Rabu, 14 Juli 2010
Sikap Iran, Cikal Bakal Munculnya Kekuatan Baru Dalam Mendukung Palestina?
Jujur saja sejak diserangnya kapal Mavi Marmara, kapal aktivis kemanusiaan untuk Gaza oleh militer Israel, saya pribadi berharap ada kekuatan baru dari beberapa negara menyikapi peristiwa ini (baca: Tragedi Mavi Marmara, Awal Perlawanan Masyarakat “Sipil” Dunia Terhadap Sikap Barbar Israel).
Namun dua pekan peristiwa yang menelan 9 orang korban para aktivis kemanusiaan itu berlalu, sikap dari beberapa negara hanya sebatas mengeluarkan kecaman atas peristiwa berdarah itu. Bila ingin jujur, tanpa perlu mengumpulkan bukti-bukti, jelas apa yang dilakukan militer Israel terhadap kapal kemanusiaan Mavi Marmara dan Rachel Corrie melanggar hukum internasional dan Hak Asasi Manusia.
Sementara itu, simak apa yang dilakukan Dewan keamanan PBB termasuk para anggotanya, hanya sibuk berdebat kusir atas tindakan militer Israel ini. Walaupun kabarnya Dewan PBB akan mengeluarkan resolusi menyikapi kasus berdarah ini. Israel pun tidak tinggal diam, para petinggi-petinggi Zionis Israel melakukan ”pembelaan” dengan menolak usulan PBB untuk melakukan penyelidikan internasional atas penyerbuan tersebut.
Simak apa yang yang dilontarkan Duta besar Israel untuk Amerika Serikat, Michael Oren, seperti dikutip "BBC", dengan tegas mengatakan, negaranya menganut sistem demokrasi yang memiliki kapasitas untuk melakukan penyelidikan sendiri.
Pernyataan Oren ini setidaknya mendapat pembenaran dari Menteri keuangan Israel, Yuval Steinitz yang mengatakan banyak sekali blokade di seluruh dunia tetapi tidak ada satu pun yang memicu penyelidikan internasional.
Garda Revolusi Iran, Ancaman Besar Bagi Israel?
Keinginan Iran menyiapkan kekuatan Garda Revolusinya untuk memecah blokade atas Gaza akan terwujud? Dan apakah sikap tegas Teheran ini oleh zionis Israel merupakan ancaman yang besar? Agaknya, perlu analisis mendalam menjawab ini. Pasalnya, Iran sedang dihadapkan oleh tekanan Amerika Serikat terkait dengan program nuklirnya.
Terlepas dari itu semua, tentu saja Amerika Serikat sebagai sekutu besar Israel tidak akan diam menghadapi ancaman Iran ini. Kita tunggu apa sikap Amerika menangapi dukungan keras negeri Bumi Arya ini terhadap pembebasan Gaza. Yang jelas, sikap negeri Paman Sam ini tentu akan mudah ditebak, Amerika akan kembali gencar mengusung isu nuklir Iran kepermukaan.
Yang jelas sampai detik ini Teheran adalah negara yang memiliki nyali besar dibandingkan negara-negara di Timur Tengah, terutama negara yang berdampingan dengan Palestina dalam menyikapi konflik Palestina dan Zionis Israel.
Agaknya, sikap Iran ini patut diikuti oleh negara-negara lain yang menginginkan kemerdekaan bagi bangsa yang terjajah. Berharap negara-negara lainnya, termasuk didalamnya Indonesia juga akan bersedia melakukan hal yang sama seperti Iran. Bila ini terjadi, dapat dipkerkirakan kekuatan baru itu mulai terlihat. Semoga saja! Penulis : Rusman- Direktur Global Future Institute
Kamis, 31 Juli 2008
Mahasiswa dan Transformasi Pemikiran
Kaum intelektual, dalam hal ini mahasiswa mempunyai fungsi dalam masyarakatnya untuk mengakumulasikan, memberi, membentuk dan menyebarkan nilai-nilai kebenaran abadi, kebahagian kepada masyarakat. Secara yuridis formilnya, kampus atau Perguruan Tinggi di Indonesia mempunyai fungsi: Melaksanakan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Dikampuslah mahasiswa menimbah ilmu pengetahuan secara teoritis. Fungsi Penelitian ditujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tanpa proses penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan tidak bermanfaat. Dan fungsi Pengabdian Masyarakat berarti mahasiswa harus selalu tanggap, kritis dan melakukan tindakan-tindakan yang kongkrit seperti ide-ide, pemikiran ilmiah dalam bentuk penyadaran pada masyarakat.
