Jumat, 19 Oktober 2012
Saya Bangga dengan Teman-teman GFI Bisa Melihat Kondisi Global untuk Kepentingan Nasional
Jumat, 31 Oktober 2008
Menurut Bung Karno Islam itu Pro-Nasionalisme dan Pro-Sosialisme
Alm. Dahlan Ranuwihardjo
Sesepuh HMI dan Pengagum Bung Karno
Sejauhmana pemahaman Bung Karno terhadap Islam?
Saya melihat Bung Karno seorang insan paripurna. Artinya, Bung Karno itu seorang pejuang, seorang pemikir, seorang ideologi, seorang filosof, seorang negarawan, seorang budayawan, seorang nasionalis, seorang internasionalis, seorang humanis dan kemudian juga seorang kepala keluarga yang baik. Mengenai kapasitas Bung Karno sebagai pemikir, selama ini yang tertonjol, Bung Karno sebagai pemikir marhaenisme. Padahal, Bung Karno juga sebagai pemikir Islam. Kalau dibandingkan dengan pemikir-pemikir Islam lain di Indonesia ketika itu, pemahaman Bung Karno jauh lebih banyak, ketimbang misalnya Natsir dan Alimin. Dan Bung Karno memikirkan Islam bukan belakangan karena mendapat petunjuk-petunjuk dari ustad Hasan.
Bisa dijelaskan hubungan Ustad Hasan dengan Bung Karno?
Dalam tulisan Bung Karno tahun 1926 berjudul Nasionalisme, Islam, Marxisme dan bagian tentang Islam itu menunjukkan Bung Karno sudah mempelajari Islam dari aspek kemasyarakatan dan kenegaraan dari Islam. Ketika Bung Karno di Endehada 12 surat dari Bung Karno yang dikirimkan kepada Ustad Hasan. Sebetulnya Isinya adalah curahan hati tingkat intelektual yang tinggi dari Bung Karno kepada Ustad Hasan. Bukan ustad Hasan mengajari Bung Karno. Selama ini orang memandang Bung Karno belajar dari ustad Hasan. Selama di tempat pembuangan itu Bung Karno ingin menyampaikan pemikiran tentang Islam kepada ustad Hasan.
Apa segi menarik Islamnya ustad Hasan bagi Bung Karno?
Bagi Bung Karno, ajaran-jaran ustad Hasan menjrurus ke pemurnian ekonomi Islam. Saat itu Bung Karno sangat tertarik. Sebab, Bung Karno itu risau, sedih, prihatin melihat penghidupan orang-orang Islam di Indonesia. Mungkin Bung Karno ingin tahu apa Islam itu anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Dia yakin kalu Islam itu anti-imperialisme. Karena, ada kalimat dari Bung Karno yang menyatakan Islam sejati tidak mengenal sikap anti-nasionalis sebagai sumber spirit menentang kolonialis. Kemudian meliat sosialisme sebagai sumber spirit menentang kapitalisme. Dan dia melihat bahwa Islam itu adalah pro-nasionalisme dan pro-sosialisme.
Kongritnya apa aplikasi Bung Karno tentang Islam yang diterapkan dalam kenegaraan?
Sebenarnya ajaran nasionalisme itu muncul tahun 1927. Dia tahu dimasyarakat ini ada dua aliran nasionalis dan aliran Islam. Sejak semula Bung Karno tidak pernah mengedepankan nasionalisme saja. Selalu Bung Karno mengedepankan nasionalisme yang berkemanusiaan, yang demokratis dan yang berkeadilan sosial. Keempat itu dirangkum dalam sosionasionalisme, sosiodemokrasi. Disingkat lagi menjadi sosio-nasio-demokrasi. Kualitas begini dari nasionalisme dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Sebab, masyarakat Indonesia itu korban dari nasionalisme Barat. Jadi tidak mungkin meniru nasionalisme Barat. Kelanjutannya, Bung Karno itu seorang yang memahami marxisme. Jadi beliau itu dikatakan marxis dalam arti memahami marxis. Tapi Bung Karno bukan penganut marxisme.
Apakah didalam diri Bung Karno terjadi benturan pemikiran ketika ia mempelajari Islam dan Marxisme?
