Kamis, 25 Februari 2010
Sebanyak 350 Motif Batik Yogyakarta Telah Mendapat Hak Paten
Menurut Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta Hj Dyah Suminar mengatakan, sejak ditetapkannya batik oleh UNESCO sebagai warisan dunia, batik semakin dikenal luas di kalangan internasional. Dirinya berharap batik Yogyakarta bisa terus dikembangkan agar batik bisa benar-benar dicintai masyarakat. Selain itu, para perajin batik dituntut untuk selalu kreatif, inovatif, dan dinamis.
Dyah menambahkan, untuk mendukung kelestarian dan perkembangkan batik di Yogyakarta akan terus dilakukan berbagai kegiatan berupa pelatihan-pelatihan. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dipusatkan di Griya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jalan Tamansiswa, Yogyakarta.
Minimnya Batik motif Yogyakarta di Pasar Lokal
Berdasarkan pemantauan, penguasaan pasar batik motif Yogyakarta khususnya di DIY baru mencapai 10-20 persen dibanding batik-batik dari daerah lain, seperti Pekalongan atau Solo. Padahal menurutnya, kota Yogyakarta terkenal dengan keunggulan kain batiknya, dan banyak wisatawan yang datang langsung ke Yogyakarta untuk berburu batik.
Dyah menambahkan ketersediaan barang dan bahan batik bermotif Yogyakarta atau batik yang dibuat di Yogyakarta sendiri lebih sedikit dibandingkan motif batik daerah lain, sehingga hal itu juga mempengaruhi produksi busana motif batik Yogyakarta. Padahal jumlah pengusaha batik di Yogyakarta cukup banyak, namun produksinya belum mampu mencapai angka yang signifikan untuk lebih bisa menguasai pasar.
Melestarikan batik sebagai warisan budaya memang harus didukung oleh segala lapisan masyarakat. Dengan memakai batik dalam aktiftas keseharian setidaknya merupakan ikut berperan serta dalam melestarikan warisan budaya yang telah diakui dunia internasional. Sudahkah Anda memakai batik?
Kamis, 06 Agustus 2009
Mbah Surip, antara Perjuangan dan Kepolosannya
Gayanya terbilang sederhana. Dengan rambut gimbal, Mbah Surip selalu tampil apa adanya. Jauh sebelum dirinya ngetop-pun, ciri khasnya selalu seperti itu. Tidak ada yang berubah. Low profile dan selalu menghibur.
Bila dibandingkan dengan seniman musik lainnya, Mbah Surip terbilang sangat beruntung. Keberhasilannya menjadi seniman musik yang fenomenal tentu melalui proses panjang. Perjuangan, ketekunan dan kesabaran merupakan modal dirinya meraih sukses.
Lewat tembang bertajuk Tak Gendong, Mbah Surip berhasil menarik perhatian publik di tanah air. Mungkin karena syair lagu Tak Gendong terasa menghibur dan ”tidak njilmet, ” membuat publik terpokat. Tak heran sejak dilirisnya lagu Tak Gendong, di pasar, di mal, di kantor, di halte bus, di sekolah, lirik lagunya ini kerap terdengar. "Where are you going? Ok I`m. Where are you going? Ok my darling Ha...Ha...."
Mengenang Mbah Surip
Pengalaman hidupnya luar biasa. Mbah Surip bukan siapa-siapa, awalnya ia hanya seorang seniman jalanan. Seperti seniman jalanan lainnya, pria asal Mojokerto, Jawa Timur ini selalu mengais rejeki dari tenda ke tenda, dari warung satu ke warung yang lain.
Lagunya membawa pesan perdamaian lewat aliran Reggae yang diusungnya. "Reggae itu kan musik perdamaian, jadi damai terus," ujar Mbah Surip saat-saat awal lagunya booming.
Mbah Surip terlahir dengan nama Urip Ariyanto di Mojokerto, pada 6 Mei 1949. Mbah Surip menjadi pengamen sejak tahun 1989 menggelandang dan mengamen di Bulungan, di Kawasan Blok M.
Berdasarkan situs ensiklopedia bebas Wikipedia, Mbah Surip pernah mendapatkan penghargaan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori menyanyi terlama. Ia pernah ikut membintangi beberapa film dan beberapa kali pula tampil di televisi.
Berbagai macam profesi sempat di lakoninya, mulai pekerjaan di bidang pengeboran minyak dan tambang berlian. Mbah Surip yang memiliki gelar doktorandus, insinyur, dan MBA ini sempat mengadu nasib di luar negeri seperti Kanada, Texas, Jordania, dan California.
