Kamis, 31 Juli 2008

Mahasiswa dan Transformasi Pemikiran

Mahasiswa merupakan masyarakat ilmiah yang memiliki peran dalam melakukan perubahan diberbagai segi kehidupan, seperti ekonomi, politik, budaya dan lingkungan. Peran mahasiswa dalam melakukan perubahan diberbagai segi kehidupan itu senantiasa selalu mendapat sorotan oleh masyarakat diluar kampus. Sehingga mau tidak mau mahasiswa sebagai kaum intelektual dengan pola pikir dan daya nalar yang dimiliki harus peka terhadap persoalan sosial yang ada dimasyarakat.

Kaum intelektual, dalam hal ini mahasiswa mempunyai fungsi dalam masyarakatnya untuk mengakumulasikan, memberi, membentuk dan menyebarkan nilai-nilai kebenaran abadi, kebahagian kepada masyarakat. Secara yuridis formilnya, kampus atau Perguruan Tinggi di Indonesia mempunyai fungsi: Melaksanakan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Dikampuslah mahasiswa menimbah ilmu pengetahuan secara teoritis. Fungsi Penelitian ditujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tanpa proses penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan tidak bermanfaat. Dan fungsi Pengabdian Masyarakat berarti mahasiswa harus selalu tanggap, kritis dan melakukan tindakan-tindakan yang kongkrit seperti ide-ide, pemikiran ilmiah dalam bentuk penyadaran pada masyarakat.

Berbicara transformasi berarti bicara perubahan yang diinginkan dalam kondisi, situasi dengan ”sistem” yang dihadapi. Ada empat faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat, yaitu tokoh, kebetulan, norma dan massa. Dari empat faktor tersebut yang terpenting adalah norma dan massa. Karena norma cenderung dapat membentuk pola pikir dan tingkah laku seseorang. Sedangkan dengan massa, kekuatan akan semakin mudah terhimpun dan ide-ide pemikiran semakin terwakili dari perorangan di dalam massa tersebut.

Berkembangnya Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) dan menjamurnya gerakan penyadaran cenderung membawa ”nuansa” pada transformasi pemikiran. Sebagian pengamat menilai, kecenderungan munculnya KSM dan gerakan penyadaran ini lebih berorientasi pada penyadaran dan penyesuaian dengan realitas kekuasaan, bukan menentang langsung kekuasaan. Dari asumsi itu timbul pertanyaan apakah dengan tumbuhnya kelompok seperti itu akan terciptanya transformasi pemikiran.

Agaknya kondisi ini tercipta karena adanya kevakuman ”sistem” yang ada sehingga diperlukan tindakan penyadaran dalam berbagai lapisan, minimal di tubuh mahasiswa sendiri. Mahasiswa jelas mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sadar maupun tidak sadar, mahasiswa akan mengalami proses itu.

Sementara itu, dari kaca mata ke-intelektualan, dari sisi akademis, mahasiswa ingin mengembangkan pemikirannya dalam satu tindakan yang mereka rasa butuh ”penyaluran”. Karena seringkali mahasiswa menyadari bahwa apa yang didapat dari bangku kuliah hanya sekedar teoritits belaka. Dan teori yang didapat perlu dikembangkan dalam tindakan yang lebih kongrit. Sepertinya kondisi ini akan terus berkembang sehingga akan terjadi suatu ”transformasi pemikiran” secara simultan.

Ada suatu pandangan positif dari berkembangnya KSM dan gerakan penyadaran. Diantaranya bahwa dengan tumbuhnya gerakan penyadaran semacam itu, mengingat kita pada masa pra-kemerdekaan. Dimana pada masa itu, mahasiswa dengan dasar-dasar pemikirannya berjuang melawan penjajahan. Bila kita ingat apa yang dilakukan oleh Bung Hatta, dengan Indonesia Merdeka, dimuka pengadilan Belanda di Den Haag (1927), dan keberanian Sukarno untuk membela diri dalam perjuangan nasional dengan Indonesia Menggugat , di depan Landraa Bandung (1930). Dari kedua kejadian itu akan terlihat peran mahasiswa yang begitu besar membela bangsanya.

Sekarang fungsi itupn nampaknya masih sangat relevan. Karena dengan pola pikir, dya nalar dan ilmu pengetahuan yang dimiliki, mahasiswa akan berupaya menuju transformasi pemikiran yang diinginkan. Sekaligus menciptakan, melakukan perubahan yang tidak hanya perubahan saja. Tetapi juga membentuk masyarakat adil dan makmur yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia.

Menjamurnya KSM dalam bentuk kegiatan diskusi-diskusi cenderung mambahas masalah-masalah sosial kemasyarakatn. Dengan diskusi dapat bertukar pikiran dari orang perorang atau kelompok sehingga menimbulkan ide-ide, pmikiran yang sama dalam melakukan perubahan. Perubahan yang diinginkan seputar perubahan sosial kemasyarakatan selama jenjang pembangunan dimasa orde baru ini. Central masalah yang diangkat oleh kelompok diskusi adalah masalah kerakyatan.

Disisi lain timbul suatu pertanyaan mengapa mahasiswa cenderung memilih aktifitas diluar kampus dan terjun ke KSM maupun LSM? Bila dilihat kondisi ini terjadi karena sudah tumbuh kesadaran sosial pada mahasiswa. Dan asumsi yang alin karena ruang gerak mahasiswa di dalam kampus semakin sempit. Apalagi sejak dikeluarkan penerapan normalisasi kehidupan kampus (NKK) dengan menugaskan rektor Perguruan Tinggi sebagai penanggungjawab tertinggi di kampusnya. Akhirnya NKK membatasi partisipasi politik mahasiswa sehingga adanya ”keterbatasan beraktifitas.”

Pada dasarnya apa yang dilakukan mahasiswa untuk menuju perubahan atau transformasi memerlukan nafas yang panjang. Yang terpenting dalam bertindak adalah ikhlas dan sabar. Dan sikap konsisten dan pantang menyerah. Karena percayalah ”Allah tidak mengubah keadaan suatu kamum, hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (QS 13:11). Pembagian peran gerakan menuju perubahan yang dicita-citakan di negeri ini masih perlu dilakukan. Akhirnya mahasiswa sebagai anak bangsa masih memiliki tugas menuju Indonesia yang dicita-citakan.

