaya dengan khasiat pengobatan yang telah teruji secara turun menurun. Mereka selalu menjaga tradisi leluhur. Hal ini terucap dari Abah Anom, pemimpin adat kasepuhan. Tumbuhan obat tradisional ini merupakan kekayaan hayati yang mempunyai potensi ekonomi yang penting sebagai sumber pengobatan farmakologi dan masih diperlukan penanganan struktur genetik dan kimianya.
Salah satu kelebihan tumbuhan obat daerah tropis pada umumnya merupakan senyawa yang bersifat therapeutic, artinya dapat dipakai secara langsung oleh masyarakat dan bersifat sinergis. Selain itu, beberapa jenis tumbuhan seperti bawang putih, sambiloto, nangka walanda, sembung, gedang, sintok, bengang, kumis kucing, sirih termasuk obat yang bersifat PNT (Pratically non toxic).
Rusman
Siapa bilang bahwa masyarakat kita tidak kreatif dan siapa sangka kekayaan yang terdapat hutan belantara tidak bisa dimanfaatkan? Lihatlah apa dilakukan oleh masyarakat di disekitar kawasan TNGH. Dibelantara hutan yang lebat itu, masyarakatnya masih suka memanfaatkan tumbuhan disekitar untuk dijadikan obat, makanan dan barang-barang konsumsi lainnya.
Berawal dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah LSM disekitar tahun 1993. LSM itu bernama Biological Science Club (BScC). BScC telah melakukan inventarisasi jenis tumbuhan yang ada di kawasan TNGH. Dari hasil inventarisasinya itu di jumpai 366 jenis tumbuhan yang terdiri dari 244 marga dan 90 suku. Jenis tumbuhan sejumlah itu dapat dijumpai, baik di hutan-hutan maupun di sekitar pemukiman penduduk. Menariknya, keragamanan jenis tumbuhan itu menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat setempat sebagai barang yang berguna.
Pertama, misalnya soal obat-obatan. Cara pengobatan tradisional masih melekat dimasyarakat sekitar Gunung Halimun. Terutama bagi masyarakat sunda kasepuhan di Halimun Selatan. Walaupun tenaga-tenaga medis telah masuk ke desa melalui program kesehatan dan posyandu. Namun, penggunaan obat tradisional masih tetap berjalan. Obat-obatan yang mereka hasilkan dari tumbuhan kebanyakan berupa jamu-jamuan. Biasanya jamu-jamuan itu disediakan oleh dukun bersalin, yang bahasa sundanya disebut paraji bagi ibu-ibu bersalin.
Jamu-jamuan kerap dikenal sebagai jajamuan. Jajamuan itu dibuat dari tumbuhan suku Zingiberaceae yang diramu menjadi dodol jahe. Dodol jahe merupakan jenis obat tradisional yang sering dipakai oleh masyarakat untuk pemulihan kondisi kesehatan serta bermacam-macam jenis penyakit. Didalam obat tradisional ini terkandung puluhan jenis tumbuhan yang terdiri dari polong-polongan, padi-padian, biji-bijian, rimpang-rimpangan dan akar. Bagi masyarakat sunda kasepuhan jajamuan merupakan obat untuk penyakit dalam seperti kecapaian, paru-paru, panas dingin, dan sakit pinggang. Memang belum ada penelitian tentang khasiat obat tradisional tersebut. Namun, bila pemakaian obat tradisional ini masih melekat, berarti khasiat dari obat tersebut memang ampuh.
Menurut para orang tua untuk membuat obat tradisional semacam ini, digunakan sekitar 40 jenis tumbuhan. Diantaranya, akar keras tulang, tal angin (Usnea sp), buah dan daun bengang (Nessia altissuna), daun Ki tando, arey ki koneng, daun kumis kucing, daun senggugu, daun dan akar sembung, akar kalising, koneng tinggang, koneng ageng, cikur, jahe, lempuyang, kapol, podotan landak, kulit kina, kulit kilimo, akar tangkur gunung, kingkilaban, pisitan dan lain-lain.
Khusus bagi masyarakat Sunda Kesepuhan, pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pengobatan merupakan hal yang sangat berarti. Masyarakat percaya bahwa keuntungan penggunaan obat tradisional ini disamping dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, juga obat tradisional ini tidak menimbulkan efek samping bagi sipemakai.
Tumbuhan sebagai obat-obatan tradisional merupakan tumbuhan yang diakui dan dipercaya masyarakat. Masyarakat tradisional dan modern pun hingga kini masih banyak yang menggunakan obat tradisional yang bersumber dari alam (back to Nature). Dan sebagian dari tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan obat potensial yang diduga mengandung senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai obat.
Sebagian masyarakat di Halimun sudah mengenal pengobatan kimiawi dari dokter yang mereka dapatkan di warung-warung. Namun, karena kondisi pemukiman masih jauh dari pusat pengobatan dan sarana transpotasi yang cukup sulit. Hal ini membuat masyarakat tetap mempertahankan sistem pengobatan tradisionil ini. Selain itu, masyarakat sangat percaya dengan khasiat pengobatan yang telah teruji secara turun menurun. Mereka selalu menjaga tradisi leluhur. Hal ini terucap dari Abah Anom, pemimpin adat kasepuhan. Tumbuhan obat tradisional ini merupakan kekayaan hayati yang mempunyai potensi ekonomi yang penting sebagai sumber pengobatan farmakologi dan masih diperlukan penanganan struktur genetik dan kimianya.
Salah satu kelebihan tumbuhan obat daerah tropis pada umumnya merupakan senyawa yang bersifat therapeutic, artinya dapat dipakai secara langsung oleh masyarakat dan bersifat sinergis. Selain itu, beberapa jenis tumbuhan seperti bawang putih, sambiloto, nangka walanda, sembung, gedang, sintok, bengang, kumis kucing, sirih termasuk obat yang bersifat PNT (Pratically non toxic).
Rusman
Kamis, 11 Desember 2008
Penghitungan Cepat Sudah Saatnya!
Menyoal prokontra bisa atau tidaknya Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan akreditasi terhadap lembaga survei sesuatu yang menarik dicermati. Fenomena ini imbas dari peristiwa yang terjadi didalam pelaksanaan pilkada dibeberapa daerah. Yang paling anyar pada pelaksanaan pilkada Jatim beberapa waktu lalu, dimana lembaga survei dalam hasil surveinya memastikan pasangan Khofifah-Mudjiono sebagai pemenang. Namun, KPUD secara penghitungan manual, yang notabene penghitungan yang sah menurut UU, memenangkan Sukarwo-Saifullah Yusuf.
Terlepas dari pro kontra tersebut, penghitungan cepat saat ini sangat diperlukan untuk sebuah perhelatan pesta demokrasi. Tentu saja, penghitungan cepat yang dimaksud bukan penghitungan berdasarkan data sampling hasil pemilih seperti yang dilakukan lembaga-lembaga survei, tetapi penghitungan cepat yang berbasis data riil (riil count) dari setiap TPS-TPS.
KPU maupun KPUD sudah saatnya memanfaatkan teknologi informasi sebagai media efektif dan efisien disetiap pelaksanaan pesta demokrasi. Sehingga tujuan memberikan informasi lebih awal kepada publik terhadap hasil pelaksanaan pilkada maupun pemilu tersebut tercapai.
Sebenarnya, penghitungan cepat telah digunakan oleh beberapa KPUD didalam pelaksanaan pilkada. Pengalaman kami bersama tim misalnya, ketika berlangsung pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Tangerang pada pertengahan Januari 2008, dapat menjadi apresiasi bahwa penghitungan cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi sangat efektif dalam memberikan informasi lebih awal kepada publik. Walaupun pada akhirnya tetap saja penghitungan suara secara manual menjadi hasil akhir yang sah.
Dalam pelaksanaannya, sistem atau aplikasi penghitungan olah cepat yang dimiliki KPUD Kabupaten Tangerang ketika itu, melakukan kerjasama dengan petugas-petugas lapangan, seperti petugas PPS dan PPK. Mereka mengirimkan data peroleh suara sementara dari tingkat TPS. Pengiriman data perolehan suara sementara oleh petugas PPS maupun PPK dari tingkat TPS yang ada (sekitar +/-4.500 TPS) dilakukan dengan menggunakan teknologi Short Massage Servis (SMS) yang secara otomatis diolah oleh sistem atau aplikasi. Sehingga tidak perlu lagi dilakukan entri data di KPUD. Pemanfaatan teknologi dengan SMS ini sangat fleksibel cepat dalam pengiriman data perolehan suara dari tingkat TPS yang ada.
Penghitungan olah cepat telah dilakukan di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Taiwan, walau mungkin teknologi pengiriman peroleh suara itu tidak dengan teknologi SMS. Namun setidaknya, apa yang dilakukan didua negara ini dapat menjadi acuan bagi KPU maupun KPUD. Agaknya, metode hitung cepat berbasis data riil (riil count) sangat diperlukan agar masyarakat tidak terlalu lama menunggu hasil pilkada maupun pemilu. Semoga saja!
Rusman
http://roeshman.blogspot.com
Terlepas dari pro kontra tersebut, penghitungan cepat saat ini sangat diperlukan untuk sebuah perhelatan pesta demokrasi. Tentu saja, penghitungan cepat yang dimaksud bukan penghitungan berdasarkan data sampling hasil pemilih seperti yang dilakukan lembaga-lembaga survei, tetapi penghitungan cepat yang berbasis data riil (riil count) dari setiap TPS-TPS.
KPU maupun KPUD sudah saatnya memanfaatkan teknologi informasi sebagai media efektif dan efisien disetiap pelaksanaan pesta demokrasi. Sehingga tujuan memberikan informasi lebih awal kepada publik terhadap hasil pelaksanaan pilkada maupun pemilu tersebut tercapai.
Sebenarnya, penghitungan cepat telah digunakan oleh beberapa KPUD didalam pelaksanaan pilkada. Pengalaman kami bersama tim misalnya, ketika berlangsung pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Tangerang pada pertengahan Januari 2008, dapat menjadi apresiasi bahwa penghitungan cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi sangat efektif dalam memberikan informasi lebih awal kepada publik. Walaupun pada akhirnya tetap saja penghitungan suara secara manual menjadi hasil akhir yang sah. Dalam pelaksanaannya, sistem atau aplikasi penghitungan olah cepat yang dimiliki KPUD Kabupaten Tangerang ketika itu, melakukan kerjasama dengan petugas-petugas lapangan, seperti petugas PPS dan PPK. Mereka mengirimkan data peroleh suara sementara dari tingkat TPS. Pengiriman data perolehan suara sementara oleh petugas PPS maupun PPK dari tingkat TPS yang ada (sekitar +/-4.500 TPS) dilakukan dengan menggunakan teknologi Short Massage Servis (SMS) yang secara otomatis diolah oleh sistem atau aplikasi. Sehingga tidak perlu lagi dilakukan entri data di KPUD. Pemanfaatan teknologi dengan SMS ini sangat fleksibel cepat dalam pengiriman data perolehan suara dari tingkat TPS yang ada.
Penghitungan olah cepat telah dilakukan di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Taiwan, walau mungkin teknologi pengiriman peroleh suara itu tidak dengan teknologi SMS. Namun setidaknya, apa yang dilakukan didua negara ini dapat menjadi acuan bagi KPU maupun KPUD. Agaknya, metode hitung cepat berbasis data riil (riil count) sangat diperlukan agar masyarakat tidak terlalu lama menunggu hasil pilkada maupun pemilu. Semoga saja!
Rusman
http://roeshman.blogspot.com
Jumat, 05 Desember 2008
Katanya sakti, kok bisa meninggal sih....

Sebulan lalu, Haikal pernah bertanya. Walaupun umurnya masih 5 tahun, rasa ingin tahunya akan sesuatu hal yang baru kerap kali muncul. Disuatu hari, kebetulan kami berdua melintas di depan mabes polri, depan lapangan sepakbola mabak, Blok M. Tiba-tiba anakku itu bertanya, ”ayah itu patung siapa?,” sambil menunjuk patung besar di pojok taman di Mabes Polri.
Sambil menyetir aku jelaskan padanya. ”Itu patung Gajah Mada, nak,” jelas ku singkat. Seperti tak puas, iapun bertanya lagi. ”iya..., tapi dia siapa?,” katanya seperti tidak puas. Aku pun menjelaskan kepadanya, bahwa Gajah Mada adalah orang yang menyatukan semua kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. ”Karena dulu kerajaan-kerajaan sering perang. Makanya Gajah Mada mempersatukan kerajaan-kerajaan itu supaya jangan perang lagi.” Aku jelaskan juga bahwa Gajah Mada itu kuat dan sakti. ”Haikal tadi lihat kan badan Gajah Mada itu besar?,” tanyaku. ”Iya gede banget badannya,” kata anakku lagi. Tiba-tiba Haikal bertanya lagi. ”Sekalang...Gajah Madanya dimana yah,” katanya dengan suara cadelnya. Aku jelaskan Gajah Mada sudah meninggal. Tiba-tiba Haikal minimpal penjelasku. ”Katanya sakti, kok bisa meninggal sih... yah,” tanya Haikal singkat.
Mendengar pernyataan Haikal, aku tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sambil menjanjikan kepadanya untuk membelikan buku cerita tentang Gajah Mada. Ya, itulah dunia anak. Kadang sikap kritisnya selalu muncul secara tiba-tiba.
Jumat, 28 November 2008
Barus Kota Pesisir Yang Pernah Mendunia
Barus merupakan sebuah kota kecil di pantai barat Sumatera, yang secara geografis masuk ke wilayah propinsi Sumatera Utara. Ketenaran Barus salah satunya dikarenakan di kota pesisir ini merupakan penghasil kapur barus atau kerap orang menyebutnya kamper. Berkat kapurnya ini, Barus telah terkenal ke seluruh dunia sejak tahun 160 Masehi.
Di Barus dahulu terdapat pelabuhan yang sangat sibuk. Eksistensi Barus sebagai bandar niaga ditandai oleh sebuah peta kuno abad ke-2 yang dibuat oleh Claudius Ptolemaus, yang merupakan gubernur di Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir. Peta itu menyebutkan bahwa dipesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barossai yang menghasilkan parfum (wewangian), yaitu kapur barus. Disebutkan bahwa Barus telah melakukan aktifitas perniagaan dengan bangsa-bangsa dari Timur Tengah. Hal ini diperkuat dengan fakta yang menyebutkan, kapur barus merupakan salah satu bahan dalam proses pembalseman mayat fir’aun.
Sepanjang sejarahnya, kapur barus sangat disukai dan menjadi barang perniagaan yang sangat penting. Di Barus inilah dahulu bangsa Arab, Orang indian, Cina, Bangsa Portugis dan Belanda datang berniaga.
Barus dan Sejarah Islam
Berdasarkan berbagai sumber sejarah, Islam telah masuk wilayah ini sejak tahun 48 Hijriyah, hal ini seperti tertulis pada nisan makam Syekh Arkanuddin yang berada di tanah Barus. Fakta ini diperkuat dengan banyaknya peninggalan makam-makam tua. Yang paling tua usianya sekitar 1.300 tahun. Makam-makam tua itu oleh masyarakat setempat kerap menyebutnya sebagai ”Makam Aulia 44.” Walaupun makam Aulia 44 tersebar dibeberapa daerah disekitar Barus, kesucian makam-makam itu masih tetap terjaga oleh ulama dan masyarakat setempat hingga saat ini.
Dari sekian makam yang ada, yang kerap dikunjungi oleh para penziarah adalah makam Tuan Papan Tinggi. Makam yang terletak 200 meter di atas permukaan laut ini berada di Desa Pananggahan. Makam yang memiliki panjang sekitar 6 meter ini merupakan makam dari Syekh Mahmud, seorang ulama dari bangsa Arab.
Menurut catatan, ajaran Islam yang pertama kali tersebar saat itu baru sebatas pengetahuan tentang tauhid, yaitu sahadat. Ketika itu syariah belum dikenal oleh masyarakat Barus. Sehingga ketika itu belum ada perintah mengerjakan Sholat dan Puasa. Karena letaknya sebagai bandar perniagaan, banyak para pendatang bangsa Arab menetap. Disamping berdagang, para pendatang ini juga menyebarkan agama Islam. Banyak ulama besar berasal dari kota pesisir ini, di antaranya yang paling menonjol adalah Hamzah Fansuri, yang terkenal dengan kitab tasawufnya.
Rusman
Disarikan dari berbagai sumber
Langganan:
Komentar (Atom)