Berbicara transformasi berarti bicara perubahan yang diinginkan dalam kondisi, situasi dengan ”sistem” yang dihadapi. Ada empat faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat, yaitu tokoh, kebetulan, norma dan massa. Dari empat faktor tersebut yang terpenting adalah norma dan massa. Karena norma cenderung dapat membentuk pola pikir dan tingkah laku seseorang. Sedangkan dengan massa, kekuatan akan semakin mudah terhimpun dan ide-ide pemikiran semakin terwakili dari perorangan di dalam massa tersebut.
Berkembangnya Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) dan menjamurnya gerakan penyadaran cenderung membawa ”nuansa” pada transformasi pemikiran. Sebagian pengamat menilai, kecenderungan munculnya KSM dan gerakan penyadaran ini lebih berorientasi pada penyadaran dan penyesuaian dengan realitas kekuasaan, bukan menentang langsung kekuasaan. Dari asumsi itu timbul pertanyaan apakah dengan tumbuhnya kelompok seperti itu akan terciptanya transformasi pemikiran.
Agaknya kondisi ini tercipta karena adanya kevakuman ”sistem” yang ada sehingga diperlukan tindakan penyadaran dalam berbagai lapisan, minimal di tubuh mahasiswa sendiri. Mahasiswa jelas mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sadar maupun tidak sadar, mahasiswa akan mengalami proses itu.
Sementara itu, dari kaca mata ke-intelektualan, dari sisi akademis, mahasiswa ingin mengembangkan pemikirannya dalam satu tindakan yang mereka rasa butuh ”penyaluran”. Karena seringkali mahasiswa menyadari bahwa apa yang didapat dari bangku kuliah hanya sekedar teoritits belaka. Dan teori yang didapat perlu dikembangkan dalam tindakan yang lebih kongrit. Sepertinya kondisi ini akan terus berkembang sehingga akan terjadi suatu ”transformasi pemikiran” secara simultan.
Ada suatu pandangan positif dari berkembangnya KSM dan gerakan penyadaran. Diantaranya bahwa dengan tumbuhnya gerakan penyadaran semacam itu, mengingat kita pada masa pra-kemerdekaan. Dimana pada masa itu, mahasiswa dengan dasar-dasar pemikirannya berjuang melawan penjajahan. Bila kita ingat apa yang dilakukan oleh Bung Hatta, dengan Indonesia Merdeka, dimuka pengadilan Belanda di Den Haag (1927), dan keberanian Sukarno untuk membela diri dalam perjuangan nasional dengan Indonesia Menggugat , di depan Landraa Bandung (1930). Dari kedua kejadian itu akan terlihat peran mahasiswa yang begitu besar membela bangsanya.
Sekarang fungsi itupn nampaknya masih sangat relevan. Karena dengan pola pikir, dya nalar dan ilmu pengetahuan yang dimiliki, mahasiswa akan berupaya menuju transformasi pemikiran yang diinginkan. Sekaligus menciptakan, melakukan perubahan yang tidak hanya perubahan saja. Tetapi juga membentuk masyarakat adil dan makmur yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia.
Menjamurnya KSM dalam bentuk kegiatan diskusi-diskusi cenderung mambahas masalah-masalah sosial kemasyarakatn. Dengan diskusi dapat bertukar pikiran dari orang perorang atau kelompok sehingga menimbulkan ide-ide, pmikiran yang sama dalam melakukan perubahan. Perubahan yang diinginkan seputar perubahan sosial kemasyarakatan selama jenjang pembangunan dimasa orde baru ini. Central masalah yang diangkat oleh kelompok diskusi adalah masalah kerakyatan.