Menurut saya ada. Sebab, akhirnya Bung Karno beberapa kali mengatakan salah satu ajaran marxisme adalah materialsme. Bung Karno mengatakan saya menerima secara filosofi marxisme, tapi bukan penganut marxisme. Ajaran marxisme hanya dipakai oleh Bung Karno sebagai pisau analisis atau analisis sejarah.
Tapi, kenyataannya ada kalangan tertentu yang menganggap Bung Karno marxis?
Itu tidak betul juga. Karena orang harus memperhatikan Bung Karno itu pernah mondok selama lima tahun di rumahnya Pak Cokroaminoto. Kalu tidak salah sejak Bung Karno umur 13 atau 14 tahun. Di situ pendidikan agamanya dimulai. Bung Karno juga waktu kecil ikut mengaji dan salat. Cuma, kata Pak Anwar yang sempat cerita pada saya, memang kadang-kadang Bung Karno malas. Tapi itu bisa dipahami karena usianya masih berjiwa muda. Memang ketika itu Bung Karno sedang asyik-asyiknya membaca buku.
Sejauhmana pemahaman Bung Karno tentang Islam, terutama diaplikasikan dalam tugas kenegaraan dan sebagi pemimpin?
Yah, kalu kita lihat surat-surat Bung Karno di Endeh, Bung Karno melihat umat Islam ini masih dijamuri oleh kekolotan. Artinya, Bung Karno sangat kritis terhadap sikap umat Islam yang meninggi-ninggikan derajat sayid-sayid lbi tinggi dari umat Islam lainnya. Bung Karno mengatakan bahwa tidak ada agama yang lebih menyukai persamaan daripada Islam. Surat-surat Bung Karno di Endeh itu berisi kerisauan beliau terhadap kiai-kiai yang dari hari ke hari ngomongnya begitu-begitu saja. Sampai Bung Karno mengatakan, ”Jikalau kiai-kiai mmbawakan agamanya itu secara moderat, tidak secara kolot, maka dakwah Islam akan jauh lebih berhasil.” Bung Karno mengambil contoh ada orang-orang barat yang masuk Islam. Ketika itu, Bung Karno bertanya kenapa Anda masuk Islam? Dijawab oleh orang itu, ”Karena saya membaca buku-buku Islam.” Jadi, bukan karena mendengarkan kiai-kiai dengan sorbannya.
Bagaimana sikap dari kelompok Islam terhadap Bung Karno di era tahun 1950-an?
Sebetulnya kalau di tahun 1950-an itu karena Bung Karno pemikirannya berat kepada nasionalisme dan dia kemudian mendirikan PNI. Walaupun demikian, dalam pikiran Bung Karno yang dinamakan massa itu adalah sebagian besar umat Islam. Tapi orang menganggap Bung Karno sebagai kelompok nasionalis. Sebetulnya banyak yang belum tahu pikiran-pikiran Bung Karno. Karena Bung Karno banyak menulis tentang Islam itu baru sekitar tahun 1936. Tetapi tahun 1926 sudah ada tulisan tentang Islam dari Bung Karno. Bung Karno itu memperhatikan aspirasi dari umat Islam. Sebagai presiden yang mayoritas rakyatnya beragama Islam, Bung Karno harus membekali diri dengan pengetahuan Islam. Bahkan pernah pada suatu acara di tahun 1950-an Bung Karno melontarkan kelaimat jadikanlah mesjid itu sebagai center of live. Jadi, kata Bung Karno, masjid jangan dijadikan tempat salat saja, tapi jadi tempat umat Islam belajar dan mempelajari ilmu pengetahuan.
Rusman
Wawancara berlangsung di kediaman Pak De dikawasan Jakarta Selatan dan terpublikasi di Tabloid DeTAK No. 143 Tahun ke 3, 13-19 Juni 2001
Senin, 09 Juni 2008
Paling Gampang Mundur, Itu Konstitusional

Apakah Mega hanya menunggu SI?
Dia mau segala sesuatunya sesuai dengan konstitusional. Seperti halnya Manhan Mahfud yang mengatakan Gus Dur bersedia mundur asalkan konstitusional. Paling gampang mundur. Itu kan konstitusional seperti Soeharto dulu. Tapi ini juga tidak mau dia lakukan.
