Rabu, 09 Maret 2011

INTISARI DISKUSI INTERNAL IKAFENAS: Pembangunan Berangkat Dari Sesuatu Yang Kita Miliki, Nasionalisme Yang Kita Tumbuhkan

Oleh: H. Nasyrul Fallah, SE, MM (Sekretaris Jenderal IKAFENAS)
Menarik berbicara tentang perkembangan ekonomi Indonesia ditengah arus globalisasi yang semakin lama semakin redup. Kita juga harus mengingat kembali bahwa dasar dari perekonomian yang ada di negara kita itu tidak terlepas dari prinsip gotong royong. Prinsip gotong royong itu saat ini lamban laun sudah semakin terkikis. Di desa sudah berkurang, apalagi di kota sudah tidak ada lagi prinsip gotong royong.

Kalau kita telusuri prinsip gotong royong itu sebenarnya hampir mirip dengan koperasi. Saling membantu diantara kita. Saling membesarkan diantara kita. Sedikit saya mengingatkan mengenai banyaknya sumber daya alam Indonesia yang dimanfaatkan bukan untuk kesejahteraan rakyatnya.

Rumput, dalam hal ini hutan, milik kita ini sudah dimonopoli oleh pengusaha besar. Namun apa yang didapatkan oleh warga di sekitar? Misalnya pada hutan jati di Bojonegoro yang melimpah tetapi semua penduduknya melarat semua.

Kemudian energi, seperti minyak, dimana masyarakat setempat di daerah penghasil minyak yang merasakan kemakmuran? Dan air, dalam hal ini laut, ini pun sudah dikuasai pengusaha besar, khususnya asing. Sehingga nelayan kita sudah tidak mendapatkan ikan secara optimal dari hasil laut.

Perekonomian yang tidak berbasiskan kepada rakyat maka yang menjadi korban adalah rakyat itu sendiri. Kita bisa lihat pada carefour dimana setiap bulannya bisa menghabiskan 300 ton buah jeruk impor dengan harga yang lebih murah. Padahal dilihat dari rasa masih lebih enak jeruk lokal.

Dalam KADIN yang ada disana itu adalah jabatan politis semua. Tidak ada sama sekali yang membicarakan perekonomian rakyat. Dari kesimpulan yang saya dapat bahwa dari kebijakan politik akan menghasilkan kebijakan ekonomi adalah hal yang benar. Jadi yang harus dilakukan sekarang adalah dalam konteks generasi muda ini ialah selalu bersikap kritis terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Kalau rakyat menderita, ya jalan satu-satunya adalah revolusi.

Dari pembicaraan ini ada benang merahnya yaitu pembangunan berangkat dari sesuatu yang kita miliki, nasionalisme yang kita tumbuhkan. Ini adalah hal yang sangat tepat sekali. Jadi sumber daya alam yang kita miliki hanya digunakan untuk kepentingan negara kita saja. Kalau kita terbiasa makan nasi marilah kita makan nasi saja jangan terpengaruh budaya asing. Kita harus perkuat pertahanan ekonomi di dalam negeri.

Agak miris bila kita melihat pada UU tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Dimana tercantum mengenal modal untuk pertambangan yang dapat disewa oleh perusahaan asing selama seratus tahun dengan sharing saham Indonesia mendapat 10%, kemudian dapat diperpanjang kembali seratus tahun. Lalu apakah yang akan didapat oleh anak cucu kita selaku generasi penerus?

Selanjutnya, perihal mengenai koperasi, dimana kalau kita berbicara masyarakat yang real, seperti masyarakat pembuat dodol, pembuat kopi, sesungguhnya mereka adalah peminjam kredit bank yang sangat disiplin dalam pembayarannya. Tidak pernah mereka ‘mengemplang’, tidak ada kredit macet dari mereka. Untuk itu semestinya pemerintah memahami bahwa masyarakat ekonomi menengah kebawah sangatlah potensial untuk diberdayakan sebagai penggerak pembangunan.
Disinilah perannya generasi penerus berupaya untuk memodifikasi produk bahan baku dari sumber daya alam yang kita miliki menjadi produk yang memiliki nilai lebih dan siap berkompetisi di dunia global.

Bila kita berkaca kepada seorang petani sangatlah miris. Pada zaman dahulu para petani sangatlah bangga dengan dirinya sebagai petani. Dia bisa menyekolahkan anak-anaknya, mampu pergi haji. Akan tetapi pada saat ini, seorang petani hanya mengandalkan merasa cukup beruntung kalau sudah bisa membeli pupuk. Tanam-tanamannya dapat tumbuh dengan subur.
Sekali lagi kita mengharapkan pemerintah memiliki kebijakan dengan melihat sumber daya yang dimiliki Indonesia. Jangan sampai ada lagi garam impor, ikan lele impor. Sudah saatnya, misalnya untuk wilayah Kerawang yang sampai sekarang dijadikan sebagai lumbung padi, dibuatkan kebijakan bahwa daerah Kerawang tidak lagi diperbolehkan untuk perumahan. Kalimantan difokuskan untuk pelestarian hutan.

Kalau sudah bisa seperti ini maka harkat petani menjadi naik. Petani dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak lagi harus menjual lahan sawahnya. Dan petani pun menjadi bangga dengan profesinya.

Jadi sudah saatnya Indonesia memulai untuk membangun ketahanan ekonominya dan ketahanan budayanya.

INTISARI DISKUSI INTERNAL IKAFENAS: Pemerintah Harus Mulai Melakukan ‘Mapping’ Terhadap Kondisi Perekonomian Di Setiap Daerahnya

Penulis : Rusman (Peneliti Global Future Institute)
Imbas dengan adanya globalisasi sudah sangat dirasakan, diantarnya semakin sulitnya dijumpai makanan-makanan lokal diberbagai tempat. Yang sering kali dijumpai adalah seperti KFC, Hoka-hoka Bento, dan yang sejenisnya. Di Jakarta saja dengan jumlah mall sebanyak 170 buah lebih tetapi mayoritas produk yang ada adalah produk luar negeri, misalnya saja jeruk lokal kalah bersaing dengan jeruk impor. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, terutama pemerintah daerah belum berjalan untuk mendukung produk lokal.