Rusman
* Disampaikan pada diskusi internal di Komisariat HMI Cabang Jakarta Fakultas Ekonomi Universitas Nasional, 1995

Rabu, 23 Juli 2008

Pembangunan Ekonomi Indonesia ditengah Arus Globalisasi: bagian 4

Konsistensi Pelaksanaan Pembangunan

Apapun yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi di Indonesia tidak terlepas dari konsistennya terhadap pelaksanaan pembangunan terutama pembangunan dalam bidang ekonomi. Kondisi perekonomian di Indonesia juga tidak terlepas dari gejolak-gejolak ekonomi di tanah air yang diwarnai oleh terjadinya kasus likuidasi terhadap 16 Bank yang ada merupakan salah satu konsistensi pemerintah terhadap pelaksanaan pembangunan ekonomi di Indonesia.

Dari uraian diatas, tantangan bangsa Indonesia kedepan semakin besar dan semakin kompleks. Untuk itu komitmen dan konsistensi yang besar bagi terciptanya tujuan pembangunan menjadi rujukan bagi setiap pelaku ekonomi di Indonesia. Tantangan itu hanya dapat diatasi oleh satu semangat pembaharuan dan perubahan yang didasarkan atas kemampuan serta semangat kebersamaan atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur.

Tantangan yang harus diatasi dalam pembangunan eknomi nasional yaitu hutang luar negeri yang besar dan harus diperkecil, disefisiensi produk dan daya saing yang lemah perlu diperkuat, kesenjangan relatif, kesenjangan regional dan kesenjangan antar kelas pelaku ekonomi yang harus diperkecil jaraknya. Semua itu memerlukan perangkat kebijakan ekonomi politik yang demokratis.


Kesimpulan

Pembangunan eknomi merupakan bagian dari pembangunan secara keseluruhan yang masih terus ditingkatkan dan diperbaiki baik pelaksanaannya maupun pembagian hasil-hasil pembangunan itu sendiri.

Pembangunan ekonomi dalam pengertian fisik adalah terciptanya berbagai sarana dan prasarana sebagai modal dasar kegiatan ekonomi masyarakat dalam menciptakan nilai tambah secara ekonomis yang terus meningkat.

Arus globalisasi mengarahkan kita pada kondisi dimana kita dituntut untuk dapat berperan serta dalam persaingan ekonomi dengan negara yang sudah maju dalam bidang ekonomi. Untuk itulah dperlukan persiapan kearah itu dengan adanya pembenahan-pembenahan terhadap pelaksanaan kegiatan ekonomi yang lebih sehat diantara pelaku ekonomi. Dan untuk itu diperlukan satu komitmen dan konsistensi terhadap pelaksanaan dan tujuan pembangunan ekonomi sebagai faktor pendukung didalam terciptanya masyarakat yang adil dan makmur.

Dilain pihak kebijakan politik sangat menentukan arah dari pembangunan ekonomi yang akan dan tengah berlangsung. Politik memberikan corak kebijakan pembangunan ekonomi apa yang akan ditempuh sehingga memiliki orientasi tertentu yang dapat ditafsirkan apakah bertumpuh kepada kepentingan masyarakat luas, kepada kelompok pelaku ekonomi tertentu atau mungkin diperuntukkan kepada individu tertentu.


Rusman

Makalah ini disampaikan pada acara intermediate Training Tingkat Nasional di HMI Cabang Bandung, 13-20 November 1997

Pembangunan Ekonomi Indonesia ditengah Arus Globalisasi: bagian 3

Tantangan Pembangunan

Kesenjangan ekonomi baik antar sektor, antar kelompok penerima pendapatan, antara desa dan kota masih menunjukkan rasio gini yang cukup besar, walaupun ada kecenderungan untuk menurun. Kesenjangan yang cukup mencolok adalah didaerah perkotaan, dimana jarak antara orang yang kaya dan yang miskin relatif lebar. Ini ditunjukkan dengan data statistik tahun 1993, dimana rasio Gini menunjukkan angkat 0,33 dibandingkan di pedesaan 0,26.

Keberpihakan pemerintah kepada kelompok miskin dan pelaku ekonomi yang lemah sangat perlu dalam pembangunan guna memperkecil jarak kesenjangan. Esensi pembangunan sendiri adalah menempatkan kelompok ini pada prioritas utama diurutan terdepan, dengan kata lain prioritas pembangunan adalah mengentaskan kemiskinan. Bagi kelompok yang sudah maju, perhatian pemerintah sudah seharusnya dikurangi, dengan melakukan pengaturan dan kebijakan ekonomi yang mampu mendorong iklim usaha dan kegiatan ekonomi yang kondusif bagi peningkatan kesejahteraan kelompok yang lemah dan masih miskin.

Menurut David C Korten, 1990, didalam menuju abad ke21, dikatakan ada beberapa kebijakan yang dapat ditempuh dalam strategi pembangunan yang berbasis kerakyatan, yaitu:

  1. Mencari diversifikasi kegiatan dalam level perekonomian yang dimulai dari rumah tangga pedesaan, mengurangi ketergantungan dan kejutan pasar akibat dari ekses spesialisasi.

  2. Memberikan prioritas pada alokasi sumber produksi barang dan jasa kebutuhan dasar dari penduduk lokal.

  3. surplus dari hasil produksi lokal diekspor ke pasar internasional. Barang yang diekspor haruslah mempunyai nilai tambah kreativitas manusia yang lebih tinggi daripada kandungan sumberdaya alamnya.

  4. Memperkuat pemilikan lokal terhadap penggunaa sumberdaya melalui kebijakan membiarkan masyarakat mempunyai hal subtansial atas sumber primer mereka dan memberikan kontrol individu atas kepemilikkan alat produksi.

  5. Mendorong perkembangan kebebasan politis pada organisasi masyarakat yang memperkuat partisipasi penduduk secara langsung dalam proses pengambilan keputusan ditingkat lokal dan nasional dan menawarkan pelatihan menjadi warga yang demokratis.

  6. Membangun kemandirian daerah dalam pembiayaan dan demokratisasi dalam memilih pemerintahan lokal yang memberikan wadah pengaruh yang kuat bagi utusan daerah.

  7. Membangun transparansi dalam pengambil keputusan publik dan memperkuat jalur komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

  8. Memfokuskan pengembalian pada rumah tangga dan masyarakat dalam pemilihan berbagai alternatif investasi.

  9. memeberikan prioritas kepada mobilitas sumber, tabungan dan energi lokal, dengan mengurangi keretgantungan pada hutang luar negeri sebagai pembiayaan pembangunan, kecuali untuk maksud produktif yang jelas akan menghasilkan pembayaran kembali,

Dengan demikian, bila gagasan Korten ini dapat diaplikasikan, seyogyanya pembangunan akan berhasil meningkatkan harkat martabat hidup masyarakat yang saat ini masih tertinggal.