Apakah Mega takut dijatuhkan karena trauma MPR lalu?
Kalau Gus Dur turun, otmatis Megawati akan naik. Memang ada yang berpendapat seperti itu. Tapi kalau saya tidak begitu.
Bagaimana dengan makin mepetnya deadline buat Gus Dur?
Prediksi saya, kalu Gus Dur tidak mundur sebelum 30 Mei, DPR akan menggelar SI. Gus Dur akan diberhentikan. Makanya, Megawati harus memikirkan siapa wakil presidennya dan apa programnya dalam waktu singkat sampai tahun 2004. Dan juga bagaimana dukungan negara lain untuk mendukung Indonesia mengatasi krisis. Sebab, hal itu juga untuk kepentingan mereka. Kalau Indonesia kini amburadul, negara seperti Jepang dan Singapura juga akan kena dampaknya. Jadi jangan biarkan Indonesia hancur. Ini juga panggilan internasional. Selama ini Gus Dur tidak melakukan itu. Saya pernah menemani Gus Dur di Qatar. Disitu Gus Dur tidak melakukan pembincangan serius, semua hanya joke-joke saja.
Berarti kepergian Gus Dur ke luar negeri tak banyak manfaatnya?
Dia pergi ke Thailand buat apa? Kalau istilah orang barat, Gus Dur di dalam negeri sedang di-impeach, mengapa dia keluar negeri. Dulu, saya sudah beritahu dia apa yang harus dilakukan. Dia mau mengeluarkan dekrit, saya bilang apa urusannya. Saya bilang itu tidak mungkin. Lantas dia bilang, ”Alaah Anda tidak tahu. Saya mau dekrit kalau Irian dan Aceh mau merdeka.” Saya bilang tidak begitu jadi presiden. Kalau Aceh dan Irian mau merdeka dengan kekerasan nyatakan darurat sipil di Aceh atau Irian. Kirim pasukan ke sana. Berantas dan tumpas pemberontak itu. Itu sah. Dunia internasional akan mengatakan itu sah. Tapi kalau Aceh dan Irian merdeka dengan membubarkan DPR dan mengeluarkan dekrit, wah bukan begitu caranya jadi presiden. Sebetulnya Megawati bisa jadi presiden. Presiden itu kan bukan harus yang pintar-pintar banget. Asalkan dia tidak masuk kepada yang detail, dia tahu persoalan, dan mengkoordinasi dan percaya kepada menteri-menteri, saya yakin dia bisa. Tapi, Gus Dur yang tidak penting dia urusin.
Tapi, Gus Dur terus menekan Mega?
Gus Dur itu segala macam dilakukan. Rachmawati dia datangi. Hamzah Haz yang dia maki-maki dia datangi juga. Mungkin saya yang tidak didatangi Gus Dur. Saya tidak mau kompromi dengan hal-hal seperti itu. Ahmad Sumargono juag didekat-dekati oleh orang-orang PKB.
Rusman
Wawancara ini dipublikasi di Tabloid DeTAK No. 139 Tahun ke 3, 16- 22 Mei 2001
Masa Gus Dus seperti Soeharto atau Habibie?
Tablig Akbar pada bulan-bulan itu di Tanjungpriok memang sangat marak. Sebelum tanggal 12 September, beberapa kali memang dilakukan tabliq akbar sehubungan dengan UU tentang asas tunggal atau kasus jilbab. Hal seperti itu ditanggapi betul masyarakat Priok.
Pada 12 Sepetember itu Yusron hadir di pengajian, di jalan Sindang Raya. Massanya tak hanya dari Priok, tapi juga dari Jabotabek. Pembicaranya antara lain Syarifin Maloko, Pratono, Yayan Inderayana, dan terakhir yang kapasitasnya bukan sebagai penceramah adalah Amir Biki.
Amir Biki hanya sebagai tokoh masyarakat. Beliau naik ke mimbar dan menyatakan kepada massa bahwa ada 4 orang jemaah pengurus musalah as-Sa’adah dan Baitul Makmur yang ditahan Kodim. Dari atas mimbar, Amir meminta kepada aparat agar mereka dibebaskan. Dengan Ultimatum, jika sampai pukul 23.00 tidak dibebaskan, massa yang hadir pada malam itu akan bersama-sama meminta.