Mbah Surip telah mengeluarkan beberapa album musik. Album rekamannya dimulai dari tahun 1997 diantaranya, Ijo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003), dan barang Baru (2004).
Konon, lagu Tak Gendong diciptakan pada tahun 1983 saat Mbah Surip bekerja di Amerika Serikat. Mbah Surip kini telah tiada. Di usia 60, ia kembali kepada kepada Sang Khalik. Keteguhan, perjuangan dan sikap humornya serta tawa lepasnya terasa masih tergiang di ingatan.
Selamat jalan Mbah Surip kami. Doa kami dari orang-orang yang menggemari lagu-lagumu.
Rusman
Tulisan ini sebelumnya telah dipublikasikan di http://www.theglobal-review.com
Jumat, 13 Juni 2008
Dua Lakon Jenaka Itu Dimainkan
Studiklub Teater Bandung (STB) melakukan pementasan di Jakarta. STB membawakan dua lakon sekaligus, Pagi yang Cerah dan Pinangan. Pementasan teater yang sarat dengan dialog jenaka.
Donna Laura, perempuan tua bangsawan, asyik memberikan remah-remah roti kepada puluhan merpati di sebuah taman di Madrid, Spanyol. Tiba-tiba saja datang Don Gonzala, pria tua yang kaku, angkuh, dan pemarah. Ia datang dengan seorang asistennya, Juanito yang selalu menenteng tas majikannya itu. Keduanya berjalan melewati depan Laura. ”Awas hati-hati,” celetuk Laura, sambil setengah membentak Gonzola. Burung merpati yang menikmati remah-remah roti itu pun beterbangan.
Karena terusik oleh kedatangan Gonzola, Laura pun marah, pertengkaran di antara mereka terjadi. Berkat kefasihan si nyonya tua berceloteh, pertengkaran itu berubah menjadi percakapan intim. Mereka saling mengungkapkan kenangan indah semasa muda. Mulailah syair-syair indah dilantunkan. ”Duapuluh tahun berlalu, dan dia pun kembalilah. Masing-masing saling memandang...benarkah dia orangnya.....” Kedua pun larut dalam percakapan yang semakin intim.
Kemudian, percakapan di antara mereka pun berhenti. Kedua orang tua yang dulu saling mengenal itu berlalu. Keduanya meninggalkan taman dengan saling melambaikan tangan. Sebelum beranjak dari taman itu, mereka saling berjanji, bertemu kemabali suatu ketika.
Begitulah akhir dari sebuah lakon pendek Pagi yang Cerah, sebuah cerita pendek karya Serafin Alfarez Quintero dan Joaquin Alvarez Quintero. Karya yang diterjemahkan dengan baik oleh Sapardi Djoko Damono ini merupakan karya dua orang kakak beradik asal Spanyol. Tampaknya, karya yang berjudul asli Manana De Sol ini ingin mengajak kepada penonton bahwa masa lalu yang indah merupakan keniscayaan.
*****
Lakon kedua dimainkan. Kali ini lakon ditampilkan cukup menegangkan. Lakon karya Anton Povlovitc Chekhov bercerita tentang keinginan luhur dari seorang bujangan tua yang ingin meminang seorang gadis tetangganya. Pria bernama Ivan Vassilyevitch, dengan berpakaian gaya bangsawan, memakai jas dan topi, mirip pesulap, Ivan datang ke rumah gadis idamannya. Di rumah sang gadis itu ia disambut oleh sang ayah, Stepan Stepanovitch Chubukov. Setangkai bunga yang dibawanya, ia selipkan dibalik topi hitamnya. Denga perasaan gugup ia berkata kepada Stepan. ”Aku datang untuk melamar putrimu Natalya Stepanova,” kata Ivan setengah berteriak. Sontak saja Stepan menyambut hangat. ”Aku sangat bergembira dan seterusnya,” kata Stepan sambil memeluk Ivan erat-erat.
Kemudian Stepan pun beranjak memanggil Natalya Stepanova, anak tunggalnya itu. Tak lama kemudian, Natalya pun datang menemui Ivan yang terlihat gelisah dan amat gugup itu. Beberapa saat kemudian, Natalya yang heran dengan kedatangan Ivan pun membuka pembicaraan. ”Oh senangnya aku. Mengapa ayah mengatakan ada pembeli yang mau mengambil barangnya. Apa kabar Ivan Vassilyevitch?,” tanya Natalya, sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada tamunya.