Disisi lain timbul suatu pertanyaan mengapa mahasiswa cenderung memilih aktifitas diluar kampus dan terjun ke KSM maupun LSM? Bila dilihat kondisi ini terjadi karena sudah tumbuh kesadaran sosial pada mahasiswa. Dan asumsi yang alin karena ruang gerak mahasiswa di dalam kampus semakin sempit. Apalagi sejak dikeluarkan penerapan normalisasi kehidupan kampus (NKK) dengan menugaskan rektor Perguruan Tinggi sebagai penanggungjawab tertinggi di kampusnya. Akhirnya NKK membatasi partisipasi politik mahasiswa sehingga adanya ”keterbatasan beraktifitas.”
Pada dasarnya apa yang dilakukan mahasiswa untuk menuju perubahan atau transformasi memerlukan nafas yang panjang. Yang terpenting dalam bertindak adalah ikhlas dan sabar. Dan sikap konsisten dan pantang menyerah. Karena percayalah ”Allah tidak mengubah keadaan suatu kamum, hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (QS 13:11). Pembagian peran gerakan menuju perubahan yang dicita-citakan di negeri ini masih perlu dilakukan. Akhirnya mahasiswa sebagai anak bangsa masih memiliki tugas menuju Indonesia yang dicita-citakan.
Rusman
* Disampaikan pada diskusi internal di Komisariat HMI Cabang Jakarta Fakultas Ekonomi Universitas Nasional, 1995
Rabu, 23 Juli 2008
Pembangunan Ekonomi Indonesia ditengah Arus Globalisasi: bagian 4
Konsistensi Pelaksanaan Pembangunan
Apapun yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi di Indonesia tidak terlepas dari konsistennya terhadap pelaksanaan pembangunan terutama pembangunan dalam bidang ekonomi. Kondisi perekonomian di Indonesia juga tidak terlepas dari gejolak-gejolak ekonomi di tanah air yang diwarnai oleh terjadinya kasus likuidasi terhadap 16 Bank yang ada merupakan salah satu konsistensi pemerintah terhadap pelaksanaan pembangunan ekonomi di Indonesia.
Dari uraian diatas, tantangan bangsa Indonesia kedepan semakin besar dan semakin kompleks. Untuk itu komitmen dan konsistensi yang besar bagi terciptanya tujuan pembangunan menjadi rujukan bagi setiap pelaku ekonomi di Indonesia. Tantangan itu hanya dapat diatasi oleh satu semangat pembaharuan dan perubahan yang didasarkan atas kemampuan serta semangat kebersamaan atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur.
Tantangan yang harus diatasi dalam pembangunan eknomi nasional yaitu hutang luar negeri yang besar dan harus diperkecil, disefisiensi produk dan daya saing yang lemah perlu diperkuat, kesenjangan relatif, kesenjangan regional dan kesenjangan antar kelas pelaku ekonomi yang harus diperkecil jaraknya. Semua itu memerlukan perangkat kebijakan ekonomi politik yang demokratis.
Kesimpulan
Pembangunan eknomi merupakan bagian dari pembangunan secara keseluruhan yang masih terus ditingkatkan dan diperbaiki baik pelaksanaannya maupun pembagian hasil-hasil pembangunan itu sendiri.
Pembangunan ekonomi dalam pengertian fisik adalah terciptanya berbagai sarana dan prasarana sebagai modal dasar kegiatan ekonomi masyarakat dalam menciptakan nilai tambah secara ekonomis yang terus meningkat.
Arus globalisasi mengarahkan kita pada kondisi dimana kita dituntut untuk dapat berperan serta dalam persaingan ekonomi dengan negara yang sudah maju dalam bidang ekonomi. Untuk itulah dperlukan persiapan kearah itu dengan adanya pembenahan-pembenahan terhadap pelaksanaan kegiatan ekonomi yang lebih sehat diantara pelaku ekonomi. Dan untuk itu diperlukan satu komitmen dan konsistensi terhadap pelaksanaan dan tujuan pembangunan ekonomi sebagai faktor pendukung didalam terciptanya masyarakat yang adil dan makmur.
Dilain pihak kebijakan politik sangat menentukan arah dari pembangunan ekonomi yang akan dan tengah berlangsung. Politik memberikan corak kebijakan pembangunan ekonomi apa yang akan ditempuh sehingga memiliki orientasi tertentu yang dapat ditafsirkan apakah bertumpuh kepada kepentingan masyarakat luas, kepada kelompok pelaku ekonomi tertentu atau mungkin diperuntukkan kepada individu tertentu.