Ternyata sampai pukul 23.00 tidak dibebaskan. Akhirnya, massa bergerak dan dibagi dua, dipimpin oleh Amir Biki. Satu menuju ke arah Koja dan satu menuju Kodim. saya ikut bergerak ke arah Kodim. Belum sampai Kodim, jaraknya masih sekitar 5 kilo lagi, tepatnya di depan Polres, kami sudah dihadang, Tentara membuat barisan menutup jalan, dengan posisi siap tembak. Jarak antara kami dan petugas sekitar sampai 10 meter. Kami berhenti. Jadi, tidak ada perlawanan. Massa hanya bertakbir.
Tapi tiba-tiba, tanpa tembakan peringatan, mereka menembak ke arah massa. Banyak yang kena. Saya sendiri tidak tahu kapan tertembak. Saya menyuruh teman-teman untuk tiarap. Ketika saya pegang dada kiri, sudah berlumuran darah. Ternyata badan saya sudah berlubang-lubang. Ada seseoarang di dekat saya yang hendak melarikan diri. Saya ingatkan supaya tidak lari. Betul saja, begitu bangun dia langsung ditembak.
Kemudian tembakan mereda. Dari arah utara menuju selatan, mobil tentara datang. Saya yakin betul-karena melihat sendiri-bagaimana mobil tentara melindas massa yang masaih tiarap. Berapa meter setelah melewati massa, barulah berhenti.
Mereka lalu memilah mana yang masih hidup dan mati. Waktu itu saya tidak pingsan, tapi saya pura-pura mati. Kepala saya sempat diinjak dan akan ditembak lagi. Karena takdir Allah, peluru meleset. Setelah mereka yakin saya mati, saya dilemparkan dua orang ke atas truk. Korban hanya ditumpuk. Ada yang mati dan ada yang masih hidup. Dari situ kami dibawa ke RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat). Di RSPAD itulah saya berteriak bahwa saya masih hidup. Kemudian saya diseret dan dibawa ke ruangan. Dada saya ditambal, tidak dioperasi. Bagian-bagian lubang dijahit. Kalau tidak salah, salah satu yang menangani adalah dokter Sutopo.
Setelah tiga bulan dirawat di sana, kami digiring ke rumah tahanan militer (RTM), Cimanggis. Sebelumnya dibawa ke Guntur untuk diinterogasi.
Saya masih memakai baju rumah sakit dan masih banyak perban di tubuh. Perlakuan pada saya tidak terlalu kasar meskipun tendangan dan pukulan sempat mendarat. Tidak separah teman-teman yang lain, yang mengaku dijadikan bola. Di Guntur hanya sehari. Di RTM Cimanggis, kurang lebih di bulan. Itu pun tanpa ada pemberitahuan kepada keluarga. Saya baru bertemu dengan orang tua setelah tiga bulan kejadian.
Di pengadilan, saya divonis satu tahun. Tanggal 17 Agustus 1985 saya bebas. Tidak lama setelah itu, pada saat pengadilan HR Darsono, saya dengar kabar bahwa saya dianggap bisa menjadi saksi yang berbahaya. Malam itu juga saya berinisiatif meninggalkan rumah. Ternyata benar, pagi-pagi petugas datang ke rumah.
Pak lurah juga ikut sibuk mencari saya. Bahkan dia membawa mobil dan berjanji kepada orang tua saya, asal saya tidak memberikan kesaksian. Itu cara yang halus. Yang kasar, rumah saya setiap hari dijaga intel. Pembicaraan apapun disadap.
Sejak saat itu, di antara teman-teman, saya yang paling aktif menuntut kasus ini diungkap kembali. Bukan masalah dendam, tapi keadilan harus ditegakkan. Pemimpin sudah berganti dan kasus ini tetap tak tuntas. Dulu Soeharto diganti Habibie, tenyata begitu juga. Habibie tidak bisa menyelesaikan. Masa Gus Dur juga akan seperti itu?