Sesaat kemudian keduanya duduk saling berdekatan. Si gadis kemudian bertanya kembali. ”Dandanmu sangat cakap sekarang, ada apa?” ucap Natalya keheranan. Namun, si pria yang memiliki penyakit jantung ini tak sanggup mengutarakan keinginannya-untuk melamar- semula kepada gadis yang ada di sebelahnya itu. ”Begini Natalya Stepanova yang terhormat. Soalnya adalah aku sudah memastikan bahwa aku akan meminta engkau mendengarkan aku,” jawab Ivan berbata-bata dan terlihat gugup.
Lalu, tiba-tiba keduanya terjebak oleh pecekcokan seru. Mereka saling memperebutkan sebidang tanah. Mendengar pertengkaran antara Natalya dan Ivan, Stepanov menghampiri keduanya. ”Ada apa. Kenapa berteriak-teriak,” kata Stepanov. Mengetahui apa yang diributkan, tentu saja Stepanov membela anaknya. Stepanov pun marah dan mengusir Ivan dari rumahnya.
Ketika Ivan berlalu dari rumahnya, Stepanov pun berceloteh. Si totol itu, si jelek itu beraninya melamar dan seterusnya. Pikirkanlah......melamaaar!,” kata Stepanov dengan nada jengkel. Mendengar perkataan ayahnya, Natalya berheran-heran dan bertanya, ”Melamar siapa,” tanya Natalya ke ayahnya. ”Dia datang ke sini dengan tujuan melamar engkau,” kata Stepanov menjelaskan. Lantas Natalya mencoba memastikan kembali ucapan ayahnya itu. ”Melamar aku. Kenapa ayah tidak beritahu aku terlebih dahulu,” kata Natalya, sambil menangis menyesali kejadian tadi.
Natalya pun memohon kepada ayahnya untuk memanggilkan Ivan kembali. ”Lekas, lekas aku mau pingsan. Bawa dia kembali,” kata Natalya memohon kepada ayahnya. Tak lama kemudian Ivan pun kembali datang ke rumah tetangganya itu. Natalya dan Ivan pun kembali bercakap-cakap. Namun untuk kedua kalinya mereka berdua terjebak dalam pertengkaran. Kali ini pertengkaran di antara mereka karena mempersoalkan dua ekor anjing. Melihat ini Stepanov pun berceloteh. ”Sebaiknya engkau segera kawin. Persetan dengan kalian. Dia menerima kau. Akan kuberikan restuku padamu. Dan biarkan aku dengan tenang.” kata Stepanov memberikan pengarahan kepada Ivan.
Melalui restu ayahnya, terjalinlah cinta diantara Natalya dengan Ivan. Karya yang sarat dengan humor ini menjadi sajian yang segar untuk dinikmati.
********
Dua lakon pendek ini dimainkan sekaligus oleh Studiklub Teater Bandung (STB) di Teater Tuti Malaon, sebuah tempat pertunjukkan yang dikelola oleh Yayasan Teater Populer. STB merupakan kelompok Teater tertua di Indonesia, berdiri pada 30 Oktober 1958. Satu hal yang layak dicatat, sejak tahun berdirinya, STB tidak pernah berhenti berproduksi. Selain menampilkan pergelaran dari berbagai penulis drama dunia, STB pun secara periodik melakukan pembinaan terhadap generasi muda melalui acting course.
Pementasan yang bertajuk Bingkisan bagi Sahabat ini berlangsung pada Selasa, 26 Juni 2001. Dua lakon itu dimainkan oleh dua genarasi yang berbeda. Lakon pertama berjudul Pagi yang Cerah, diperankan oleh generasi tua. Sementara lakon kedua diperankan oleh generasi yang lebih muda. Walaupun demikian, acting kedua generasi STB ini tidak terlihat berbeda. Dua generasi itu malah berhasil memikat penonton yang jumlahnya puluhan orang.
Tentu saja harapan mengembangkan kegiatan kesenian akan terus dilakukan STB. Setidaknya ini telah mereka lakukan dengan sebuah pementasan berlakon jenaka. Rupanya, lakon bertema jenaka asyik juga untuk dinikmati.
Rusman
Terpublikasi di Tabloid DeTAK No. 146 Tahun ke-3, 4-10 Juli 2001
Sabtu, 24 Mei 2008
Buku Kiri, Riwayatnya Kini

Di zaman Soeharto, karma dilarang, buku-buku kiri dicari orang. Di zaman Gus Dur, karena tidak dilarang, buku-buku kiri dicemaskan sebagian orang.