Rusman
Makalah ini disampaikan pada acara intermediate Training Tingkat Nasional di HMI Cabang Bandung, 13-20 November 1997
Pembangunan Ekonomi Indonesia ditengah Arus Globalisasi: bagian 3
Tantangan Pembangunan
Kesenjangan ekonomi baik antar sektor, antar kelompok penerima pendapatan, antara desa dan kota masih menunjukkan rasio gini yang cukup besar, walaupun ada kecenderungan untuk menurun. Kesenjangan yang cukup mencolok adalah didaerah perkotaan, dimana jarak antara orang yang kaya dan yang miskin relatif lebar. Ini ditunjukkan dengan data statistik tahun 1993, dimana rasio Gini menunjukkan angkat 0,33 dibandingkan di pedesaan 0,26.
Keberpihakan pemerintah kepada kelompok miskin dan pelaku ekonomi yang lemah sangat perlu dalam pembangunan guna memperkecil jarak kesenjangan. Esensi pembangunan sendiri adalah menempatkan kelompok ini pada prioritas utama diurutan terdepan, dengan kata lain prioritas pembangunan adalah mengentaskan kemiskinan. Bagi kelompok yang sudah maju, perhatian pemerintah sudah seharusnya dikurangi, dengan melakukan pengaturan dan kebijakan ekonomi yang mampu mendorong iklim usaha dan kegiatan ekonomi yang kondusif bagi peningkatan kesejahteraan kelompok yang lemah dan masih miskin.
Menurut David C Korten, 1990, didalam menuju abad ke21, dikatakan ada beberapa kebijakan yang dapat ditempuh dalam strategi pembangunan yang berbasis kerakyatan, yaitu:
Mencari diversifikasi kegiatan dalam level perekonomian yang dimulai dari rumah tangga pedesaan, mengurangi ketergantungan dan kejutan pasar akibat dari ekses spesialisasi.
Memberikan prioritas pada alokasi sumber produksi barang dan jasa kebutuhan dasar dari penduduk lokal.
surplus dari hasil produksi lokal diekspor ke pasar internasional. Barang yang diekspor haruslah mempunyai nilai tambah kreativitas manusia yang lebih tinggi daripada kandungan sumberdaya alamnya.
Memperkuat pemilikan lokal terhadap penggunaa sumberdaya melalui kebijakan membiarkan masyarakat mempunyai hal subtansial atas sumber primer mereka dan memberikan kontrol individu atas kepemilikkan alat produksi.
Mendorong perkembangan kebebasan politis pada organisasi masyarakat yang memperkuat partisipasi penduduk secara langsung dalam proses pengambilan keputusan ditingkat lokal dan nasional dan menawarkan pelatihan menjadi warga yang demokratis.
Membangun kemandirian daerah dalam pembiayaan dan demokratisasi dalam memilih pemerintahan lokal yang memberikan wadah pengaruh yang kuat bagi utusan daerah.
Membangun transparansi dalam pengambil keputusan publik dan memperkuat jalur komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Memfokuskan pengembalian pada rumah tangga dan masyarakat dalam pemilihan berbagai alternatif investasi.
memeberikan prioritas kepada mobilitas sumber, tabungan dan energi lokal, dengan mengurangi keretgantungan pada hutang luar negeri sebagai pembiayaan pembangunan, kecuali untuk maksud produktif yang jelas akan menghasilkan pembayaran kembali,
Dengan demikian, bila gagasan Korten ini dapat diaplikasikan, seyogyanya pembangunan akan berhasil meningkatkan harkat martabat hidup masyarakat yang saat ini masih tertinggal.
Selain masalah tersebut diatas, masalah korupsi dan sejenisnya merupakan persoalan yang menjadi benalu bagi keberhasilan pembangunan. Masalah korupsi tentunya diselesaikan bukan dengan kebijkan ekonomi saja, tetapi juga harus melalui pendekatan politik didalam mengatasinya. Prof, Dr Soemitro, mensiyalir adanya kebocoran tau inefisiensi pembangunan sebesar 30%, hal ini didasarkan pada perhitungan ICOR pada tahun 1996. Bila benar adanya ini sungguh sangat memprihatinkan.