Menurut saya, pelaku utama tentu saja komandan Kodim karena dia tidak koordinasi dengan Polres. Ketika saya disidangkan, Butarbutar (Dandim Jakarta Utara) tidak berani memberikan kesaksian. Kedua, Try Soetrisno sebagai Pangdam Jaya. Dia pasti sangat mengetahui prakondisi saat itu, tapi membiarkan atau bahkan mendorong. Pada saat kejadian, Benny Moerdani (Pangab) juga mengetahui. Paling tidak, tiga orang itulah yang harus diminta keterangan. Apakah itu di DPR, di Komnas HAM, atau di Kejaksaan. Apakah Try atas perintah Pangab? Atau mungkin atas perintah Pangap? Kan, mungkin saja Seoharto yang menyuruh.
Rusman
Tulisan berdasarkan wawancara dengan Yusron Zaenuri, Korban Tragedi Tangjungpriok. Telah terpublikasi di Tabloid DeTAK No. 83 Tahun ke-2, 29 Februari-6 Maret 2000.
Selasa, 03 Juni 2008
Saya Khawatir Marsilam Berkelahi dengan Banyak Orang
Wawancara dengan Arief Budiman, Pengamat Politik dan Anggota FordemBagaimana Anda melihat cara Gus Dur menempatkan pembantu-pembantunya?
Menurut saya, Gus Dur sebaiknya mengambil teman-temannya yang dia percaya saja. Kalau dia buat tim yang separuh-paruh seperti sekarang, akhirnya bukan saja rugi buat Gus Dur, tetapi juga buat Indonesia seluruhnya.
Apakah penilaian Anda itu berlaku juga dengan masuknya Marsilam dan Bondan?
Silam (Masilam, red) adalah orang yang pandai dan tajam dan juga berani menentang Gus Dur. Dia itu orangnya jujur dan berani bertindak. Yang saya khwatirkan, kadang-kadang memang kurang toleransi dan kurang sabar.
Sedangkan Bondan orangnya sangat membantu. Dia adalah orang yang selalu memberikan fasilitas, dan pandangan-pandangan dan relasinya cukup banyak. Jadi dia akan banyak memberikan kontak-kontak dengan kelompok yang beragam-ragam. Bondan adalah orang yang selalu bisa menghubungi orang-orang yang berbeda prinsip sekalipun. Kalau Silam adalah tukang melakukan sesuatu, kalau Bondan seperti solidarity maker-nya.
Terkesan Marsilam agak temparemental, apakah Anda yakin dia betah pada posisinya?
Bila Gus Dur masih mempertahankan kabinetnya yang sekarang, saya khawatir Silam berkelahi dengan banyak orang. Mestiya buat tim yang kompak dan searah supaya Silam tidak usah melakukan konflik-konflik yang tidak perlu. Saya kira Gus Dur kasih warna dia dan jangan tanggung-tanggung lagi. Dia (Gus Dur, red) harus menghadapi kelompok oposisi. Jadi harus ada oposisi, sehingga menjadi sehat demokrasi di negara kita.
Anda melihat masuknya Bondan dan Marsilam hanya akan sebagai bempernya Gus Dur?
Tidak apa-apa jika kebutuhan kita adalah pemerintahan yang kuat dan oposisi yang kritis. Di zaman Soeharto, orang beroposisi dibilang mau berkhianat, mau menghancurkan negaranya. Menurut saya, Amien Rais biar menjadi oposisi, itu lebih baik daripada tanggung-tanggung. Jadi dia serang Gus Dur dan Gus Dur mempertahankan diri. Gus Dur menyerang Amien Rais, itu lebih baik. Yang perlu kita belajar ”serang menyerang” tapi tanpa melakukan serangan fisik.
Menurut Anda permainan politik apa yang dilakukan Gus Dur, sementara tugas-tugas kabinet banyak terbengkalai?
Gus Dur sudah agak bergeser, tapi belum jauh. Pertama kali dia membuat kabinet dengan resep gotong-royong, itu akomodatif sekali. Sekarang ini dia ganti-ganti orang. Dia melakukan intimidasi kepada kabinetnya sendiri, misalnya dengan mengatakan di kabinetnya ada yang KKN dan segala macam. Dan akibatnya tidak sehat buat Gus Dus sendiri. Buat seluruhnya kabinetnya tidak enak juga. Pimpinannya melakukan semacam kasak-kusuk, komentar di luar bahwa ada yang korup dan akan ada yang diganti. Itu tidak benar saya kira.