Selain masalah tersebut diatas, masalah korupsi dan sejenisnya merupakan persoalan yang menjadi benalu bagi keberhasilan pembangunan. Masalah korupsi tentunya diselesaikan bukan dengan kebijkan ekonomi saja, tetapi juga harus melalui pendekatan politik didalam mengatasinya. Prof, Dr Soemitro, mensiyalir adanya kebocoran tau inefisiensi pembangunan sebesar 30%, hal ini didasarkan pada perhitungan ICOR pada tahun 1996. Bila benar adanya ini sungguh sangat memprihatinkan.

Rusman

Makalah ini disampaikan pada acara intermediate Training Tingkat Nasional di HMI Cabang Bandung, 13-20 November 1997

Pembangunan Ekonomi Indonesia ditengah Arus Globalisasi: bagian 2

Arus Globalisasi: Tantangan dan Peluang

Pesatnya arus globalisasi yang terjadi sekarang ini telah mempengaruhi dunia secara menyeluruh dari berbagai dimensi kehidupan. Hal ini merupakan sesuatu yang empiris dilihat dari hubungan-hubungan kausalitas, pengaruh dari perkembangan dunia, terlebih dalam dimensi ekonomi akibat tumbuh pesatnya kapitalis (Berger, 1990:48). Bahkan batas geografis terkadang terasa seperti tak ada lagi. Hari ini dunia terasa menjadi satu dan batas-batas bangsa seolah hanya berada pada cerita-cerita pengantar tidur. Bagi bangsa Indonesia arus globalisasi agaknya juga tak bisa dihindari. Persoalanya sekarang sejauh mana Indonesia sebagai sebuah bangsa dapat memberi makna dan tempat yang pas bagi kecenderungan yang mondial ini.

Batas geografis yang transparan sangat tergantung dari cara pandang dan cara menyikapinya. Menutup diri terhadap kehendak arus global ini bukanlah sebuah jawaban. Ini hanya merupakan sebentuk pelarian dari realitas (eskapisme). Menerima dan menelan mentah-mentah tawaran yang menggiurkan juga akan mengantarkan kita sebagai sebuah bangsa pada titik kegalauan dan jurang dalam kebingungan. Oleh karena itu arus globalisasi tersebut akan terlihat peluang dan tantang yang akan dihadapi.

Dalam persektif yang lain, globalisasi harus dipahami sebagai suatu yang alamiah. Sesuatu yang alamiah selalu bersumbu pada sebab dan akibat. Karenanya bila globalisasi dipandang sebagai sebab yang baik, akan mendorong bangunan kebangsaan kearah yang positif. Pemahaman kontruksif itu memandang setiap perubahan adalah sesuatu yang sepatutnya disyukuri bukan sebaliknya. Meskipun harus diakui, bahwa dampak dari globalisasi juga akan membawa warga dunia pada etika pergaulan yang baru. Hal ini terjadi sebagai akibat dari persentuhan masing-masing kebudayaan, sehingga budaya semua negara pada akhirnya bertemu dalam mainstream besar yakni budaya global dan peradaban mondial.

Peradaban warga dunia pada saatnya menjelma menjadi peradaban yang universal. Tolak ukur dari kemajuan kebudayaan seuluruh warga di bumi ini ditentukan oleh teknologi multi media. Penguasaan atas teknologi multi media dengan peradaban dunia dengan segala aspeknya baik itu eknomi, politik dan kebudayaan. Pendapat itu paling tidak pernah dikemukakan oleh Francis Fukuyuma dalam bukunya The End Of History.

Dalam karyanya itu, Fukuyama berkeyakinan bahwa mengglobalnya ekonomi market yang sekarang ini menjadi jalan keluar bagi hampir seluruh perekonomian negara-negara di dunia, bahkan oleh negara-negara yang masih berpaham komunis sekalipun. Satu contoh pemasukan ideologi market dalam kehidupan masyarakat kita adalah iklan, yang merupakan garda terdepan bagi kapitalisme mondial. Iklan berpotensi merubah pandangan orang ”bermarking” terhadap pola warga suatu negara.

Budaya konsumerisme yang dipaksakan tanpa melihat pertimbangan kemampuan ekonomi masyarakat pada akhirnya, tentu akan menciptakan sebuah masyarakat yang secara budaya mengarah kepada masyarakat capitalised. Namun disatu sisi kemampuan membeli tidak sebanding dengan adaptabilitas tuntutan destructable silet culture pada sebuah komunitas bangsa.

Dalam perspektif yang agak berbeda, seorang ilmuwan Jepang, Keichi Ohmaem dalam karyanya The End Of Nation State juga meramalkan bahwa nation state yang selama ini dipahami orang sebagai satu kedaulatan pemerintahan yang ditandai dengan batas-batas wilayah pada akhirnya akan hilang sendirinya seiring dengan maraknya dan berkembangnya Multi National Corporation (perusahaan Multi National).

Menurut Keichi, penanaman modal yang banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan raksasa dari berbagai negara, pada saatnya akan membuat batas geografis politik dalam arti formal tidak selalu dapat membentengi pengaruh dari luar terhadap intervensi suatu negara kepada negara lainnya.

Penanaman modal sebuah perusahaan raksasa yang mewakili kepentingan ekonomi perusahan tersebut bisa saja mempengaruhi kebijakan politik suatu negara dan ini juga nampaknya tidak mustahil berlaku dalam kasus Indonesia. Oleh karena itu, suatu saat bisa saja perekonomian akan membuat batas negara menjadi sangat transparan dan tidak berjarak.


Rusman

Makalah ini disampaikan pada acara intermediate Training Tingkat Nasional di HMI Cabang Bandung, 13-20 November 1997


Pembangunan Ekonomi Indonesia ditengah Arus Globalisasi: bagian 1

Pendahuluan

Pembangunan ekonomi Indonesia adalah proses ekonomi dan sosial yang berlangsung secara terus menerus. Yang ingin dicapai adalah kondisi ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengertian lebih baik disini biasanya diasosiasikan denga tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dan tidak pula melupakan aspek pengurangan kemisikinan pada masyarakat yang kurang beruntung.