Rusman
Makalah ini disampaikan pada acara intermediate Training Tingkat Nasional di HMI Cabang Bandung, 13-20 November 1997
Pembangunan Ekonomi Indonesia ditengah Arus Globalisasi: bagian 2
Arus Globalisasi: Tantangan dan Peluang
Pesatnya arus globalisasi yang terjadi sekarang ini telah mempengaruhi dunia secara menyeluruh dari berbagai dimensi kehidupan. Hal ini merupakan sesuatu yang empiris dilihat dari hubungan-hubungan kausalitas, pengaruh dari perkembangan dunia, terlebih dalam dimensi ekonomi akibat tumbuh pesatnya kapitalis (Berger, 1990:48). Bahkan batas geografis terkadang terasa seperti tak ada lagi. Hari ini dunia terasa menjadi satu dan batas-batas bangsa seolah hanya berada pada cerita-cerita pengantar tidur. Bagi bangsa Indonesia arus globalisasi agaknya juga tak bisa dihindari. Persoalanya sekarang sejauh mana Indonesia sebagai sebuah bangsa dapat memberi makna dan tempat yang pas bagi kecenderungan yang mondial ini.
Batas geografis yang transparan sangat tergantung dari cara pandang dan cara menyikapinya. Menutup diri terhadap kehendak arus global ini bukanlah sebuah jawaban. Ini hanya merupakan sebentuk pelarian dari realitas (eskapisme). Menerima dan menelan mentah-mentah tawaran yang menggiurkan juga akan mengantarkan kita sebagai sebuah bangsa pada titik kegalauan dan jurang dalam kebingungan. Oleh karena itu arus globalisasi tersebut akan terlihat peluang dan tantang yang akan dihadapi.
Dalam persektif yang lain, globalisasi harus dipahami sebagai suatu yang alamiah. Sesuatu yang alamiah selalu bersumbu pada sebab dan akibat. Karenanya bila globalisasi dipandang sebagai sebab yang baik, akan mendorong bangunan kebangsaan kearah yang positif. Pemahaman kontruksif itu memandang setiap perubahan adalah sesuatu yang sepatutnya disyukuri bukan sebaliknya. Meskipun harus diakui, bahwa dampak dari globalisasi juga akan membawa warga dunia pada etika pergaulan yang baru. Hal ini terjadi sebagai akibat dari persentuhan masing-masing kebudayaan, sehingga budaya semua negara pada akhirnya bertemu dalam mainstream besar yakni budaya global dan peradaban mondial.
Peradaban warga dunia pada saatnya menjelma menjadi peradaban yang universal. Tolak ukur dari kemajuan kebudayaan seuluruh warga di bumi ini ditentukan oleh teknologi multi media. Penguasaan atas teknologi multi media dengan peradaban dunia dengan segala aspeknya baik itu eknomi, politik dan kebudayaan. Pendapat itu paling tidak pernah dikemukakan oleh Francis Fukuyuma dalam bukunya The End Of History.
Dalam karyanya itu, Fukuyama berkeyakinan bahwa mengglobalnya ekonomi market yang sekarang ini menjadi jalan keluar bagi hampir seluruh perekonomian negara-negara di dunia, bahkan oleh negara-negara yang masih berpaham komunis sekalipun. Satu contoh pemasukan ideologi market dalam kehidupan masyarakat kita adalah iklan, yang merupakan garda terdepan bagi kapitalisme mondial. Iklan berpotensi merubah pandangan orang ”bermarking” terhadap pola warga suatu negara.
Budaya konsumerisme yang dipaksakan tanpa melihat pertimbangan kemampuan ekonomi masyarakat pada akhirnya, tentu akan menciptakan sebuah masyarakat yang secara budaya mengarah kepada masyarakat capitalised. Namun disatu sisi kemampuan membeli tidak sebanding dengan adaptabilitas tuntutan destructable silet culture pada sebuah komunitas bangsa.
Dalam perspektif yang agak berbeda, seorang ilmuwan Jepang, Keichi Ohmaem dalam karyanya The End Of Nation State juga meramalkan bahwa nation state yang selama ini dipahami orang sebagai satu kedaulatan pemerintahan yang ditandai dengan batas-batas wilayah pada akhirnya akan hilang sendirinya seiring dengan maraknya dan berkembangnya Multi National Corporation (perusahaan Multi National).