Sebagai bangsa, sampai hari ini kita dalam tantangan yang semakin hari semakin kompleks, dimana pengusaha pribumi kurang diberikan kesempatan dalam dunia usaha. Misalnya seseorang yang kesulitan untuk melakukan usaha kembali akibat penggusuran lokasi usaha yang dianggap melanggar aturan oleh pemerintah daerah. Dimana semestinya pihak pemda dapat lebih mengayomi usaha-usaha kecil seperti ini. Padahal perekonomian kita saat ini dapat tetap berjalan karena keterlibatan para pengusaha UKM, yang saat ini belum juga mendapatkan perhatian penuh dari pihak pemerintah, terutama pemda. Dalam kondisi seperti ini harusnya dibentuk sistem ‘ayah angkat’ bagi para pelaku UKM.

Pada saat kondisi seperti ini seharusnya ada semacam sikap atau kebijakan, katakanlah digulirkannya ungkapan ‘revolusi ekonomi’. Seperti misalnya, hutang luar negeri itu harus diperkecil dan kemudian mengandalkan atau berorientasi sumber daya-sumber daya potensi-potensi lokal. Misalnya saja dari sisi pertanian, kalau saja kita masih mau concern terhadap masalah pertanian ini mungkin kita tidak akan melakukan import beras dari Vietnam. Dimana hal ini adalah akibat dari terbenturnya kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung. Seharusnya di beberapa daerah yang dikhususkan sebagai daerah penghasil beras malah dijadikan sebagai daerah untuk perumahan atau bahkan dibangun mall-mall.

Kemudian, Indonesia yang juga dikenal sebagai negeri maritim dengan memiliki kandungan ikan yang sangat banyak namun kita tidak mengelolanya dengan serius. Mulai dari tidak adanya upaya peningkatan teknologi penangkapan ikan, jaminan keamanan di perairan laut, dan adanya oknum-oknum yang melakukan jual beli ikan secara ilegal.

Untuk itu kita harus kembali kepada mempersiapkan pondasi perekonomian yang sangat kuat. Dimana salah satunya dengan kembali mengangkap konsep koperasi. Namun konsep koperasi dengan manajemen yang baik dan keberpihakan kepada petani, masyarakat kecil dan para pengiat UKM. Karena memang mereka memiliki peran yang sangat luar biasa terhadap siklus perekonomian bangsa.

Seandainya pemerintah memang mempunyai keinginan yang kuat untuk melakukan nasionalisasi maka hal tersebut sebenarnya dapat dilakukan. Bisa kita lihat sudah berapa lama perusahaan-perusahaan pertambangan yang beroperasi di Indonesia namun berapa besar manfaat yang diterima oleh masyarakat di sekitarnya. Bahkan yang terjadi malah adanya kerusakan-kerusakan alam.

Sebenarnya dalam konteks globalisasi, bukannya kita mempertentangkan menerima atau menolaknya, tetapi bagaimana cara kita menyikapinya sehingga kita mampu mempersiapkan langkah-langkah antisipasi terhadap globalisasi tersebut dan mampu untuk bersaing dalam dunia internasional.

Pemerintah menganggap dengan banyaknya kehadiran mall-mall merupakan ukuran keberhasilan pembangunan. Padahal begitu besar dampak negatif yang diakibatkan. Tumbuhnya budaya konsumtif dengan menghalalkan segala cara. Tersingkirnya pasar-pasar tradisional. Belum lagi dengan terlibasnya produk-produk dalam negeri oleh produk-produk impor.
Padahal pemerintah memiliki kekuasaan untuk melakukan perubahan tersebut, hanya saja hal tersebut tidak dilakukan. Oleh karena itu sudah saatnya terjadi ‘revolusi’ moral pada seluruh tatanan birokrat di Indonesia terkait mudahnya pemberian ijin tanpa mengindahkan dampak dari ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan setempat.

Kini sudah saatnya pemerintah melaksanakan pembangunan yang berbasiskan kepada potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia. Pemerintah harus mulai melakukan ‘mapping’ terhadap kondisi perekonomian di setiap daerahnya. Potensi apa yang dimiliki oleh masing-masing daerah harus sudah mulai digali dan diberdayakan.

Minggu, 06 Maret 2011

Membentuk Kekuatan Baru Selain PBB Diperlukan Guna Menekan Israel

Penulis : Tim Global Future Institute

Membentuk kekuatan baru selain Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza, rupanya diperlukan. Demikian pendapat dari pembaca laman theglobal-review.com atas polling yang diselenggarakan selama kurun waktu 4 bulan.

Dari 781 total responden, sebanyak 624 responden memilih sikap Sangat Perlu untuk membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza. Sebanyak 74 responden menyatakan Perlu, 72 reposden menyatakan Tidak Perlu dan 11 responden menyatakan Tidak Tahu.

Munculnya ide atas tema yang digulirkan oleh Global Future Institute (GFI) tidak terlepas dari perkembangan konflik antara Palestina dan Israel yang tak kunjung berakhir.

Sementara, dalam acara diskusi terbatas yang dilaksanakan Global Future Institute diakhir tutup tahun, para peserta diskusi menilai PBB menjadi lembaga yang mandul dalam menyelesaikan konflik antara Palestina dan Israel. Peserta diskusi menganggap PBB jelas-jelas memihak negara Israel.

Perkembangan perjalanan konflik antara Israel dan Palestina ini memunculkan simpati dunia internasional. Tak kecuali para aktivis perdamaian Internasional dengan berusaha mengirimkan sukarelawan ke Gaza melalui jalur laut dengan sebuah kapal Turki bernama Mavi Marmara.

Namun, apa yang dilakukan para aktivis ini malah mendapat serangan mematikan dari pasukan tentara Israel. Korban pun berjatuhan dan bantuanpun gagal sampai ke Gaza.

Berdasarkan catatan GFI, setelah penyerbuan dramatis pasukan Israel yang menewaskan sembilan aktivis Turki rupanya tidak menyurutkan simpati terhadap penderitaan bangsa Palestina. Berbagai gelombang simpati terus berdatangan untuk mendukung bangsa Palestina. Usaha bantuan untuk menembus Gaza terus dilakukan, walaupun terlalu sulit menembus wilayah tersebut guna menyampaikan bantuan kemanusiaan bagi warga di Gaza.

Seperti diketahui konflik Palestina masih menjadi perhatian dunia hingga kini. Berbagai forum internasional kerap dilakukan, namun konflik terus saja terjadi. Israel masih terus melancarkan serangan dan teror ke Jalur Gaza. Korban di pihak Palestina terus berjatuhan.

Melihat hal ini PBB terkesan hanya diam saja. Sekali-kali PBB melalui Sekjennya tampil dengan bahasa diplomasi retorika yang tidak berguna.