Saya harapkan bila memang ada reshufle, ya lakukan reshufle yang tegas dan jelas. Kalau sekarang, dia bicara tetapi tidak melaksanakan. Jadi sepertinya Gus Dur sebagai neragawan yang tidak profesional. Dia presiden, tetapi juga komentator. Kalau jadi komentator jangan jadi presiden, jangan di dalam eksekutif.
Bagaimana dengan peran TNI sendiri?
Saya kira TNI juga harus dibereskan oleh Gus Dur, tapi TNI kan punya kekuatan sendiri. Di sini Gus Dur harus hati-hati. Saya melihat pada saat sekarang posisi politik Gus Dur kuat sekali terhadap TNI. Bila TNI akan mengkudeta, seluruh Indonesia melawan TNI. Karena TNI namanya sedang jelek sekali. Mungkin yang dilakukan TNI adalah resistensi pasif saja. Jadi Gus Dur memilih orang-orang TNI yang patuh dengan dia.
Anda melihat ada ancaman dari Poros Tengah?
Saya mleihat mereka tidak terlalu kuat dan terpecah-pecah. Poros Tengah saya kira mempunyai kepentingan untuk masalah Ambon, terutama sebagai isu untuk mempersatukan mereka. Tapi bila untuk menjatuhkan Gus Dur, saya kira itu soal lain. Banyak orang yang tidak puas dengan Gus Dur, itu mungkin. Saya juga tidak puas dengan Gus Dur. Tapi kalau yang lainnya menjadi presiden, saya tidak lihat akan lebih baik. Jadi kita mendukung Gus Dur tetapi dukungan kita bermuatan sangat kritis.
Apakah Anda melihat DPR dan MPR sekarang terjadi suasana kritis?
Sekarang ini paling hanya Amien Rais yang teriak-teriak. Artinya, suara Amien Rais lebih keras daripada suara MPR sendiri.
Tapi Amien Rais ketika mengkritik kadang-kadang tidak dilihat sebagai ketua MPR?
Sebenarnya, sebagai ketua MPR, dia tidak usah sevokal itu, karena urusan MPR hanya urusan Garis-garis Besar dengan kabinet-kabinet.
Anda mendengar sebelumnya bahwa Bondan dan Silam akan direkrut oleh Gus Dur?
Yang saya tahu, Marsilam semula mau direkrut menjadi menteri, kemudian ditentang.
Rusman
Wawancara terpublikasi sebelumnya di Tabloid DeTAK No. 77 Tahun ke 2, 18-25 Januari 2000
Wiranto Membiarkan Keadaan Saat Itu

Wawancara dengan Albert Hasibuan, Ketua KPP HAM seputar pengusutan kasus pelanggaran HAM di Timor-Timur. Berikut wawancaranya:
Didalamnya ada tuntutan tanggung jawab moral dan tanggung jawab hukum. Tanggung jawab moral tidak mempunyai implikasi hukum. Tetapi dia bertanggung jawab secara moral karena ketidakmampuan, serta ada kesan membiarkan. Sedangkan pertanggungjawaban sebagai hukum ditujukan kepada mereka yang berbuat secara langsung.
Jadi, para terperiksa ini ada dua kategori: yang bertanggung jawab secara moral dan bertanggung jawab secara hukum. Tapi kita belum bisa pastikan apakah Wiranto, Adam Damiri, Eurico Guterres, Joao Tavares, Bupati, Danramil, dan sebagainya harus bertanggung jawab secara moral atau secara hukum.
Kabarnya ada rekaman kaset yang berisi ”intruksi khusus” Wiranto kepada sejumlah komandan milisi?
Kita tidak tahu kaset itu. Tetapi memang dari pemeriksaan, dapat dibuktikan bahwa Wiranto telah membiarkan keadaan saat itu (pembantaian dan pembumihangusan,red). Tapi, di lain pihak, dia juga memberikan instruksi secara benar. Memberikan instruksi untuk menghentikan pembumihangusan dan sebagainya. Wiranto juga mengadakan usaha-usaha perdamaian.