Tujuan pembangunan akan tercapai bila ada satu kerjasama antara pihak pemerintah sebagai pelaksana operasional dan masyarakat sebagai obyek dari pelaksanaan pembangunan itu. Bentuk kerjasama itu tidak hanya terletak pada bagaimana terlibat langsung pada pelaksanaan operasional saja tetapi juga dalam hal pemikiran terhadap pelaksanaan pembangun tersebut. Artinya, setiap kebijakan-kebijakan pembangunan yang akan diterapkan oleh pemerintah setidaknya menerma masukan pemikiran dari masyarakat.

Bagi negara yang sdang berkembang pembangunan jelas dimaksudkan untuk meningkatkan tarap hidup sehingga setaraf dengan tingkat hidup di negara-negara maju. Negara sedang berkembang saat ini telah menyadari tentang kemiskinan yang dialami dan jurang perbedaan yang semakin lebar antara negara maju dengan negara yang sedang berkembang.

Dalam konteks globalisasi, globalisasi adalah suatu konsekuensi dari sebuah proses perkembangan sejarah kemanusiaan. Dengan semakin maju peradaban manusia dan kemanusiaam, ditandai datangnya abad informasi yang populer dengan istilah millenium III.

Dalam era ini, dunia yang dahulu dipandang sebagai keluasan geografis, sekarang bata-batas itu menjadi relatif. Teknologi dengan seluruh perangkatnya telah membuat dunia semakin tak berjaraj dan tak terbatas. Setiap orang dapat saling berinteraksi, tanpa dibatasi ruang danwaktu, dan duniapun pada akhirnya bagaikan ”rumah kaca”. Perdagangan bebas akan berlangsung di negara-negara yang menyatakan ke-siap-an untuk berpartisipasi didalamnya, termasuk dalam hal ini Indonesia sendiri. Konsekuensi logisnya adalah bahwa Indonesia telah siap bersaing dengan negara-negara yang lebih dahulu maju dalam pembangunan ekonominya.

Dalam perdagangan bebas itu nilai yang berlaku adalah persaingan bebas (free competion) diantara para pelaku ekonomi. Jika daya saing lemah di pasar bebas atau dipasar global, maka bangsa Indonesia akan menjadi ”bangsa kuli” dan ”kuli diantara bangsa-bangsa”, meminjam istilah Bung Karno yang terkenal itu. Oleh karenanya perlu kiranya adanya perenungan kembali terhadap pelaksanaan pembangunan ekonomi agar ketika terjun dalam persaingan bebas dapat bersaing dengan negara-negara yang lebih merasakan kemajuan dalam bidang pembangunan ekonomi.


Rusman

Makalah ini disampaikan pada acara intermediate Training Tingkat Nasional di HMI Cabang Bandung, 13-20 November 1997

Selasa, 24 Juni 2008

Limbah Unocal untuk Kaltim

Bappedal menyatakan sistem pembuangan limbah perusahaan minyak Unocal keliru. Tapi perusahaan Amerika itu jalan terus, dan menuduh lembaga advokasi masyarakat sebagai penghasut.

Satu lagi perusahaan asing membuat masyarakat marah. Lihat saja yang terjadi di Terminal Tanjung Santan, Kalimantan Timur. Unocal, perusahaan minyak yang menandatangani kontrak karya tahun 1968, dinilai melakukan pengelolaan limbah yang tidak memenuhi standar. Akibatnya, sawah dan tambak milik rakyat tercemar oleh limbah minyak. ”Itu sudah sangat parah,” kata Chalid Muhammad, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Nasional, kepada DeTAK, Jum’at (31/3).

Menurut hasil penelitian yang dilakukan Jatam Kaltim, sekitar pantai Santan telah tercemar oleh limbah minyak yang berasal dari tempat pemrosesan minyak dan gas bumi di Terminal Santan. Pembuangan limbah ke laut dekat muara kanal ini antara lain mengakibatkan ikan-ikan terasa minyak dan sumber air asin bagi tambak mengandung minyak. ”Pohon bakau dan pipa di sekitar pantai mati,” tegas Chalid.

Hasil penelitian Jatam itu juga menerangkan bahwa peristiwa pencemaran lingkungan terhadap masyarakat kerap kali terjadi. Tahun 1992 dan 1995, udang dalam jumlah cukup besar mati akibat limbah minyak. Di tahun 1998, banjir besar mengangkut limbah ke tangah persawahan dan menyebabkan sawah seluas 417,5 hektare milik petani di Desa Rapak Lama termasuki limbah Unocal.

Peristiwa ini kemudian diteliti di laboratorium Sucofindo Samarinda. Hasilnya, ”Ditemukan ada sekitar lima indikator melebihi batas standar,” kata Ramli, Koordinator Jatam Kaltim, kepda DeTAK, Jum’at (31/3). Tes sampel air menunjukkan beberapa parameter seperti minyak, fenol, amonia, suspended solid, merkuri, arsenik, besi terlarut, sulfida, pH, COD dan BOD melebihi ambang batas kategori air limbah. Anehnya, pihak Unocal menanggapi dengan dingin. ”Tidak ada limbah yang meluap ke persawahan masyarakat. Hanya oli yang hanyut masuk ke persawahan dari sisa-sisa drum yang tumpah,” kata pihak Unocal seperti dikutip Suara Kaltim, (15/2).

Tanggal 11 Februari lalu, limbah kembali menyelonong ke sawah petani. Kali ini bukan karena banjir besar, melainkan disebabkan oleh jebolnya pematang di pinggir pagar oleh jebolnya pematang di pinggir pagar Terminal Tanjung Santan. Pemda Kutai bersama Unocal membentuk tim penelitian guna mengusut kasus itu. Anehnya, hasil kerja tim tersebut menyimpulkan tidak ditemukan indikator percemaran dari limbah Unocal. ”Hasil itu sudah direkayasa,” bantah Ramli. Anehnya lagi, tim yang dibentuk dengan surat penugasan tertanggal 20 Oktober 1998, bernomor: 660/302/LH-II/1998 ini tidak melibatkan wakil masyarakat sebagai anggota tim.

Selain itu, yang juga sangat parah, kontrol buangan emisi dari peralatan operasional Unocal tidak dilakukan secara ketat. Akibatnya, buangan gas yang mengandung S02 (yang menjadi sulfat) dan NO2 (yang menjadi nitrat) menyebabkan hujan asam di sekitar terminal dengan tingkat keasaman hujan asam mencapai pH 4,5. Kembali tanah persawahan terancam karena derajat keasamaannya berubah.