PBB sebenarnya memiliki andil besar sebagai "mediator" yang handal dalam penyelesaian konflik termasuk di Palestina ini.

Dalam sejarahnya, penyelesaian konflik Palestina dan Israel (simak tulisan "Tabel Sejarah Palestina" yang disajikan Dina Y. Sulaeman) PBB justru lebih menganak-emaskan Israel.

Sampai di pengujung 2010, dukungan terhadap Palestina terus mengalir. Sayangnya, dukungan itu datang sendiri-sendiri baik itu dari kepala negara maupun LSM Internasional.

Agaknya perlu ada satu solidaritas yang kokoh diantara negara-negara dalam memperjuangkan nasib bangsa Palestina menjadi negara yang bebas dari penjajahan Israel. Kekuatan Baru yang dimaksud tentu saja menjadi kekuatan riil dalam membebaskan bangsa Palestina dari penjajahan Zionis Israel. Semoga saja. (GFI)

Selasa, 01 Maret 2011

Menilik Potensi Tuna Indonesia

Oleh Taufik Ridwan
Perairan Indonesia yang terletak di "The Coral Triangle", perairan yang membentang dari Laut Andaman (Nanggroe Aceh Darussalam) hingga Laut Aru dan Perairan Papua (Samudera Pasifik), adalah salah satu wilayah penghasil ikan terbesar di dunia.

Organisasi pecinta lingkungan dan binatang, "World Wide Fund" (WWF) mencatat panjang lurus wilayah dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua) mencapai 5.300 kilometer dengan luas perairan 3,1 juta kilometer persegi dan panjang garis pantai sekitar 81.000 kilometer.

Salah satu potensi ikan laut yang menjadi andalan di Indonesia, yakni Tuna (thynnos) yang hidup di laut dalam khususnya di Perairan Indonesia bagian Timur meliputi Laut Makassar, Laut Banda, Laut Maluku, Laut Sulawesi, Laut Arafuru dan Laut Papua.

Ketua Komisi Tuna Indonesia, Purwito Martosubroto di Bitung, Sulawesi Utara, Jumat (25/2), mengatakan potensi produksi tuna di Indonesia hampir mencapai 1,2 juta ton per tahunnya dan nilai ekspor lebih dari 3,5 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2009.

"Memang Indonesia menjadi salah satu kekuatan produsen ikan tuna terbesar di dunia dengan nilai produksi yang menunjukkan peningkatan setiap tahunnya," kata Purwito.

Ahli kelautan itu, menyebutkan produksi tuna di Indonesia pada tahun 2005 dan 2006 sekitar 900.000 ton, memasuki 2007 hingga 2009 terjadi lonjakan kenaikan dengan rata-rata mencapai 1,1 juta ton per tahunnya.

Indonesia juga memperlihatkan potensi ekspor tuna yang menjanjikan pada tahun 2005 dengan menembus angka 2,5 miliar Dolar AS, 2006 (2,6 miliar Dolar AS), 2007 (3,1 miliar Dolar AS), 2008 (3,4 miliar Dolar AS) dan 2009 (3,6 miliar Dolar AS).

Potensi perikanan di Indonesia terdiri dari 11 Wilayah Potensi Perikanan (WPP), yakni Luat Andaman (Selat Malaka), Laut Sumatera bagian Barat, Laut Jawa bagian Selatan, Laut Jawa, Selat Karimata, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Halmahera, Laut Sulawesi, Laut Papua dan Laut Aru.

Sedangkan potensi tuna tersebar pada lokasi perairan Indonesia bagian Timur yang terbagi dua WPP, yakni Laut Halmahera dan Laut Banda.

Purwito mengatakan faktor penyebab Indonesia bagian Timur memiliki kekuatan potensi tuna yang tinggi karena adanya pertemuan arus di sekitar Samudera Pasifik sehingga aliran dan sanitasi air besar.

"Saluran air dan sanitasi yang tinggi menjadi tempat perkembangbiakan ikan tuna," ujar Purwito.

Meskipun perairan Indonesia bagian Timur menjadi tempat berkembang biak tuna, namun Purwito menegaskan Indonesia tidak bisa mengklaim tuna merupakan ikan yang berasal Indonesia karena ikan laut itu, hidup secara migrasi (pindah-pindah) di sekitar Samudera Pasifik dan Laut China Selatan yang meliputi negara Malaysia, Thailand, Filipina, Timor Leste dan Papua Nugini.

Selain diuntungkan faktor alam, peningkatan produksi ikan dan nilai ekspor tuna dipengaruhi semakin banyaknya jumlah kapal penangkap ikan dalam maupun luar negeri yang beroperasi di perairan Indonesia.

Data Kementerian Perikanan dan Kelautan menunjukkan jumlah perusahaan perikanan tangkap domestik pada 2010 mencapai 2.741 dengan jumlah kapal tangkap mencapai 5.417 armada.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung, Hengkie R.F. Wowor menyebutkan pihaknya mendukung upaya pemerintah Indonesia guna meningkatkan produksi tuna yang menjadi salah satu andalan komoditi perikanan domestik.

"Kota Bitung mentargetkan sebagai penghasil tuna terbesar di Indonesia pada 2016," ujar Hengkie seraya menambahkan mayoritas potensi ikan terbanyak di Bitung sejenis cakalang, tuna dan layang.

Kota Bitung yang menjadi salah satu pusat penghasil komoditi perikanan di Indonesia, mengandalkan penangkapan ikan di perairan Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Halmahera, Teluk Berau, Laut Sulawesidan Laut Halmahera bagian Utara dengan memiliki luas laut sekitar 714 kilometer persegi, garis pantai sepanjang 143,2 kilometer, serta 13 pulau besar maupun kecil.

Hengkie menyebutkan potensi kelestarian sumber daya ikan Kota Bitung mencapai 1.884.900 ton per tahun dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebanyak 1.491.000 ton per tahun, sedangkan produksi ikan pada tahun 2008 sekitar 142.435 ton, 2009 (145.129 ton), serta 2010 (147.091 ton).

Pemerintah Kota Bitung mencatat realisasi ekspor perikanan sekitar 37.633,86 ton dengan senilai 88,5 juta Dolar AS, 26.634.23 ton/82,1 juta Dolar AS (2009) dan 28.451,20 ton/66,2 juta Dolar AS dengan sasaran tujuan ekspor, yakni Jepang, AS dan negara Timur Tengah.