Yang kiri dan yang kanan sempat hidup dalam kebersamaan. Di zaman “Nasakom” dulu, buku-buku kiri bebas beredar sebagaimana buku-buku kanan. Peminatnya biasa-biasa saja, terlalu sedikit tidak, kelawat banyak pun tidak. Maklumlah, dari dulu hingga kini, orang Indonesia yang suka membaca buku terbilang yang itu-itu juga: paling kalangan intelektual atau orang-orang sekolahan.
Bung Karno turun, Soeharto naik. Nah, di zaman Orde Baru-lah situasinya jadi berubah: Si Kanan diutamakan, sedang Si Kiri dimatikan. Buku-buku yang dianggap kiri dicekik sensor ekstraketat. Buku-buku seperti itu diharamkan terbit di negeri ini. Bahkan, para penulisanya pun mengalami nasib nahas. Banyak penulis dijebloskan ke dalam bui, hanya gara-gara dituduh menebarkan pemikiran kiri.
Karena hukum tidak punya supremasi, pelarangan terhadap buku-buku kiri dilakukan seenak perut penguasa. Tidak melalui jalur hukum. Anda pun tahu, bagaimana janggalnya proses pelarangan terhadap karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Tanpa dikasih kesempatan untuk membela diri di pengadilan, Pram dan karya-karyanya diperosokkan ke dalam pasungan.
Akibat pelarangan tersebut buku-buku yang berbau kiri hilang dari pasaran. Buku-buku tersebut tidak terlihat lagi di toko-toko buku. Tiba-tiba saja buku jenis itu menjadi barang yang langka. Tapi justru karena dilarang, buku-buku kiri dicari banyak orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa pelarangan itu malah menjadi iklan gratis. Inilah sisi yang tampak bodoh dari kekuasaan Orde Baru.
Waktu itu, kelangkaan buku kiri tampaknya dimanfaatkan oleh segelintir penjual buku yang terbilang berani. Para penjual buku-buku terlarang mulai memperbanyak bawaan dagangannya. Bahkan, mereka juga menjual buku terlarang tersebut dalam bentuk fotocopi. Dan biar fotocopi, banyak juga yang membeli.
Berjualan buku-buku kiri ketika itu jelas beresiko tinggi. Karena itu cara berjualannya pun bersembunyi-sembunyi. Biasanya buku-buku itu dijajakan dengan cara door to door. Bahkan, para penjual buku kiri ini terkenal dengan julukan “toko buku berjalan.” Penghasilannya cukup lumayan. Bisalah dipakai menghidupi keluarganya meski ala kadarnya.
Dari hitung-hitungan bisnis penerbitan, menerbitkan buku-buku terlarang ketika itu sebetulnya cukup menggiurkan. Pasalnya, buku-buku jenis itu bisa cepat terjual. Namun, dari hitung-hitungan politis, tentu saja seperti itu bisa bikin miris. Tinggi nian resikonya. Disaat Soeharto berkuasa, hanya ada segelincir penerbit yang punya nyali menerbitkan karya-karya kiri. Sebut saja penerbit Hasta Mitra yang didirikan oleh tiga serangkai Pramoedya Ananta Toer, Hasjim Rahman (alm.), dan Joesoef Isak. Penerbit kecil ini kerap mendapat tekanan dari kaki tangan si empunya kekuasaan.
Walaupun demikian, penerbit Hasta Mitra tetap menjalankan bisnisnya. Bagi Hasta Mitra, menerbitkan karya pengarang sekelas Pramoedya merupakan sebuah perjuangan politik. Setidaknya ini dibenarkan oleh Joesoef Isak, editor Hasta Mitra. Menurutnya, selain karena karya Pram terbilang baik, menerbitkan buku karangannya terdorong oleh keinginan lain: menegakkan demokrasi.
“Kita sebenarnya ikut menyumbang kebebasan demokrasi,” kata Joesoef kepada DeTAK. Dia Juga bilang, kalau saja Hasta Mitra tidak menerbitkannya, mungkin karya Pram tidak dibaca orang di luar negeri. Pastilah ini sebuah kebanggan bagi penerbit Hasta Mitra. Pasalnya, sekarang ini karya-karya Pram telah diterjemahkan ke dalam hampir dua puluh bahasa di dunia.