Sikap tak acuh pihak Unocal ini memangkas kesabaran masyarakat. Tanggal 16 Oktober 1998, sekitar 180 orang masyarakat Rapak Lama melakukan aksi di Terminal Tanjung Santan. Didampingi oleh Jatam, mereka menuntut Unocal bertanggung jawab atas pencemaran limbah minyak. ”Kita minta operasi Unocal dihentikan. Ini adalah kriminal lingkungan dan harus segera diatasi.” kata Chalid.

Hasil Penelitian Yang Sia-Sia

Dan aksi yang terjadi belakangan adalah tumpukan kemarahan yang terpendam puluhan tahun. Pada tanggal 28 Oktober 1968 pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Pertamina, mengeluarkan surat Kontrak Production Sharing (KPS) kepada Unocal. Sejak beroperasi, Unocal Indonesia Company, yang berpusat di California, USA, ini selalu dituding oleh masyarakat Kaltim melakukan pencemaran lingkungan. Tapi perusahan yang menguasai wilayah konsesi sebesar 27.700 hektare ini selalu mengelak dari tuduhan-tuduhan masyarakat.

Padahal, dengan tanah dan air laut yang tercemari limbah, kehidupan petani dan nelayan semakin parah. Tengoklah kehidupan di tiga desa sekitar lokasi terminal Tanjung Santan, yakni Rapak Lama, Terusan, dan Marangkayu. Di Rapak Lama, kondisi sawahnya tidak dapat ditanami kembali. Sekitar 301 orang petani terancam kelaparan karena selama dua tahun tidak pernah panen. Di desa Terusan, masyarakat mengalami penurunan penghasilan dan terjadi pengangguran sebagai dampak dari pembuangan limbah ke laut. Sementara itu, di Desa Marangkayu, terjadi pengkotakan dan kecemburuan sosial antara masyarakat Marangkayu dengan karyawan lokal. Bila ini dibiarkan, tampaknya akan menimbulkan konflik horizontal yang krusial.

Pelbagai penelitian telah dilaksanakan, dan masyakarat seperti menunggu sesuatu yang sia-sia dengan penelitian-penelitian tersebut. Balai Kesehatan Departemen Kesehatan Kaltim Samarinda tahun 1993, Dinas Perikanan Kutai pada tahun 1995, dan jurusan perikanan Universitas Mulawarman tahun 1995, ketiganya berkesimpulan telah terjadi pencemaran lingkungan dan kerusakan kawasan pantai Santan.

Apa sesungguhnya yang salah pada sistem pembuangan di Unocal sehingga limbah melabrak kemana-mana? Menurut Badan Pengawasan dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedal) Pusat, Unocal menggunakan metode pembuangan limbah yang tidak disetujui pihaknya. Sistem Bio Remedition Area (BRA)- yakni metode pengelolaan limbah di lahan terbuka yang tidak tepat. ”BRA memerlukan wilayah yang sangat luas dan hanya cocok untuk Amerika,” kata Sri Indah Wibi Nastiti dari Divisi Advokasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), kepada DeTAK, Selasa (28/3).

Akibat salah satu limbah itu, menurut Jatam, kini 350 KK petani dan ratusan nelayan terancam. Tapi tampaknya pemerintah daerah Kaltim tidak berdaya untuk bertindak lebih jauh. ”Karena kebijakan soal berhak atau tidaknya suatu perusahaan beroperasi tergantung pada pemerintah pusat. Daerah tidak mempunyai wewenang untuk itu. Semua urusan harus diselesaikan di pusat,” kata Ramli.

Menghadapi semua tundingan dan aksi masyakarat, pihak Unocal pun membuat klarifikasi di beberapa media lokal dan nasional. Malah Unocal balik menuduh Jatam sebagai organisasi penghasut masyarakat. Jatam tak tinggal diam. Mereka mengajukan somasi untuk Unocal. ”Kami sudag melaporkan peristiwa pencemaran ini ke menteri lingkungan hidup dan kepolisian,” kata Chalid.

Ketika dikonfirmasi sehubungan dengan somasi, pihak Unocal menjawab dengan entengnya. ”Sementara saya tidak mau membuat jawaban. Karena kita sudah menyerahkan kepada lawyer kami untuk menjawab itu,” kata Erwin, Humas Unocal, kepada DeTAK, Jum’at (31/3).

Rusman

Telah terpublikasi di Tabloid DeTAK No. 88 Tahun ke-2, 4-10 April 2000

Damai Ala Matraman

Jum’at malam (7/4), kedua kubu yang bertikai mencoba mencari jalan damai. Warga Berlan-Kemanggisan bermusyawarah dengan seterunya, warga Palmeriam-Kayu Manis-Tegalan. Dalam pertemuan itu, nampak juga Walikota Jakarta Timur, Camat Matraman, Dandim serta Kapolres Jaktim.

Entah sudah berapa kali pertemuan semacam ini dilakukan. Terakhir, pertemuan perdamaian serupa dilakukan enam bulan lalu, 24 Oktober 1999. Dan seperti yang diyakini banyak pihak, kesepakatan perdamaian tersebut tidak berlangsung lama. Buktinya, ya bentrokan yang tempo hari meletus itu. Karena banyak yang pesimis, pertemuan perdamaian semacam ini tak akan efektif.

Tapi kalau soal ii ditanyakan ke warga yang bertikai, jawabannya betul-betul enak didengar. Kedua kubu yang bertikai sama-sama optimis dengan hasil pertemuan Jum’at malam itu. ”Kita bergandengan tangan untuk merealisasikan suasana yang konduif,” tegas Trikora, tokoh masyarakar Berlan, kepada DeTAK. ”Saya senang denga hasil pertemuan ini,” timpal Cholid, warga Palmeriam, dengan senyum dikulum. Memang, pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk ’gencatan senjata’. Bahkan, sempat juga dibahas rencana pembentukan Forum Persaudaraan Masyarakat Matraman, wadah untuk menampung aktifitas warga Kecamatan Matraman.

Tapi kalau soal ’gencatan senjata’, bukankah sudah sekian kali terjadi, dan sekian kali pula dilanggar? Lantas, apa solusinya? Setidaknya untuk sementara, Gubernur Sutiyoso sudah bertindak, membangun pagar pembatas di jalur hijau jalan Matraman. Harapannya, menghalangi tidankan warga yang saling menyerbu ke wilayah lawan. Efektifkah? Kalau memang warga mau perang , apa sih susahnya menghancurkan pagar pembatas?

Karena itulah, ada yang mengusulkan agar pemerintah berani mengambil solusi yang mungkin tak mengenakkan:memindahkan warga Berlan ke lokasi lain. Pertimbangan si pengusul, warga Berlan lah yang selama ini lebih agresif, suka duluan memancing bentrok denga kampung lain: Palmeriam, Tegalan, Kayumanis, Tambak. Namun, usulan ini nampaknya sulit diterima oleh gubernur. Memindah warga sekampung, tentu bukan perkara gampang.

Rusman

Telah terpublikasi di Tabloid DeTAK No. 89 Tahun ke-2, 11-17 April 2000

Perseteruan Bebuyutan di Kawasan Matraman

Kawasan Matraman, Jakarta Timur, kembali memanas. Betrokan antarwarga yang saling berseberangan, menyebabkan 5 bangunan hangus terbakar. Kapan bentrok bebuyutan ini berakhir?

Untuk sekian kalinya, bentrokan antar warga di kawasan Matraman kembali meletus. Puncaknya, selama 4 hari berturut-turut sejak Sabtu malam (25/3) hingga Selasa (28/3) petang, kawasan jalan Matraman, Jakarta Timur, mejadi ajang pertempuran antara warga Berlan-Kebon Manggis melawan warga Palmeriam-Kayu Manis dan Tegalan.

Siapa yang memulai? Menurut pengakuan warga Palmeriam, kejadian bermula dari 2 pengendara Vespa yang masuk diujung jalan Palmeriam, Sabtu malam (25/3). Kedua pengendara Vespa itu berteriak: ”Pukul kentongan, lawan Berlan!”. Lantas, beberapa warga Palmeriam yang kebetulan berada di ujung jalan marah. Dan secara spontanitas warga di sekitar Palmeriam dan sekitarnya berhamburan keluar. ”Pokoknya kalau ada bunyi ketongan, semua warga disekitar Palmeriam akan keluar,” kata Marco Pambudi, warga Palmeriam kepada DeTAK, kamis (6/4). Memang, bagi warga Palmeriam dan sekitarnya selami ini, bunyi pukulan tiang listrik adalah tanda dimulainya pertempuran.

Lain lagi versi warga Berlan dan Kebon Manggis. Warga seteru Palmeriam ini menuduh, ajakan untuk berperang datang dari warga seberang Berlan (Palmeriam, Kayumanis, Tegalan). Menurut Trikora, tokoh pemuda di Berlan, pemicu dari perkelahian antar warga tersebut diawali oleh tingkah laku anak-anak kecil yang iseng menodong pengunjung Toko Buku Gramedia di jalan Matraman. Gramedia terletak di sisi yang berhadapan dengan Palmeriam-Tegalan. ”Dari seberang jalan (Gramedia), mereka melempar batu ke seberang yang lain (Palmeriamn-Tegalan), lalu dilanjutkan saling ejek,” kata Trikora.

Dan pecahlah pertempuran. Saling lempar, serang, sabetan pedang hingga bakar toko. Akibatnya, 5 gedung di sepanjang jalan Matraman, baik di sisi Berlan maupun Palmeriam, terbakat hangus. Tidak itu saja. Saat bentrokkan berlangsung, seorang anggota marinir dan 2 orang anggota polisi ikut menjadi korban. Dan 43 warga terkena peluru senapan angin.

Ulah Pak Ogah

Memamg, tak jelas benar, apa penyebab pertempuran selama 4 hari berturut-turut itu. Dan tak penting benar, siapa yang lebih dulu memulai. Bukankah bentrokan antar seberang jalan Matraman itu sudah menjadi perseteruan bebuyutan? Namun pertempuran kali ini memang yang paling besar sepanjang sejarah konflik di kawasan Matraman. ”Ini yang bentrokkan yang terbesar.” kata Marco.

Bagi warga di situ, pertempuran adalah agenda rutin tiap tahun. Hambar rasanya jika setahun berlalu tanpa bentrok. Pemicunya beragam, mulai dari soal ejek-ejekan antar warga samapai soal penguasaan lahan di jalan Matraman Raya. Berdasarkan pengakuan warga, soal rebutan lahan di putaran jalan (Uturn) oleh tukang parkir swasta alias ’pak Ogah’, kerap menjadi penyebab utama terjadinya bentrokkan. Hal ini juga dibenarkan oleh Kolonel Polisi Hidayat Fabanyo, Kapolres Jakarta Timur. ”Perebutan pak Ogah disimpang belokan jalan, antara lain yang menjadi penyebab bentrokan,” katanya kepada DeTAK, Jum’at (7/4).

Hal senada juga dilontarkan oleh Thamrin Amal Tamangola, Sosiolog Universitas Indonesia. ”Itu sebenarnya memperebutkan lahan parkir disana,” kata Thamrin kepada DeTAK. Thamrin menambahkan, selain soal perebutan lahan ’pak Ogah’, penyebab betrokkan juga karena adanya persoalan di masa lampau.

Kawasan Matraman dulu, oleh sebagian orang yang sudah lama bermukim, disebutkan sebagai daerah segitiga merah. Tawuran antar warga di kawasan ini telah terjadi sejak tahun 1970-an. ”Sejak tahun 1970-an itu sudah mulai,” kata Cholid, warga Palmeriam kepada DeTAk. Menurutnya, dulu bentrokkan antar warga hanya melibatkan orang-orang yang berada di asrama Ambon (sekarang Hotel Mega Matra) dengan warga Berlan (Komplek Kesatrian TNI AD). Dalam perkembangan selanjutnya, setelah asrama tergusur oleh Hotel Mega Matra, konflik pertikaian pun menjalar ke Palmeriam dan sekitarnya. Entah kenapa, tiba-tiba warga Berlan pun mempunyai lawan baru, yaitu warga Palmeriam dan sekitarnya. Dan terpeliharalah tradisi saling mengadu kekuatan itu.

Sejarah Daerah Matraman

Menurut sejarahnya, pemberian nama Matraman berasal dari nama kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Ketika itu, pasukan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokoesoemo menyerang Batavia. Daerah di Matraman ketika itu dijadikan sebagai basis oleh tentara Mataram, untuk menyerang pasukan kolonial Belanda yang berpusat di sekitar Harmoni. Dulu, sekitar Matraman merupakan daerah pertanian dengan hutan perdu yang dibelah oleh aliran kali Ciliwung serta rawa-rawa. Perkembangan selanjutnya, Matraman merupakan daerah satelit yang beribu kota kewedanaan Mester Cornelis (sekarang Kampung Melayu). Ketika itu Kampung Melayu merupakan pintu penghubung Batavia dengan wilayah di luar Jakarta, baik dari Timur maupun Selatan.

Jaman bergerak, dan di tahun 1960-an kaum urban datang bergelombang. Daerah yang dulunya didominasi oleh sawah, kebun hutan perdu serta rawa, lambat laun berubah menjadi daerah perkampungan ramai. Instalasi militer dan beberapa gedung-gedung serta rumah tinggal kaum elite tumbuh bak jamur dimusim hujan. Kesan yang muncul, Matraman adalah suatu perkampungan yang padat, ruwet dan kotor. Pada kondisi perkembangan selanjutnya, daerah Matraman menjadi daerah yang tidak memenuhi standar minimal suatu lingkungan pemukiman. Malahan pada tahun 1976, menurut hasil sensus penduduk, Kecamatan Matraman merupakan kecamatan yang terpadat di Indonesia.

Agaknya, kepadatan penduduk ini menjadi penyebab terjadinya perubahan. Sekarang, seperti juga kawasan lainnya, kawasan itu penuh dengan kenakalan remaja, penyalahgunaan narkotika, pencurian, penganiyaan sampai tempat berkumpulnya wanita-wanita malam.

Memang, dari sejarahnya, Matraman sejak dulu memang daerah penuh gejolak. Dulu, Matraman juga menjadi basis berbagai organisasi. Di situ ada markas Gerwani, CC PKIm Sekretariat Parkindo, Komando Jihad dan lainnya. Dan, nampaknya gejolak itu tetap terpelihara sampai sekarang.

Rusman

Telah terpublikasi di Tabloid DeTAK No. 89 Tahun ke-2, 11-17 April 2000

Jumat, 13 Juni 2008

Dua Lakon Jenaka Itu Dimainkan

Studiklub Teater Bandung (STB) melakukan pementasan di Jakarta. STB membawakan dua lakon sekaligus, Pagi yang Cerah dan Pinangan. Pementasan teater yang sarat dengan dialog jenaka.

Donna Laura, perempuan tua bangsawan, asyik memberikan remah-remah roti kepada puluhan merpati di sebuah taman di Madrid, Spanyol. Tiba-tiba saja datang Don Gonzala, pria tua yang kaku, angkuh, dan pemarah. Ia datang dengan seorang asistennya, Juanito yang selalu menenteng tas majikannya itu. Keduanya berjalan melewati depan Laura. ”Awas hati-hati,” celetuk Laura, sambil setengah membentak Gonzola. Burung merpati yang menikmati remah-remah roti itu pun beterbangan.

Karena terusik oleh kedatangan Gonzola, Laura pun marah, pertengkaran di antara mereka terjadi. Berkat kefasihan si nyonya tua berceloteh, pertengkaran itu berubah menjadi percakapan intim. Mereka saling mengungkapkan kenangan indah semasa muda. Mulailah syair-syair indah dilantunkan. ”Duapuluh tahun berlalu, dan dia pun kembalilah. Masing-masing saling memandang...benarkah dia orangnya.....” Kedua pun larut dalam percakapan yang semakin intim.

Kemudian, percakapan di antara mereka pun berhenti. Kedua orang tua yang dulu saling mengenal itu berlalu. Keduanya meninggalkan taman dengan saling melambaikan tangan. Sebelum beranjak dari taman itu, mereka saling berjanji, bertemu kemabali suatu ketika.

Begitulah akhir dari sebuah lakon pendek Pagi yang Cerah, sebuah cerita pendek karya Serafin Alfarez Quintero dan Joaquin Alvarez Quintero. Karya yang diterjemahkan dengan baik oleh Sapardi Djoko Damono ini merupakan karya dua orang kakak beradik asal Spanyol. Tampaknya, karya yang berjudul asli Manana De Sol ini ingin mengajak kepada penonton bahwa masa lalu yang indah merupakan keniscayaan.

*****

Lakon kedua dimainkan. Kali ini lakon ditampilkan cukup menegangkan. Lakon karya Anton Povlovitc Chekhov bercerita tentang keinginan luhur dari seorang bujangan tua yang ingin meminang seorang gadis tetangganya. Pria bernama Ivan Vassilyevitch, dengan berpakaian gaya bangsawan, memakai jas dan topi, mirip pesulap, Ivan datang ke rumah gadis idamannya. Di rumah sang gadis itu ia disambut oleh sang ayah, Stepan Stepanovitch Chubukov. Setangkai bunga yang dibawanya, ia selipkan dibalik topi hitamnya. Denga perasaan gugup ia berkata kepada Stepan. ”Aku datang untuk melamar putrimu Natalya Stepanova,” kata Ivan setengah berteriak. Sontak saja Stepan menyambut hangat. ”Aku sangat bergembira dan seterusnya,” kata Stepan sambil memeluk Ivan erat-erat.

Kemudian Stepan pun beranjak memanggil Natalya Stepanova, anak tunggalnya itu. Tak lama kemudian, Natalya pun datang menemui Ivan yang terlihat gelisah dan amat gugup itu. Beberapa saat kemudian, Natalya yang heran dengan kedatangan Ivan pun membuka pembicaraan. ”Oh senangnya aku. Mengapa ayah mengatakan ada pembeli yang mau mengambil barangnya. Apa kabar Ivan Vassilyevitch?,” tanya Natalya, sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada tamunya.

Sesaat kemudian keduanya duduk saling berdekatan. Si gadis kemudian bertanya kembali. ”Dandanmu sangat cakap sekarang, ada apa?” ucap Natalya keheranan. Namun, si pria yang memiliki penyakit jantung ini tak sanggup mengutarakan keinginannya-untuk melamar- semula kepada gadis yang ada di sebelahnya itu. ”Begini Natalya Stepanova yang terhormat. Soalnya adalah aku sudah memastikan bahwa aku akan meminta engkau mendengarkan aku,” jawab Ivan berbata-bata dan terlihat gugup.

Lalu, tiba-tiba keduanya terjebak oleh pecekcokan seru. Mereka saling memperebutkan sebidang tanah. Mendengar pertengkaran antara Natalya dan Ivan, Stepanov menghampiri keduanya. ”Ada apa. Kenapa berteriak-teriak,” kata Stepanov. Mengetahui apa yang diributkan, tentu saja Stepanov membela anaknya. Stepanov pun marah dan mengusir Ivan dari rumahnya.

Ketika Ivan berlalu dari rumahnya, Stepanov pun berceloteh. Si totol itu, si jelek itu beraninya melamar dan seterusnya. Pikirkanlah......melamaaar!,” kata Stepanov dengan nada jengkel. Mendengar perkataan ayahnya, Natalya berheran-heran dan bertanya, ”Melamar siapa,” tanya Natalya ke ayahnya. ”Dia datang ke sini dengan tujuan melamar engkau,” kata Stepanov menjelaskan. Lantas Natalya mencoba memastikan kembali ucapan ayahnya itu. ”Melamar aku. Kenapa ayah tidak beritahu aku terlebih dahulu,” kata Natalya, sambil menangis menyesali kejadian tadi.

Natalya pun memohon kepada ayahnya untuk memanggilkan Ivan kembali. ”Lekas, lekas aku mau pingsan. Bawa dia kembali,” kata Natalya memohon kepada ayahnya. Tak lama kemudian Ivan pun kembali datang ke rumah tetangganya itu. Natalya dan Ivan pun kembali bercakap-cakap. Namun untuk kedua kalinya mereka berdua terjebak dalam pertengkaran. Kali ini pertengkaran di antara mereka karena mempersoalkan dua ekor anjing. Melihat ini Stepanov pun berceloteh. ”Sebaiknya engkau segera kawin. Persetan dengan kalian. Dia menerima kau. Akan kuberikan restuku padamu. Dan biarkan aku dengan tenang.” kata Stepanov memberikan pengarahan kepada Ivan.

Melalui restu ayahnya, terjalinlah cinta diantara Natalya dengan Ivan. Karya yang sarat dengan humor ini menjadi sajian yang segar untuk dinikmati.

********

Dua lakon pendek ini dimainkan sekaligus oleh Studiklub Teater Bandung (STB) di Teater Tuti Malaon, sebuah tempat pertunjukkan yang dikelola oleh Yayasan Teater Populer. STB merupakan kelompok Teater tertua di Indonesia, berdiri pada 30 Oktober 1958. Satu hal yang layak dicatat, sejak tahun berdirinya, STB tidak pernah berhenti berproduksi. Selain menampilkan pergelaran dari berbagai penulis drama dunia, STB pun secara periodik melakukan pembinaan terhadap generasi muda melalui acting course.

Pementasan yang bertajuk Bingkisan bagi Sahabat ini berlangsung pada Selasa, 26 Juni 2001. Dua lakon itu dimainkan oleh dua genarasi yang berbeda. Lakon pertama berjudul Pagi yang Cerah, diperankan oleh generasi tua. Sementara lakon kedua diperankan oleh generasi yang lebih muda. Walaupun demikian, acting kedua generasi STB ini tidak terlihat berbeda. Dua generasi itu malah berhasil memikat penonton yang jumlahnya puluhan orang.

Tentu saja harapan mengembangkan kegiatan kesenian akan terus dilakukan STB. Setidaknya ini telah mereka lakukan dengan sebuah pementasan berlakon jenaka. Rupanya, lakon bertema jenaka asyik juga untuk dinikmati.

Rusman

Terpublikasi di Tabloid DeTAK No. 146 Tahun ke-3, 4-10 Juli 2001

Senin, 09 Juni 2008

Paling Gampang Mundur, Itu Konstitusional


Wawancara dengan Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai Bulan Bintang berkaitan dengan akan digelarnya Sidang Istimewa pada pemerintahan Gus Dur. Berikut wawancaranya:


Apakah Mega hanya menunggu SI?
Dia mau segala sesuatunya sesuai dengan konstitusional. Seperti halnya Manhan Mahfud yang mengatakan Gus Dur bersedia mundur asalkan konstitusional. Paling gampang mundur. Itu kan konstitusional seperti Soeharto dulu. Tapi ini juga tidak mau dia lakukan.

Apakah Mega takut dijatuhkan karena trauma MPR lalu?
Kalau Gus Dur turun, otmatis Megawati akan naik. Memang ada yang berpendapat seperti itu. Tapi kalau saya tidak begitu.

Bagaimana dengan makin mepetnya deadline buat Gus Dur?
Prediksi saya, kalu Gus Dur tidak mundur sebelum 30 Mei, DPR akan menggelar SI. Gus Dur akan diberhentikan. Makanya, Megawati harus memikirkan siapa wakil presidennya dan apa programnya dalam waktu singkat sampai tahun 2004. Dan juga bagaimana dukungan negara lain untuk mendukung Indonesia mengatasi krisis. Sebab, hal itu juga untuk kepentingan mereka. Kalau Indonesia kini amburadul, negara seperti Jepang dan Singapura juga akan kena dampaknya. Jadi jangan biarkan Indonesia hancur. Ini juga panggilan internasional. Selama ini Gus Dur tidak melakukan itu. Saya pernah menemani Gus Dur di Qatar. Disitu Gus Dur tidak melakukan pembincangan serius, semua hanya joke-joke saja.

Berarti kepergian Gus Dur ke luar negeri tak banyak manfaatnya?
Dia pergi ke Thailand buat apa? Kalau istilah orang barat, Gus Dur di dalam negeri sedang di-impeach, mengapa dia keluar negeri. Dulu, saya sudah beritahu dia apa yang harus dilakukan. Dia mau mengeluarkan dekrit, saya bilang apa urusannya. Saya bilang itu tidak mungkin. Lantas dia bilang, ”Alaah Anda tidak tahu. Saya mau dekrit kalau Irian dan Aceh mau merdeka.” Saya bilang tidak begitu jadi presiden. Kalau Aceh dan Irian mau merdeka dengan kekerasan nyatakan darurat sipil di Aceh atau Irian. Kirim pasukan ke sana. Berantas dan tumpas pemberontak itu. Itu sah. Dunia internasional akan mengatakan itu sah. Tapi kalau Aceh dan Irian merdeka dengan membubarkan DPR dan mengeluarkan dekrit, wah bukan begitu caranya jadi presiden. Sebetulnya Megawati bisa jadi presiden. Presiden itu kan bukan harus yang pintar-pintar banget. Asalkan dia tidak masuk kepada yang detail, dia tahu persoalan, dan mengkoordinasi dan percaya kepada menteri-menteri, saya yakin dia bisa. Tapi, Gus Dur yang tidak penting dia urusin.

Tapi, Gus Dur terus menekan Mega?
Gus Dur itu segala macam dilakukan. Rachmawati dia datangi. Hamzah Haz yang dia maki-maki dia datangi juga. Mungkin saya yang tidak didatangi Gus Dur. Saya tidak mau kompromi dengan hal-hal seperti itu. Ahmad Sumargono juag didekat-dekati oleh orang-orang PKB.

Rusman

Wawancara ini dipublikasi di Tabloid DeTAK No. 139 Tahun ke 3, 16- 22 Mei 2001