Kendala

Pelaku bisnis perikanan maupun pemerintah pusat hingga daerah mengaku menemukan sejumlah kendala dan tantangan untuk meningkatkan produksi dan kegiatan ekspor ikan laut di Indonesia.

Purwito menyebutkan persoalan yang dihadapi untuk meningkatkan produksi ikan, antara lain sarana dan prasarana jalan belum memadai termasuk infrastruktur pelabuhan dan pusat pendaratan ikan, sumber daya listrik dan bahan bakar minyak yang terbatas, fasilitas transport darat, udara, serta laut tidak menunjang sehingga biaya transport tinggi, adanya kegiatan penangkapan ikan ilegal dan penjualan ikan antarkapal dan pengelolaan perikanan belum mapan, seperti pendataan (logbook) dan pengendalaian penangkapan.

Sedangkan Pemerintah Kota Bitung menganalisa persoalan yang dihadapi untuk meningkatkan potensi perikanan, yaitu regulasi penjualan ikan termasuk kelengkapan dokumen, penurunan produktivitas, keterbatasan alat tangkap dan modal usaha, minim kelembagaan/organisasi nelayan, serta degradasi sumber daya ikan.

Purwito menyebutkan solusi mengatasi kendala itu harus ada kerjasama antara pemerintah dengan pelaku usaha perikanan sebagai mitra kerja yang sinergis, jalinan antarpemerintah daerah di kawasan Indonesia Timur dengan tujuan mengoptimalkan sumber daya ikan, pemerintah pusat perlu membangun infrastruktur produksi perikanan tuna.

Selain itu, pemerintah pusat juga harus menyediakan insentif bagi pengusaha yang ingin membangun perikanan tuna di Indonesia Timur, serta upaya pengendalian produksi mulai dari perbaikan database penangkapan (logbook) dan pengawasan.

Hengkie menambahkan upaya untuk mengatasi permasalahan peningkatan kegiatan produksi ikan dapat melalui penegakan aturan, selektivitas alat tangkap, modifikasi armada penangkapan ikan, pendalaman metode penangkapan ikan yang tepat, revitalisasi dan efisiensi penangkapan ikan, pembatasan kapasitas penangkapan, sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan aturan, optimalisasi fungsi prasarana perikanan tangkap dan penguatan kelembagaan (koperasi) khusus pengusaha ikan maupun nelayan.

Berkelanjutan

Sementara itu, aktivis WWF Indonesia, Ahmad Hafidz Adyas menegaskan persoalan bisnis perikanan tidak hanya berkaitan dengan upaya peningkatan produksi saja, namun pemerintah maupun pelaku usaha harus mengidentifikasi kelanjutan dari populasi jenis ikan yang ditangkap.

"Kita harus mewujudkan bisnis perikanan yang berkelanjutan dan bertanggungjawab dengan menjaga persediaan populasi jenis ikan yang ditangkap," kata aktivis lingkungan itu.

Hafidz menekankan agar pemerintah maupun pengusaha memperhatikan jenis ikan yang dibisniskan agar tidak punah keberadaannya dengan cara menyeleksi kualitas dan kuantitas hasil tangkapan.

Hafidz mengatakan pemerintah harus menegakkan segala aturan terhadap pelaku bisnis yang memperdagangkan ikan yang nyaris punah, termasuk mengawasi cara dan penggunaan alat tangkap yang merusak jaringan makan ikan.

WWF sebagai organisasi dunia yang peduli terhadap lingkungan dan binatang, berupaya mengembangkan cara agar kegiatan produksi ikan tidak berdampak terhadap kepunahan populasi maupun habitat ikan.

Salah satu solusi menghindari kepunahan populasi tuna dengan cara inovasi kail tangkapan ikan berbentuk "circlehook" (c-hook) sehingga nelayan tidak menggunakan kail "J-hook" pada alat tangkap dengan tujuan agar lebih selektif menangkap ikan.

"Penggunaan C-hook untuk menghindari tangkapan ikan yang masih kecil," ujar Hafidz.

Kail C-hook juga dapat menghindari hewan yang bukan menjadi sasaran tangkapan (by-catch), seperti penyu, paus, hiu, burung, dan jenis ikan yang dilindungi agar tidak terjadi kepunahan.

WWF telah melakukan penelitian penggunaan kail C-hook pada alat tangkap konvensional menggunakan tangan (handline) sejak tahun 2006 dengan hasil dengan kualitas maupun kuantitas tangkapan yang lebih optimal dibanding kail J-hook pada alat tangkap rawai atau tali panjang menggunakan pelampung (longline).

Sumber: ANTARA

Waspadai Leptopirosis Pada Musim Hujan

Oleh Nusarina Yuliastuti
Musim hujan selain membawa dampak banjir dan longsor juga meningkatkan potensi penyebaran sejumlah penyakit seperti leptospirosis.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia sehingga penyakit itu masuk kategori zoonosis. Bakteri leptospira dapat hidup di air tawar selama lebih kurang satu bulan. Tetapi dalam air laut, selokan dan air kemih yang tidak diencerkan bakteri itu akan cepat mati.

Sebenarnya bukan penyakit musiman, tetapi pada musim hujan penyakit leptospirosis lebih mudah menyebar karena banyak genangan air atau tanah becek yang mungkin telah tercemar oleh urine tikus atau hewan lain pembawa penyakit itu.

Meskipun penyakit ini mudah diobati jika terdiagnosa pada stadium dini, penyakit juga dapat mengakibatkan kematian, sehingga perlu diwaspadai.

Serangan leptospirosis terjadi di seluruh dunia, tetapi lebih sering dijumpai di wilayah tropis. Meski demikian sekitar 100-200 kasus leptospirosis dilaporkan terjadi di Amerika Serikat setiap tahun, dengan 50 persen di antaranya terjadi di Hawai.

Pada 2009, topan yang melanda Filipina menyebabkan serangan leptospirosis merebak. Departemen Kesehatan Filipina melaporkan terjadi 1.887 kasus leptospirosis, yang mengakibatkan 138 orang meninggal dunia.

Banjir besar di Jakarta pada 2002 juga mengakibatkan 113 orang terserang leptospirosis, dan 20 orang di antaranya meninggal dunia.

Di Kota Yogyakarta, penyakit leptospirosis telah merenggut dua nyawa selama dua bulan pertama 2011, satu orang meninggal pada Januari dan satu orang lagi pada Februari.

Menurut Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kota Yogyakarta dr Fita Yulia, untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta terus melakukan sosialisasi dan peningkatan pengetahun bagi tenaga medis di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).

"Hindari kontak langsung dengan tikus. Biasakan hidup sehat dan jika mengalami gejala yang mengindikasikan terserang penyakit itu, segera ke dokter," katanya.

Penyakit leptosiprosis ditularkan oleh hewan seperti tikus, babi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, serangga, burung, kelelawar, tupai dan landak. Sedangkan penularan langsung dari manusia ke manusia jarang terjadi.

Manusia terinfeksi bakteri leptospira melalui kontak dengan air, tanah, atau tanaman yang dikotori oleh air seni hewan yang menderita leptospirosis. Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang terkontaminasi oleh urine hewan terinfeksi leptospira. Masa inkubasi penyakit ini adalah 4 - 19 hari.

Pada awalnya gejala serangan penyakit ini mirip dengan penyakit lain seperti influenza atau demam berdarah dengue, yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah dan mata merah, sehingga menyulitkan diagnosa. Kadang ada penderita yang terserang penyakit leptospirosis tanpa menunjukkan gejala tersebut.

Pada stadium lanjut, penyakit itu dapat menyebabkan gagal ginjal, sakit kuning, gagal jantung, sesak nafas, meningitis, dan perdarahan di paru-paru.

Penyakit ini juga dapat menunjukkan gejala mirip kelelahan selama berbulan-bulan, sering sakit kepala, atau bengkak mata menahun.

Jika terserang penyakit ini, dokter akan memberikan antibiotika mengingat bakteri leptospira mudah mati dengan antibiotika seperti penisilin, amoksilin, streptomisin, tetrasiklin, atau eritomisin. Pengobatan dengan antibiotika akan efektif jika dilakukan pada stadium dini.

Mengingat serangan penyakit ini dapat berakibat fatal, apalagi bila terjadi komplikasi, akan lebih baik jika melakukan upaya pencegahan.

Untuk menghindari penularan penyakit ini, biasakan berperilaku hidup sehat dan bersih, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lain dengan sabun setelah bekerja seperti di sawah, kebun, sampah, tanah, selokan atau tempat tercemar lain.

Menggunakan alas kaki yang memadai serta sarung tangan saat berkebuh, membersihkan tempat air dan kolam renang secara rutin, menghindari tikus di dalam rumah/gedung, menyemprotkan desinfektan ke tempat yang tercemar tikus, dan meningkatkan penangkapan tikus.

Selain itu, jika mengalami luka atau lecet, tutuplah dengan pembalut kedap air. Pakai sarung tangan jika menangani binatang kemudian segera mandi setelah selesai, dan jika memelihara binatang, ikuti anjuran dokter hewan saat memerikan vaksin pada hewan tersebut. Sumber: Antara

Minggu, 28 November 2010

Awas Bromo: Asap Terus Menyembur, Radius 3 km Aman

Politikindonesia - Pengamatan visual aktivitas Gunung Bromo, Jawa Timur menunjukkan, sampai Sabtu (27/11) pukul 20.00 WIB asap kelabu hitam masih menyembur secara terus menerus dari kawah Bromo. Meski begitu, radius 3 kilometer dari kawah masih dinyatakan aman.

Demikian laporan yang diterima politikindonesia.com, dari Anwar, Rusman dan Rieke, Tim Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana yang memantau disekitar kawasan Bromo. Selain itu, asap yang bercampur debu vulkanik membubung hingga ketinggian 600 hingga 700 meter. Asap tersebut meluncur ke arah Barat dan Barat Daya, kabupaten Malang.

Sementara kegempaan yang terjadi, dari pukul 12.00 - 18.00 WIB ada 11 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo maksimum 20-40 mm dengan durasi 10-15 detik. Untuk tremor terus menerus dengan a,plitudo 7-26 mm.

Terhitung tanggal 13-27 November, pengukuran deformasi tiltmeter, komponen radial menunjukkan masih terjadi penggelembungan tubuh Gunung Bromo sebesar 12 mikroradian.

Letusan kecil akibat aktivitas Gunung Bromo terus terjadi hingga malam ini. Namun, letusan yang memicu keluarnya abu vulkanik halus itu dinilai belum membahayakan.

Sementara petugas pemantau di Pos Pantau Gunung Bromo, Desa Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, Achmad Subhan mengatakan, radius 3 kilometer dari kawah Bromo, masih aman.

Dijelaskan Achmad, letusan Bromo terus terjadi sejak pagi tadi pukul 05.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Akibat letusan itu, abu vulkanik halus yang diluncurkan bergerak ke arah barat dan barat daya ke Kabupaten Malang dan Pasuruan. Sementara itu, gempa tremor juga masih terus terjadi.

Camat Poncokusumo, Dwi Ilham mengatakan, sejauh ini abu vulkanik akibat letusan kecil Gunung Bromo belum berdampak pada aktivitas warga di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Di desa yang hanya berjarak sekitar delapan kilometer dari Gunung Bromo itu juga belum terlihat adanya abu vulkanik. Desa Ngadas adalah wilayah yang paling dekat dengan Gunung Bromo.
(aan/yk)

Rabu, 24 November 2010

Taman Nasional Kerinci Sebelat

Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) adalah Kawasan pelestarian alam yang kaya akan keanekaragaman hayati dan fenomena alam yang khas. Di dalam kawasan ini mempunyai ciri keindahan alam yang dapat dikembangakan sebagai tempat wisata, penelitian dan ilmu pengetahuan lainnya.

TNSK merupakan Asset Nasional dan bahkan International yang memiliki nilai sangat strategis untuk kelangsungan pelestarian keaneka ragaman hayati. TNKS mempunyai luas 1.484.650 ha dan mempunyai 4000 macam flora, 37 jenis mamalia,139 jenis burung, 10 jenis reptil, 6 jenis amphibi, 6 jenis primata. Disamping itu juga terdapat hewan aneh yang disebut oleh penduduk Orang Pendek

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)

Kawasan Taman nasional Kerinci Seblat mempunyai luas areal 1.484.650 Ha, terbentang di 4 wilayah propinsi yaitu : Sumatra Barat, Sumatra Selatan, bengkulu dan Jambi. 40% dari kawasan TNKS berada di wilayah Propinsi jambi, Kabupaten kerinci dan Kabupaten Sarko. Sedangakan pusat kawasan TNKS terletak di Kabupaten Kerinci.

Daerah Tk. II Kerinci dengan ibukotanya Sungai penuh terletak pada bagian barat Propinsi Jambi dengan Jarak + 491 km dari kota Jambi dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat. Daerah ini merupakan dataran tinggi yang terletak padav ketinggian 600-3.500 meter DPL. pada kawasan ini terdapat gunung yang tertinggi di Pulau Sumatra yang bernama Gunung Kerinci serta danau Gunung Tujuh yang merupakan Danau Air tawar tertinggi di Asia tenggara. Jenis flora yang ada dikawasan tersebut + 4.000 macam dan didominasi oleh famili Dipterocar, Leguminase, Lauracere dan Ericarare.

Jenis fauna yang terdapat dikawasan TNKS terdiir dari 30 jenis mamlia, 139 jenis burung, 10 jenis reftil, 6 jenis amphibi dan 6 jenis primata. Sedangkan satwa langka yang terdapat dikawasan tersebut adalah Badak, Gajah, Tapir, Harimau Sumatra, macan Akar, Siamang, Ungko dan simpai.

Menurut penduduk, dalam kawasan TNKS terdapat mahluk hidip yang sampai sekarang masih menjadi misteri, apkah tergolong hewan atau manusia. Karena menurut penduduk setempat mahluk tersebut diberi nama Orang Pendek. Dan Sigung sebagai penguasa Hutan mempunyai ciri pemalu, berjalan dengan tumit menghadap kedepan tidak berekor dan berbadan kekar.

TNKS sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi dan dimanpaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan ,pendidikan, menunjang kebudayaan, rekreasi dan pariwisata. Sedangkan fungsinya adalah sebagai perbandingan sistem penyangga kehidupan, pengawasan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanpaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Pada saat ini kantor TNKS di sungai penuh hanya dapat dicapai melalui jalan darat dari Padang, Jambi Bengkulu dan palembang. Dari kota-kota tersebut Sungai penuh dapat dicapai lewat jalan utama sebagai berikut:

* Dari Padanag terdapat dua jalan alternatif yaitu menyusuri pantai barat sampai kedaerah Bukit Tapan, kemudian menuju ketimir melalui jalan umum didalam kawasan menuju Sungai Penuh, dari arah barat yang dapat ditempuh selama 7 - 8 jam. Alternatif kedua jalan Alahan Panjang - Muara Labuh Memintas kawasan pada daerah letter W diselatan Lubuk Gadang dan memasuki lembah Kerinci dari utara yang dapat ditempuh selama 6 - 7 jam.
* Dari jambi hanya ada satu jalan alternatif yaitu melalui Muara Bulian, Sarolangun bangko dan menyusuri jalan di lereng-lereng bukit sampai Muara Empat dan memasuk9I lembah Kerinci dari arah Timur. Jalur ini dapat ditempuh selama 8 - 9 jam.
* Dari bengkulu terdapat dua jalan alternatif yaitu melalui jalan Pantai Barat menuju Muko-muko dan Bukit tapan, kemudian memasuki lembah Kerinci dari arah barat yang dapat ditempuh selama 9 - 10 jam. Jalan lainnya adalah kearah timur melalui Lubuk Linggau dan jaln lintas Sumatra bangko, kemudian memasuki lembah Kerinci lewat Muara Imat. Jalan alternatyif ini dapat ditempuh selama 11 - 12 jam

Dari Palembang terdapat dua jalan alternatif. Alternatif pertama adalah melalui Lubuk Linggau kemudian Sarolangun Bangko yang dapat ditempuh selama 12 - 13 jam. Alternatif kedua adalah melalui jalan Palembang - Jambi kemudian lansung ke Muara Bulian melalui Tempino selanjutnya menuju Sarolangun Bangko yang dapat ditempuh selama 11 - 12 jam.

Dibeberapa lokais, perbatasan kawasan dapat dicapai melalui jalan dengan kondisi beragam bahkan seringkali melintasi sungai yang hanya dapat dilalui dengan kendaraan bergardan ganda atau sepeda motor. Beberapa jalan tersebut adalah:

* Curup -Muara Aman-Kelenong, dapat ditempuh selama 3 jam.
* Di Lubuk Linggau melalui beberapa jalan kecil menuju kawasan dapat ditempuh selama 10 - 15 menit.
* Sarolangun - Pulau Kidak dengan kendaraan selama 1 jam dan selanjutnya dengan perahu Ke Napal Licin yang dapat ditempuh selama 2 - 3 jam.
* Jalan Bangko-Dusun Tuo-Muara Manderas-Sungai Lalang dapat ditempuh dengan kendaraan umum selama 3 jam.

Jumat, 05 November 2010

Tips Keluarga Bahagia

Sumber: www.AnneAhira.com

Keluarga kaya, banyak. Keluarga terpandang, juga banyak. Belum lagi keluarga-keluarga lainnya yang dilabeli harmonis, berpendidikan, dan berencana. Namun, berapa banyakkah keluarga yang bahagia?


Sepertinya, kian hari keluarga bahagia makin sedikit. Kok bisa?


Banyak kasus pembunuhan, pertengkaran, dan persidangan yang melibatkan keluarga sendiri terjadi di sekitar kita. Anak membunuh ibu, ibu membunuh anak-anaknya, suami membakar istrinya, istri memutilasi suaminya, dan sebagainya.


Dunia ini terasa kacau dan tidak indah lagi dilihat. Bahkan, mungkin jadi tidak indah lagi untuk ditempati sehingga banyak orang memutuskan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Naudzubillahi min dzaalik.


Saat ditanyakan penyebab semua kekacauan itu, muncullah pasal-pasal yang tidak bisa diterima nalar. Hanya gara-gara menangis terus, sang ayah tega membanting buah hatinya yang masih batita. Hanya gara-gara uang seribu rupiah, tukang parkir rela menghabisi temannya sesama tukang parkir. Gejala apakah ini?


Kalau kita telusuri, semuanya berawal dari rumah, dari keluarga, entah itu keluarga kaya atau keluarga miskin. Yang jelas, mereka tidak merasakan kebahagiaan di dalam keluarga.


Tidak ada senyum di tengah-tengah kebersamaan mereka. Tidak ada kehangatan yang menyelimuti kekakuan hubungan di antara mereka. Ke manakah mereka harus mencari kebahagiaan itu? Seperti apakah gambaran kebahagiaan yang seharusnya mereka rasakan bersama keluarga?


Siapa pun berhak bahagia. Seorang ibu berhak bahagia, demikian juga seorang bapak. Keduanya jadi sumber kebahagiaan anak-anak mereka. Kebahagiaan dimulai dari dalam rumah, dari keluarga. Lalu, seperti apakah keluarga bahagia itu?


Berikut ini dapat dikatakan sebagai tips keluarga bahagia.


Keluarga Bahagia, Keluarga Ahli Syukur


Hanya Allah-lah sumber kebaikan dan kebahagiaan. Maka, pujilah Dia dengan penuh rasa syukur atas kebaikan yang kita terima. Sesungguhnya, Allah tidak memerlukan pujian dari kita karena dengan dzat-Nya Dia Maha Terpuji. Jika kita bersyukur, itu hanya untuk kebaikan kita sendiri.


Manusia telah dianugerahi pendengaran, pelihatan, dan hati. Sayangnya, hanya sedikit dari mereka yang bersyukur. Bersyukur di sini adalah mengoptimalkan anugerah yang telah diterima sehingga dengan potensi yang ada setiap orang memiliki modal sama untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak.


Jika yang terjadi adalah sebaliknya, berarti kita belum menjadi ahli syukur.


Keluarga Bahagia, Keluarga Ahli Sabar


Orang yang bahagia adalah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang senantiasa bersabar ketika dihadapkan pada ujian dan cobaan. Sesungguhnya, bersabar itu tidak ada batasnya. Hanya manusia sendiri yang membatasi kemampuannya untuk bersabar.


Bersabar memang bukan pekerjaan mudah, namun hal itu tidak mustahil untuk dilakukan.


Keluarga Bahagia, Keluarga Qanaah


Qanaah artinya merasa cukup dan merasa puas atas segala yang sudah didapatkan. Seseorang yang memiliki sifat ini akan selalu merasa cukup, tidak kekurangan. Namun, tidak berarti ia termasuk orang yang tidak memiliki mimpi, cita-cita, dan semangat untuk meraih sesuatu yang baru. Bukan itu.


Ia sama halnya dengan orang kebanyakan, memiliki sesuatu yang ingin dicapai. Namun, ia memilikikelebihan dalam hal menerima apa yang sudah ia dapatkan. Dengan demikian, insya Allah ia akan terhindar dari ambisi mengambil sesuatu yang bukan haknya.


Keluarga Bahagia, Keluarga Ahli Taat


Sesungguhnya, kebahagiaan yang paling bahagia adalah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah. Oleh sebab itu, biasakanlah kita berdoa agar dikelompokkan ke dalam golongan orang-orang yang selalu ada dalam ketaatan kepada Allah.


Keluarga yang senantiasa menjalankan irama kehidupannya dalam ketaatan kepada Allah insya Allah ia akan senantiasa mendapatkan pertolongan Allah untuk semua ujian yang dihadapinya.


Keluarga Bahagia, Keluarga Ahli Nasihat-Menasihati


Orang yang ingin selalu mendapatkan keberuntungan dalam keluarganya akan sangat berjuang untuk memegang teguh keimanannya, melakukan kebaikan-kebaikan, dan saling menasihati dalam kebaikan dengan penuh kesabaran.


Memberikan nasihat tidak hanya berlaku bagi seorang suami kepada istri, orang tua kepada anak-anaknya, ataupun orang tua kepada anak muda.


Nasihat bisa dilakukan sebaliknya, dari istri kepada suami, anak-anak kepada orang tua, dan anak muda kepada orang tua. Dalam hal ini, diperlukan kelapangan hati untuk menerima nasihat dari siapa pun jika hal itu benar adanya.


Selain itu, diperlukan ilmu agar nasihat yang disampaikan menjadi berdaya, bukan asal bunyi yang akhirnya dapat menyakiti.


Itulah lima dari beberapa alat ukur kebahagiaan sebuah keluarga. Semoga yang lima ini dapat dijadikan tips keluarga bahagia Anda.


Memulai kehidupan dengan penuh kasih sayang dan bermuara dalam kebahagiaan sejati, bukan kebahagiaan semu yang dapat menipu mata. Selamat menikmati indahnya hidup ini dengan syukur, sabar, qanaah, taat, dan nasihat.

Jumat, 24 September 2010

Menhut: Penegakan Hukum Di Taman Nasional Bukan Untuk Menekan Masyarakat

Jakarta, 24/9 (SIGAP) – Dalam kunjungan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Riau Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyatakan, perambahan hutan hingga kini masih berlangsung di kawasan Taman Nasional tersebut. Dan menurutnya kondisi ini mengancam keberadaan hutan konservasi di provinsi itu.

Berdasarkan hasil kunjungan pada Kamis (23/9) kemarin, tercatat sekitar 30% atau seluas 28.000 hektare lebih dari luas total 83.000 hektare kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo kini berada dalam kondisi yang rusak akibat dirambah, dan sebagian di antaranya beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

"Saya tadi menemukan kerusakan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo, untuk itu saya meminta bantuan aparat hukum untuk menangkap pelaku perambahan hutan konservasi itu," tegas Zulkifli Hasan, di Kantor Gubernur Riau, di Pekanbaru, Kamis.

Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hulu, merupakan salah satu dari 3 kawasan hutan yang ditinjau menhut beserta rombongan menggunakan helikopter dalam kunjungan kerja sehari di Riau.

Dalam kunjungan kerja sehari yang dirangkaikan dengan peluncuran Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Tasik Besar Serkap terhadap kawasan hutan Semenanjung Kampar, menhut juga menjelaskan bahwa penegakan hukum di taman nasional bukan berarti menekan masyarakat.

Pasalnya, menurut menhut, kerusakan yang terjadi di lahan konservasi itu masih terus terjadi dan Kementerian Kehutanan memiliki personel yang terbatas dalam mengawasi area lahan yang masih menjadi habitat Gajah Sumatra dan perlintasan Harimau Sumatra.

Pada acara yang dihadiri Wakapolda Riau beserta unsur Muspida Provinsi Riau itu, menhut juga berharap dukungan semua pihak terutama jajaran Polda Riau bisa mendukung upaya-upaya penegakkan hukum yang dilakukan secara bersama.

"Jadi sekali lagi pak wakapolda, penegakan hukum yang kita lakukan bukan bermaksud menekan masyarakat setempat. Tetapi jika ada satu atau dua orang yang membakar lahan, maka harus ditangkap dan mohon didukung," jelasnya.

Menhut juga berharap Tesso Nilo harus benar-benar dikembalikan ke peruntukkannya yakni menjadi taman nasional sehingga nantinya bisa dikelola menjadi pariwisata unggulan di Provinsi Riau.

Menhut mengharapkan kedepan Tesso Nilo nantinya bisa mendatangkan uang dari mereka yang melakukan wisata alan dan menjadi kebanggaan serta merubah citra Riau yang selama ini dikenal selalu merusak lingkungan.

Kalangan penggiat lingkungan di Riau, menyambut baik pernyataan menhut tersebut karena dewasa isu-isu kerusakan lingkungan di Taman Nasional Tesso Nilo selalu kalah dengan isu-isu lingkungan lain.

"Kita menyambut positif pernyataan menhut yang segera melakukan penegakkan hukum di Tesso Nilo, semoga dapat direalisasikan sehingga kawasan konservasi memang dapat dilindungi dengan sebaik mungkin," ujar Humas WWF Riau, Syamsidar.

Berdasarkan catatan SIGAP, Taman Nasional Tesso Nilo merupakan salah satu kawasan blok hutan tropis dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatera, dan merupakan habitat bagi hewan-hewan langka yang dilindungi seperti gajah dan harimau.

Penelitian terakhir menyebutkan di kawasan itu juga terdapat 360 jenis flora yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia.

Seperti diketahui bersama kawasan hutan gambut Semenanjung Kampar dan Taman Nasional Tesso Nilo merupakan kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu.

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu (GSK-BB) merupakan satu dari 7 kawasan suaka alam di Indonesia dengan area seluas 178.722 hektare di Kabupaten Bengkalis dan Siak, provinsi Riau.

GSK-BB merupakan suaka alam pertama di dunia yang diprakarsai oleh kemitraan antara pihak swasta dan publik, dan sudah ditetapkan oleh UNESCO untuk masuk jaringan cagar biosfer dunia sejak 26 Mei 2009.

CG-GSK-BB menjadi khas karena Hutan Rawa Gambut yang tiada duanya di dunia ini, agak berbeda kekhasannya dengan Hutan Gambut Semenanjung Kampar (dengan sedikit rawa). Kekhasan lainnya adalah CG-GSK-BB ini diinisiasi oleh pihak swasta yang bekerja sama dengan pemerintah melalui BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam). (rusman/ant)

Sumber:
http://www.sigapbencana-bansos.info/component/content/article/61-kunjungan/4527-menhut-penegakan-hukum-di-taman-nasional-bukan-untuk-menekan-masyarakat.html

Rabu, 14 Juli 2010

Sikap Iran, Cikal Bakal Munculnya Kekuatan Baru Dalam Mendukung Palestina?

Ketika mendapat kabar garda revolusi Republik Islam Iran siap mengawal kapal bantuan ke Gaza, saya langsung menanggapi berita itu dengan sikap biasa-biasa saja. Mengapa? Karena jelas Iran adalah negara yang sejak awal memiliki komitmen guna mewujudkan Palestina Merdeka.

Jujur saja sejak diserangnya kapal Mavi Marmara, kapal aktivis kemanusiaan untuk Gaza oleh militer Israel, saya pribadi berharap ada kekuatan baru dari beberapa negara menyikapi peristiwa ini (baca: Tragedi Mavi Marmara, Awal Perlawanan Masyarakat “Sipil” Dunia Terhadap Sikap Barbar Israel).

Namun dua pekan peristiwa yang menelan 9 orang korban para aktivis kemanusiaan itu berlalu, sikap dari beberapa negara hanya sebatas mengeluarkan kecaman atas peristiwa berdarah itu. Bila ingin jujur, tanpa perlu mengumpulkan bukti-bukti, jelas apa yang dilakukan militer Israel terhadap kapal kemanusiaan Mavi Marmara dan Rachel Corrie melanggar hukum internasional dan Hak Asasi Manusia.

Sementara itu, simak apa yang dilakukan Dewan keamanan PBB termasuk para anggotanya, hanya sibuk berdebat kusir atas tindakan militer Israel ini. Walaupun kabarnya Dewan PBB akan mengeluarkan resolusi menyikapi kasus berdarah ini. Israel pun tidak tinggal diam, para petinggi-petinggi Zionis Israel melakukan ”pembelaan” dengan menolak usulan PBB untuk melakukan penyelidikan internasional atas penyerbuan tersebut.

Simak apa yang yang dilontarkan Duta besar Israel untuk Amerika Serikat, Michael Oren, seperti dikutip "BBC", dengan tegas mengatakan, negaranya menganut sistem demokrasi yang memiliki kapasitas untuk melakukan penyelidikan sendiri.

Pernyataan Oren ini setidaknya mendapat pembenaran dari Menteri keuangan Israel, Yuval Steinitz yang mengatakan banyak sekali blokade di seluruh dunia tetapi tidak ada satu pun yang memicu penyelidikan internasional.


Garda Revolusi Iran, Ancaman Besar Bagi Israel?

Keinginan Iran menyiapkan kekuatan Garda Revolusinya untuk memecah blokade atas Gaza akan terwujud? Dan apakah sikap tegas Teheran ini oleh zionis Israel merupakan ancaman yang besar? Agaknya, perlu analisis mendalam menjawab ini. Pasalnya, Iran sedang dihadapkan oleh tekanan Amerika Serikat terkait dengan program nuklirnya.

Terlepas dari itu semua, tentu saja Amerika Serikat sebagai sekutu besar Israel tidak akan diam menghadapi ancaman Iran ini. Kita tunggu apa sikap Amerika menangapi dukungan keras negeri Bumi Arya ini terhadap pembebasan Gaza. Yang jelas, sikap negeri Paman Sam ini tentu akan mudah ditebak, Amerika akan kembali gencar mengusung isu nuklir Iran kepermukaan.

Yang jelas sampai detik ini Teheran adalah negara yang memiliki nyali besar dibandingkan negara-negara di Timur Tengah, terutama negara yang berdampingan dengan Palestina dalam menyikapi konflik Palestina dan Zionis Israel.

Agaknya, sikap Iran ini patut diikuti oleh negara-negara lain yang menginginkan kemerdekaan bagi bangsa yang terjajah. Berharap negara-negara lainnya, termasuk didalamnya Indonesia juga akan bersedia melakukan hal yang sama seperti Iran. Bila ini terjadi, dapat dipkerkirakan kekuatan baru itu mulai terlihat. Semoga saja! Penulis : Rusman- Direktur Global Future Institute