Bukan hanya karangan Pram, buku kiri yang sempat beredar di era Soeharto. Banyak karya lain yang tergolong kiri yang juga beredar ketika itu. Sebut saja karya besar Tan Malaka, seperti Gerpolek, Madilog, dan Dari Penjara ke Penjara. Saat itu buku-bukunya beredar dalam bentuk fotocopi. Walaupun begitu, buku-buku tersebut tetap laku, terutama dikalangan mahasiswa.
Kini, ditengah ancaman sweeping, buku-buku kiri dapat diperoleh di toko-toko buku. Namun, buku-buku yang beredar tersebut bukan buku dengan judul baru. Maklum, sebagian besar merupakan revisi dari cetakan lama yang pernah terbit sebelumnya. Hanya, para penerbitnya merupakan pendatang baru. Entah apa yang membuat para penerbit, seperti Lentera, Bentang Budaya, atau Teplok merevisi buku-buku lama.
Lantas, mengapa karya-karya yang tergolong kiri itu menjadi lahan bisnis para penerbit? “Menjual buku seperti karya Pram cepat pulang modalnya,” kata Joesoef menyakinkan.
Rusman dan Ahmad Setiawan (Kini Produser di radio El-Shinta)
Dipublikasikan di Tabloid DeTAK No. 139 Tahun ke-3, 16-22 Mei 2001
Rabu, 02 April 2008
Satu Pemimpin, Satu Wangsit
Dari generasi ke generasi masyarakat adat kasepuhan tetap memelihara tradisi. Untuk menentukan pemimpin, juga untuk membuat keputusan penting, mereka masih mengandalkan isyarat langit. Inilah bagian kekayaan budaya dari salah satu "penghuni" Gunung Halimun Selatan.
Di kaki Gunung Halimun Selatan tersembunyi beberapa dusun. Di antaranya ada Dusun Cicemet, Sirnaresmi dan Ciptarasa. Masyarakat di tengah belantara itu, seperti galibnya masyarakat adat Sunda, tetap menjalankan "adat kasepuhan" alias tata cara warisan leluhur mereka. Listrik dan televisi memang sudah merasuk ke taman nasional di Sukabumi itu. Namun, tradisi yang terwariskan masih terus dijalankan.
Masyarakat adat itu bermukim di tempat yang biasa disebut lembur atau pilemburan. Permukiman mereka berpencaran di antara bebukitan. Dusun yang satu menjalin pergaulan dengan dusun lainnya.
Di dusun-dusun itu hidup pula aneka kesenian. Misalnya saja wayang golek, tari topeng dan tari jipeng. Ada pula pantun, tutukrojot, debus dan angklung. Semua hiburan biasa digelar tiap kali diselenggarakan perhelatan besar semisal serah taun atau seren taun, upacara untuk mensyukuri hasil panen yang baik dan melimpah.
Tabu-tabu tetap dituruti. Tak ada rumah beratap genting. Tak pernah dalam setahun padi ditanam hingga dua kali. Tak pernah sawah ditanami dengan bibit dari luar dusun. Juga tak ada ceritanya penduduk menjual padi. "Semua itu amanat leluhur," kata Abah Anom, pemuka adat kasepuhan.
Bila ada yang melanggar tabu, sanksinya tak langsung dijatuhkan oleh pemuka adat. Mereka percaya, sanksi pasti datang dengan sendirinya berupa penyakit atau kutukan dari para leluhur mereka. Melanggar tabu berarti kuwalat, dan bisa berakibat gawat.
Hutan bagi masyarakat kasepuhan dijadikan tempat yang keramat. Masyarakat kasepuhan percaya bahwa hutan ada penghuninya. Sehingga ada larangan menebang pohon yang besar. Bila larangan ini dilanggar, biasanya sipenebang akan mengalami sakit.
Masyarakat kasepuhan memiliki legenda yang unik. Mereka percaya bahwa harimau jawa atau Lodaya dan Sancang bukan hewan sembarangan. Misalnya Lodaya, dianggap oleh masyarakat sebagai harimau titisan dewa. Sedangkan Sancang sebagai harimau jawa biasa yang lebih rendah dari Lodaya. Hewan ini dapat berkomunikasi dengan beberapa penduduk dengan cara mistik.
PEMIMPIN DAN WANGSIT
Abah Anom adalah julukan bagi pemimpin masyarakat adat kasepuhan. Nama sebenarnya dari Abah Anom yang sekarang adalah AE Sucipta S. Usianya baru 35 tahun. Dalam sejarah dusun-dusun di kaki gunung itu, ia adalah pemimpin adat yang kedelapan.