Namun, kenyataannya berlainan sekali. Terjadi pembumihangusan, pembunuhan, dan sebagainya. Karena itu, KPP HAM melihat, terhadap hal itu, Wiranto bertanggung jawab secara moral dan dikaitkan dengan mosi tindakan pembiaran. Tetapi hal ini tidak memberikan implikasi hukum.
Jelasnya bagaimana?
Pertanggungjawaban moral adalah mungkin saja secara administratif. Tapi tidak dilakukan penuntutan hukum.
Bukankah selaku Panglima TNI saat itu Wirantolah orang yang bertanggung jawab?
Pak Wiranto tidak terlihat secara langsung pembumihangusan. Tidak ada bukti-bukti bahwa Wiranto menyuruh, menginstruksikan pembumihangusan, atau pembunuhan. Malahan sebaliknya, dia melakukan instruksi secara benar: perdamaian antara prokemerdekaan dan prointegrasi. Tetapi, sekali lagi, walaupun Wiranto melakukan instruksi secara benar, tapi keadaan berbeda. Dia tidak mencegah kegiatan itu secara efektif, malahan membiarkan.
Nah, apakah itu bukan kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum?
Laporan akan kami serahkan ke Jaksa Agung. Kalo Jaksa Agung melihat ada faktor-faktor yang bisa disidik lebih jauh, bisa saja. Tapi kita sampai pada kesimpulan bahwa Wiranto bertanggung jawab secara moral.
Menurut Anda, apa yang harus dilakukan Jaksa Agung setelah menerima laporan KPP HAM?
Jaksa Agung menindaklanjuti mereka yang bertanggung jawab secara hukum. Itu otomatis. Dan bisa saja termasuk yang bertanggung jawab secara moral.
Jadi, masih ada kemungkinan Wiranto diadili di pengadilan HAM?
Itu saya serahkan kepada Jaksa Agung, yang adalah penindak lanjut dan aparat penyidik. Kalau memang cukup alasan untuk menyidiknya, silahkan.
Bagaimana sikap KPP HAM sendiri?
Saya pikir Wiranto bertanggung jawab secara moral karena dia tidak kapabel dan tidak kompeten. KPP HAM hanya melihat itu. Dan kelanjutan dari masalah tersebut ada di tangan Jaksa Agung. Apabila Jaksa Agung melihat pada pertanggungjawaban moral ini dimungkinkan untuk disidik, kami sangat bergembira.
Komisi HAM PBB rencananya juga akan mengumumkan hasil penyelidikannya. Bagaimana bila nanti ada perbedaan dengan kesimpulan KPP HAM?
Secara formal, laporan dari komisi PBB memang akan diumumkan juga Senin, 31 Januari. Tapi laporan KPP HAM kepada Komnas HAM dan kepada publik tidak ada kaitannya sama sekali. Tetapi, karena objeknya itu sama: salah satunya menyelidiki pelanggaran HAM di Timtim, mungkin saja ada persamaan-persamaan satu dengan yang lain.
Tetapi kita tetap berpegang kepada kemandiran KPP HAM, dan kita berpegang pada objektivitas. KPP HAM tidak mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi apakah laporan komisi internasional itu bisa didramatisasi atau tidak. Secara formal, laporan komisi internasional tidak ada kaitannya. Tetapi, secara tidak langsung, mungkin ada kesamaan-kesamaan.
Sekiranya ada perbedaan, apakah tidak akan menimbulkan sorotan dunia internasional?
Saya rasa sorotan internasional kepada Indonesia itu tergantung pada bagaimana laporan KPP HAM. Apakah laporan itu bisa dipercaya atau tidak? Apakah kredibel atau tidak? Karena itu, KPP HAM berusaha sekredibel mungkin untuk menunjukkan siapa-siapa yang bertanggungjawab atas pelanggaran HAM di Timtim. Dan penyebutan nama-nama yang bertanggung jawab ini akan sedikit banyak menentukan kredibilitas KPP HAM, sekaligus kredibilitas kita semua.
Rusman
Wawancara berlangsung di kantor Komnas HAM, Jakarta dan terpublikasi di Tabloid DeTAK No. 79 Tahun ke 2, 1-7 Februari 2000
Sabtu, 24 Mei 2008
Apa yang Bisa diharapkan dari Kekuasaan?

Wawancara dengan mendiang Pramoedya Ananta Toer (Satrawan) seputar dengan usulan Gus Dur sebagai presiden untuk mencabut Tap MPRS No 25/1966. Saat itu niat Gus Dur ini sontak mendapat respon dari kalangan para Nadiyin NU. Berikut wawancaranya:
Banyak Kalangan NU menentang pernyataan maaf Gus Dur. Apa pendapat Anda?
Tidak soal. Itu pendapat orang, silahkan. Yang penting adalah dirikan hukum dan keadilan. Bukan maaf-memaafkan seperti itu. Mengembalikan apa yang dirampas saja sampai sekarang belum. Seperti rumah saya, perpustakaan yang dibakari. Naskah-naskah saya yang dibakari. Kan seluruh negara kita tidak bisa membuat naskah saya. Hanya saya sendiri yang bisa buat itu. Saya hanya hidup dari tulisan saya. Itu kan menjadi penghidupan saya. Enak saja ngomong maaf.
Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah?
Semua yang dimaling harus dikembalikan. Logika saya logika orang desa saja.
Jadi, tidak hanya sekedar minta maaf?
Tidak bisa. Negara harus mendirikan hukum dan keadilan untuk rakyatnya. Kalau negara tidak mampu melakukan itu, bubar saja negara. Kembali ke zaman penjajahan. Mungkin lebih sederhana itu dan tidak berbelit-belit seperti sekarang.
Bagaimana bila ini tidak dilakukan pemerintah?
Pemerintah saya rasa tidak akan melakukan apa-apa. Sibuk dengan pribadi masing-masing saja. Yang sudah ditangkap karena korupsi saja dilepas. Apa yang bisa diharapkan. Ini persoalan elite. Yang busuk itu elite, sehingga negeri yang begitu besarnya, negara kepulauan terbesar didunia, bisa dijajah Belanda yang sekecil ini (sambil menunjukkan ujung jarinya).
Elite di negeri ini tidak punya karakter. Kalu saya tidak bicara keras seperti ini, orang tidak akan bangun-bangun. Belanda itu melakukan politik paternalisme. Belanda mengawinkan kolonialisme dan feodalisme pribumi. Karena itu, tidak mengherankan kalu raja-raja Jawa memanggil gubernur jenderal dengan sebutan eyang.
Dari perkawinan ini, lahir anak haram jadah, yaitu sub-kelas yang namanya priyayi. Priyayi ini menjadi pemasok birokrat kolonial. Kalau ke bawah dia menuntut upeti. Kalau keatas menjilat-jilat. Dan moral ini terus berlangsung dalam elite sampai saat ini. Yah, kalau orang mau marah, silahkan.
Bagaimana dengan kondisi orang-orang kiri yang masih hidup sampai sekarang?
Sulit sekali. Kerja sana tidak bisa, kerja sini tidak bisa. Sudah tua untuk memulai yang baru juga berat. Pada umumnya sudah mati.
Tinggal berapa orang yang Anda ketahui?
Tidak sampai 50 persen. Di buku Nyanyian Sunyi saya tulis daftarnya, 40 diantaranya dibunuh oleh angkatan darat. Tidak ada pengusutan sampai sekarang. Apa yang bisa diharapkan dari kekuasaan negeri ini? Saya pernah dibawa orang ke Komnas HAM. Saya berikan buku itu pada Sugiri. Ketika saya berikan buku itu, dia malah menolak, “Jangan, jangan, buku itu dilarang.” Lalu saya bilang, “Memang dilarang, tapi untuk dokumentasi saja Pak.” Tapi, persoalannya, daftar itu tidak menarik perhatian Komnas HAM.
Bagaimana dengan ajaran kiri yang dilarang?
Mereka itu hanya ketakutan dengan ilblis yang diciptakan sendiri. Sebab, Indonesia sampai sekarang secara struktural, hidupnya dengan pengisapan golongan bawah.
Apakah masih ada kemungkinan golongan kiri mendirikan partai?
Ya, mungkin saja, tapi saya bukan juru bicara mereka.
Rusman
Wawancara berlangsung di kediaman Pram di Kawasan Utan Kayu, Jakarta di bulan Maret 2000 dan dipublikasi di Tabloid DeTAK No. 88 Tahun ke 2, 4-10 April 2000