Menurut Keichi, penanaman modal yang banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan raksasa dari berbagai negara, pada saatnya akan membuat batas geografis politik dalam arti formal tidak selalu dapat membentengi pengaruh dari luar terhadap intervensi suatu negara kepada negara lainnya.
Penanaman modal sebuah perusahaan raksasa yang mewakili kepentingan ekonomi perusahan tersebut bisa saja mempengaruhi kebijakan politik suatu negara dan ini juga nampaknya tidak mustahil berlaku dalam kasus Indonesia. Oleh karena itu, suatu saat bisa saja perekonomian akan membuat batas negara menjadi sangat transparan dan tidak berjarak.
Rusman
Makalah ini disampaikan pada acara intermediate Training Tingkat Nasional di HMI Cabang Bandung, 13-20 November 1997
Pembangunan Ekonomi Indonesia ditengah Arus Globalisasi: bagian 1
Pembangunan ekonomi Indonesia adalah proses ekonomi dan sosial yang berlangsung secara terus menerus. Yang ingin dicapai adalah kondisi ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengertian lebih baik disini biasanya diasosiasikan denga tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dan tidak pula melupakan aspek pengurangan kemisikinan pada masyarakat yang kurang beruntung.
Tujuan pembangunan akan tercapai bila ada satu kerjasama antara pihak pemerintah sebagai pelaksana operasional dan masyarakat sebagai obyek dari pelaksanaan pembangunan itu. Bentuk kerjasama itu tidak hanya terletak pada bagaimana terlibat langsung pada pelaksanaan operasional saja tetapi juga dalam hal pemikiran terhadap pelaksanaan pembangun tersebut. Artinya, setiap kebijakan-kebijakan pembangunan yang akan diterapkan oleh pemerintah setidaknya menerma masukan pemikiran dari masyarakat.
Bagi negara yang sdang berkembang pembangunan jelas dimaksudkan untuk meningkatkan tarap hidup sehingga setaraf dengan tingkat hidup di negara-negara maju. Negara sedang berkembang saat ini telah menyadari tentang kemiskinan yang dialami dan jurang perbedaan yang semakin lebar antara negara maju dengan negara yang sedang berkembang.
Dalam konteks globalisasi, globalisasi adalah suatu konsekuensi dari sebuah proses perkembangan sejarah kemanusiaan. Dengan semakin maju peradaban manusia dan kemanusiaam, ditandai datangnya abad informasi yang populer dengan istilah millenium III.
Dalam era ini, dunia yang dahulu dipandang sebagai keluasan geografis, sekarang bata-batas itu menjadi relatif. Teknologi dengan seluruh perangkatnya telah membuat dunia semakin tak berjaraj dan tak terbatas. Setiap orang dapat saling berinteraksi, tanpa dibatasi ruang danwaktu, dan duniapun pada akhirnya bagaikan ”rumah kaca”. Perdagangan bebas akan berlangsung di negara-negara yang menyatakan ke-siap-an untuk berpartisipasi didalamnya, termasuk dalam hal ini Indonesia sendiri. Konsekuensi logisnya adalah bahwa Indonesia telah siap bersaing dengan negara-negara yang lebih dahulu maju dalam pembangunan ekonominya.
Dalam perdagangan bebas itu nilai yang berlaku adalah persaingan bebas (free competion) diantara para pelaku ekonomi. Jika daya saing lemah di pasar bebas atau dipasar global, maka bangsa Indonesia akan menjadi ”bangsa kuli” dan ”kuli diantara bangsa-bangsa”, meminjam istilah Bung Karno yang terkenal itu. Oleh karenanya perlu kiranya adanya perenungan kembali terhadap pelaksanaan pembangunan ekonomi agar ketika terjun dalam persaingan bebas dapat bersaing dengan negara-negara yang lebih merasakan kemajuan dalam bidang pembangunan ekonomi.
Rusman
Makalah ini disampaikan pada acara intermediate Training Tingkat Nasional di HMI Cabang Bandung, 13-20 November 1997
Selasa, 01 April 2008
Teknik Wawancara dan Investigasi
Jangan pernah membunuh pertanyaan
Jangan pernah membunuh pertanyaan.
Ia adalah benda yang rapuh.
Pertanyaan yang baik pantas untuk hidup.
Kita tidak perlu banyak menjawab sebagaimana kita berbincang dengannya.
Pertanyaan besar adalah permanen dan bakat yang diberkati dari pemikiran.
Tetapi pertanyaan yang paling besar dari segalanya adalah membangun jembatan ke dalam hati menyebut orang seutuhnya.
Tak boleh ada jawaban yang dirancang untuk membunuh pertanyaan.
Ketika kita terlalu dogmatis, atau terlalu yakin, kita menunjukkan rasa tidak hormat kepada kebenaran dan pertanyaan yang menuju kepadanya.
Dibalik jawaban saya, selalu ada yang lebih, lebih banyak cahaya yang menunggu untuk masuk dan gelombang makna yang tak ada habis-habisnya siap memecah pantai yang memperluas kebijaksanaan.
Kapan pun ada pertanyaan, biarlah dia ia hidup.
Gerhard Frost
Sebuah pengantar
Menjadi seorang wartawan adalah pekerjaan yang mengasyikan, karena dia akan bertemu dengan banyak orang, dengan banyak karakter dan ilmu yang berbeda juga. Tapi terkadang pekerjaan seorang wartawan bisa membahayakan dirinya. Contoh kasus, mungkin kita ingat kejadian yang menimpa Udin, wartawan Bernas di Yogyakarta beberapa tahun silam. Udin yang dalam tugasnya tewas dibunuh karena mengungkap sebuah kasus. Dan terakhir, seorang wartawan Belanda yang tewas mengenaskan di Timor-Timur. Lagi-lagi tewasnya karena tugas sebagai seorang jurnalis.
Untuk menjadi seorang wartawan tidak lah terlalu sulit. Hanya saja memang perlu mengetahui ilmu-ilmu dasar seputar dunia jurnalistik. Tetapi itu tidaklah menjadi hal baku yang dapat mempersulit kita untuk memulai. Jangan kita terpaku denga hal-hal yang menyulitkan. Karena seseorang cenderung malas dengan hal-hal yang menyulitkan. Kuncinya berbuat dulu, baru menilai. Ini lebih bagus, ketimbang kita tidak memulai sama sekali. Maka tidak ada kata lain yang dapat kita pakai selain kata memulai.
Dalam hal teknis, sebuah media massa mempunyai beberapa bagian penting. Ada penulis dan ada pula seorang reporter. Semuanya adalah wartawan. Tetapi fungsi dari masing-masing itu berbeda-beda. Penulis adalah pembuat tulisan yang ditampilkan menjadi berita. Sementara reporter adalah orang yang bertugas mencari informasi, data sebagai bahan-bahan berita bagi si penulis. Jadi jelas ada perbedaan dari keduanya dalam hal bekerja. Tapi secara tim, kerjasama antar keduanya adalah mutlak diperlukan.
Seorang reporter adalah ujung tombak untuk sebuah media massa. Tanpa reporter tidak lah mungkin berita dapat ditulis. Lalu, makhluk apa sebenarnya reporter itu, sampai-sampai menjadi penting dalam sebuah institusi media massa?
Reporter adalah orang yang mencari informasi, data-data dan fakta-faktanya. Informasi, data dan fakta-fakta didapat dari berbagai sumber dilapangan. Dengan informasi, data dan fakta-fakta itulah berita dapat dibuat. Jadi, jelas sudah bahwa seorang reporter mempunyai peran yang sangat penting.
Lantas, apa yang dilakukan, dimana seharusnya dia berada, dari siapa informasi, data dan fakta-fakta itu didapat, serta bagaimana seorang reporter itu bertugas dalam kesehariannya. Memang bila dirunut dari awal terlalu banyak yang bisa kita bahas bila menjawab itu. Tapi, secara sederhana dapatlah kita katakan bahwa yang dilakukan oleh seorang reporter adalah mencari, menggali dan melaporkan informasi, data dan fakta yang kita dapat dilapangan.
Untuk hal ini, maka yang perlu diperhatikan oleh seorang reporter adalah:
- Keakuratan.
- Aktual.
- Sejelas mungkin atau selengkap mungkin.
- Ada unsur perimbangan.
- Dan lain-lain.
Kedua, dimana sebenarnya seorang reporter berada. Seorang reporter harus berada dititik-titik informasi. Untuk menjadi seorang reporter di perlukan kejelian baik itu telinga, mata dan ingatan kita.
Ketiga, informasi dan data itu didapat dari sumber-sumber yang kita anggap perlu. Tergantung dari apa yang kita inginkan. Oleh sebab itu tugas reporter adalah bertanya dan terus bertanya, sampai selengkap-lengkapnya.
Keempat, bagaimana seorang reporter itu bertugas dalam kesehariannya. Tidak ada keinginan lain di kepala seorang reporter selain mendapatkan informasi, data untuk di jadikan berita. Oleh karenannya asah terus keingin-tahuan terhadap sesuatu yang kita lihat, dengar dan kita rasakan. Catatlah apa yang dinilai penting untuk dicatat. Jangan lewatkan sedikit pun dari apa yang kita lihat, dengar dan kita rasakan itu. Prinsipnya 5 W, 1 H.
Terlalu formil bila apa yang akan kita lakukan selalu menggunakan teknik. Bagi saya teknik adalah sebuah aturan yang membelenggu. Tapi tak ada salahnya kita mengetahui sekedarnya saja.
Dalam wawancara yang terpenting adalah menggunakan komunikasi yang baik. Tanpa adanya komunikasi yang baik, jangan harapkan kita mendapat informasi atau jawaban yang baik juga. Yang terpenting siapkan diri kita dengan beberapa hal yang sederhana. Hal-hal yang saya maksud diatas antara lain:
- Sebelum kita melakukan wawancara, usahakan membuat daftar pertanyaan terlebih dahulu. Ini penting dilakukan agar mempermudah kita dalam wawancara. Terkadang saking asyiknya kita mewawancarai nara sumber, kita lupa bahwa pertanyaan kita menyimpang dari tema yang kita inginkan.
- Posisikan diri kita sejajar dengan nara sumber yang akan kita wawancarai. Untuk itu kita harus benar-benar memahami pertanyaannya kita. Singkatnya, kita perlu percaya diri.Lebih baik kita cari tahu karakter dari nara sumber kita. Ini sangat penting supaya kita mengetahui bagaimana dan siapa sebenarnya nara sumber kita.
- Gunakan bahasa yang sederhana dan sejelas mungkin.
- Jangan biarkan pertanyaan kita "terbunuh". Prinsip-prinsipnya terus bertanya dan bertanya. Kalau jawaban nara sumber kurang jelas tanyakan kembali sampai sejelas-jelasnya. Itu lebih baik ketimbang kita kebingungan.
- Siapkan alat-alat bantu seperti bollpoint, bloc note (secarik kertas). Ini adalah hal teknis sekali, tapi ini menjadi penting bila ini kita siapkan.
Investigasi
Tidaklah semua informasi, data dan fakta kita dapatkan dengan mudah. Untuk mencari informasi, data dan fakta yang sulit dan khusus membutuhkan kerja ekstra. Kerja ekstra disini adalah melakukan obeservasi atau investigasi langsung ke lapangan. Lantas, apa itu investigasi?
Investigasi secara pemahaman sederhana adalah pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan, keberanian, keuletan dan keyakinan dalam menggali informasi yang khusus. Demi upaya menggali informasi yang selengkap-lengkapnya, tak jarang seorang wartawan melakukan observasi langsung guna mengadakan penyelidikan fakta dan sumber-sumber yang diperkirakan dapat memperkaya informasi. Berdasarkan hal inilah, maka seorang pakar jurnalistik pernah mengatakan bahwa "pekerjaan seorang wartawan itu sebenarnya separuh detektif separuh diplomat" (James Gordon Bennet, pendiri The New York Herald).
Berdasarkan caranya memperoleh informasi melalui observasi ataupun investigasi inilah maka muncul istilah teknik penulisan reportase ini yaitu "Investigative Reporting". Untuk mendapatkan informasi yang sangat penting atau khusus itu dibutuhkan ketrampilan khusus pula. Kadang-kadang kita dipaksakan untuk menyamar menjadi sesuatu, tergantung informasi apa yang akan kita inginkan.
Rusman
Disampaikan dalam kegiatan latihan dasar jurnalistik, Himpunan Mahasiswa Islam komisariat FE Universitas Gunadarma. Depok 5-6 Novemver 1999.