Tata cara menentukan pemimpin juga tak berubah dari generasi ke generasi. "Abah menjadi pemimpin kasepuhan tidak dipilih oleh masyarakat. Tapi atas wangsit yang datang pada ayah abah," kata Abah Anom.
Wangsit adalah semacam ilham yang datangnya tidak terduga dan diluar kuasa manusia. Itu mungkin sejenis isyarat langit yang dipercaya para pengikut Abah Anom. Selama wangsit belum terbersit, pemimpin baru tak bisa diakui. Konon, di antara ketujuh pemimpin terdahulu mereka, ada yang menjalankan kepemimpinannya hingga 175 tahun lamanya.
Abah Anom jauh lebih tangguh dari Presiden di negeri ini. Tak pernah ada yang mempertanyakan hak prerogatif Si Abah untuk mengangkat atau memecat para pembantunya. Si Abah sendirilah yang langsung mengangkat siapa saja yang dinilai layak duduk dalam kabinetnya. Dan, sudah pasti, tiap-tiap pembantunya punya keahlian tersendiri, semisal di bidang agama, pertanian, dan keamanan. Utusan Si Abah banyak juga. Katanya, ia punya utusan sebanyak 567 orang yang tersebar di berbagai dusun masyarakat adat kasepuhan. Di Cicemet saja, tempat isteri keduanya bermukim, ada 28 orang utusannya.
Menjadi seorang Abah Anom berarti mesti menganut agama Sunda Wiwitan. Kata Abah Anom, kepercayaan sunda wiwitan merupakan agama yang "sudah diislamkan, sudah dikristenkan, sudah dikatolikkan, dan sudah dibudhakan". Uniknya, warga kasepuhan sendiri diberi kebebasan untuk memilih agama yang dikehendaki mereka. Umumnya, masyarakat kasepuhan memeluk Islam. Isteri dan anak-anak Abah Anom memeluk Islam pula.
Ibadat Sunda Wiwitan dilakukan satu kali sehari tiap pukul duabelas malam. Di tengah malam itulah, Abah Anom mendekatkan diri kepada tuhannya. Ia bersembahyang dengan cara bersemedi di sebuah ruangan khusus di rumahnya sendiri.
WANGSIT DAN PERMUKIMAN
Wangsit tidak hanya berlaku dalam memilih pemimpin adat. Isyarat langit itu pun bisa berlaku untuk menentukan tempat permukiman baru. Masyarakat ini pada hakikatnya memang masih menjalani pola hidup berpindah-pindah. "Bila tiba-tiba datang wangsit untuk pindah, kita harus pindah," papar Abah Anom. "Secara lahir sebetulnya perpindahan itu yang ditakutkan Abah."
Konon, masyarakat kasepuhan pada mulanya adalah bagian dari masyarakat Baduy. Namun, mereka keluar memisahkan diri dari masyarakat utamanya. Alasan utama adalah karena ada wangsit yang datang pada mereka. Perpindahan merupakan suatu yang harus dijalani oleh Masyarakat Kasepuhan. Mulanya dari Banten mereka berpindah ke daerah Guradok Kaler, Bogor. Kemudian mereka berpindah ke daerah Gongkok Citoreng. Dari daerah Gongkok Citoreng akhirnya mereka pindah ke Lebak Binong. Generasi selanjutnya berpindah ke daerah Sirna Resmi dan kemudian Sirna Rasa sampai Linggarjati, Sukabumi. Akhirnya, sejak tahun 1984 hingga kini Abah Anom bermukim di dusun Cipta Rasa. (sekitar 2 tahun setelah tulisan ini dipublikasikan tidak lagi di Cipta Rasa)
Bila terjadi perpindahan, tidak semua warga harus ikut ke tempat pemukiman yang baru. Seorang Abah Anom tidak memaksa pengikutnya agar pindah ke pemukiman yang baru. Semua diserahkan kepada pengikutnya untuk memilih, tinggal atau ikut tempat yang baru. "Abah tidak bisa memaksa mereka. Mereka kan punya hak memilih," kata Abah Anom lagi.
Inilah sekelumit kehidupan masyarakat adat Kasepuhan dari waktu ke waktu. Mereka sangat percaya dengan kebiasaan para leluhurnya. Harapan akhir mungkin, semoga kekayaan budaya tidak pupus oleh zaman. Apapun, mereka adalah bagian dari kekayaan yang ada di Gunung Halimun.
rusman
Tulisan ini pernah dipublikasi di Tabloid DeTAK tahun 2000, setelah mengikuti kunjungan ke Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat.